[News] Arab Saudi Menangkap Ulama karena Berdakwah

Sejumlah aktivis, ulama, dan yang mengkritik rezim Kerajaan Saudi telah ditangkap selama beberapa tahun terakhir. Bahkan, ulama yang sangat dihormati pernah ditahan hanya karena mengomentari urusan kebijakan pemerintah.


MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Arab Saudi menangkap enam ulama yang dianggap mengancam kekuasaan kerajaan. Yang terbaru, kerajaan Saudi mengerahkan 20 intelijen untuk menangkap ulama perempuan Aisha Al Muhajirri di kediamannya karena berdakwah dan mengajar mengaji.

Dikutip dari Middle East Monitor, kabar penangkapan Aisha tersiar dari akun Twitter Prisoners of Conscience. Akun Twitter ini merupakan salah satu yang paling aktif mengabarkan pencidukan ulama-ulama Arab Saudi.

Menurut Prisoners of Conscience, Al Muhajiri ditangkap bersama tokoh masyarakat dan dua wanita lainnya. Bak teroris, muslimah berusia 65 tahun itu diringkus oleh Badan Intelijen Arab Saudi.

Salah satu dari dua perempuan tersebut telah berusia 80 tahun, sementara keluarga menolak untuk mengungkapkan identitasnya,” kata akun Twitter itu.

Namun, ternyata aksi penangkapan tak hanya berhenti sampai di situ. Orang-orang yang mempertanyakan tindakan agen mata-mata itu juga akan diringkus oleh otoritas Kerajaan Arab Saudi, termasuk anak-anak Aisha Al-Muhajiri.

Baca juga:  Sebelumnya Sembunyi-sembunyi, Akhirnya Penguasa Rezim Al-Saud Umumkan Normalisasinya dengan Entitas Yahudi

Kami mengonfirmasi anak dari ustazah Aisha Al-Muhajiri yang diancam dengan penahanan jika menanyakan kondisinya setelah ditangkap,” tulis mereka.

Pihak berwenang dikabarkan menyebut dengan tegas ‘kami akan menciduk siapapun yang menanyakan Aisha Al-Muhajiri’. Aisha Al-Muhajiri dilaporkan akan ditahan di Penjara Dhahban dekat Kota Jeddah, Arab Saudi.

Tanpa pandang bulu, pemerintah Kerajaan Arab Saudi sedang ‘menyapu bersih’ semua penentangnya. Tak peduli seberapa luas pengaruh ulama tersebut, Kerajaan Arab Saudi akan menangkap tokoh-tokoh yang dianggap menjadi penghalang rezim.

Kebanyakan dari mereka sempat melontarkan komentar negatif terhadap kebijakan kerajaan. Selain Al Muhajirri, berikut deretan ulama yang sebelumnya ditangkap otoritas Arab Saudi:

Syekh Abdullah Basar

Ia adalah qari (pembaca Al-Qur’an) yang ditangkap pada Agustus 2020 lalu. Basfar ditahan, namun tidak disebutkan alasan penahanannya.

Sebagian orang menganggap penahanan itu sebagai tindakan keras atas dugaan ekstremisme di kerajaan. Upaya tersebut, sejalan dengan rencana Putra Mahkota Saudi, Mohammed Bin Salman yang akan menghapus identitas agama di Arab Saudi.

Dilansir Middle East Monitor, Basfar merupakan seorang profesor di Departemen Syariah dan Kajian Islam di King Abdul Aziz University di Jeddah. Dia juga mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Kitab dan Sunah Dunia.

Baca juga:  Arab Saudi-AS-Israel, Politik “Cinta Segitiga”?

Syekh Saud Al Funaisan

Al Funaisan juga ditangkap pada bulan Maret 2020. Tak berbeda dengan Basfar, penangkapan Al Funaisan diduga sebagai bagian tindakan ekstremisme di kerajan Saudi. Ia merupakan seorang profesor universitas dan mantan Dekan Fakultas Syariah di Universitas Al Imam di Riyadh.

Saleh Al Tabib

Pada Agustus 2018, Arab Saudi dikabarkan menangkap Saleh Al Tabib lantaran khotbahnya yang dinilai mengkritik kebijakan kerajaan. PoC menyebut Talib menyampaikan ceramah yang menyebut Islam harus melawan godaan-godaan setan dalam lingkup masyarakat, termasuk godaan berkumpul antara kaum laki-laki dan perempuan di tempat publik. Berdasarkan laporan Khaleej Online, dalam khotbahnya, Talib mengkritik kebijakan yang mulai mengizinkan kaum perempuan dan laki-laki berkumpul di acara-acara publik seperti festival musik hingga pertandingan olahraga.

Sulaiman Dweesh

Salah satu cendekiawan terkemuka, Sulaiman Dweesh juga ditangkap setelah mengkritik Pangeran Mohammed. Seminggu sebelum penangkapan Talib, Dweesh dikabarkan tewas akibat disiksa selama berada dalam penahanan otoritas Saudi.

Syekh Salman Al-Awdaa

Awda merupakan salah satu orang yang ditangkap otoritas Saudi dalam penggerebekan terhadap penentang pemerintah, pada September 2017. Kelompok pemerhati HAM, Amnesti Internasional menyatakan Awda ditangkap tak lama setelah mengunggah pendapatnya di Twitter, mendukung laporan yang memuat kemungkinan rekonsiliasi antara Saudi dan Qatar. Sejak Juni 2017, Saudi menutup hubungan diplomatik, ekonomi, dan segala akses yang berhubungan dengan Qatar.

Baca juga:  Narasi Palsu di Balik Normalisasi UEA-"Israel"

Awda sempat dibawa ke rumah sakit setelah hampir lima bulan ditahan di penjara isolasi. Oleh otoritas Saudi, pihak keluarganya tidak diperkenankan berkomunikasi dengan Awda sejak ditahan.

Sejak Putra Mahkota Mohammed Bin Salman berkuasa pada musim panas tahun 2017, pemerintah Saudi telah menangkap ratusan ulama, jurnalis, akademisi, dan aktivis dunia maya karena pandangan mereka yang kritis terhadap pemerintah.

Tindakan kerasnya terhadap cendekiawan muslim yang telah lama menjadi suara utama di Arab Saudi merupakan upaya untuk mengekang pengaruh mereka. Inisiatif kebijakan luar negeri MBS, dan upayanya yang keras untuk memodernisasi Kerajaan telah menjadi sasaran khusus para kritikus.

Bahkan para sarjana asing tidak lolos di bawah tindakan keras itu. Aimidoula Waili dari minoritas Muslim Uighur yang dianiaya di Cina ditangkap oleh otoritas Saudi pada November atas permintaan Pemerintah Cina. Setelah ditahan di Cina beberapa tahun lalu sebelum melarikan diri ke Turki. Waili dilaporkan berisiko dideportasi ke Cina. [MNews/Rgl]

Disarikan dari berbagai sumber.