Milenial kok Ditakut-takuti Radikal-Radikul, Emang Ngaruh?

Oleh: Endiyah Puji Tristanti

MuslimahNews.com, OPINI — Baiklah, Millennials! Generasi Anda memang luar biasa. Nilai strategisnya diakui semua pihak. Sudah saatnya menentukan sikap secara terbuka: Bersama dakwah Islam menegakkan syariat kafah, atau bersikap baperan menghindar dari tuduhan radikalisme ekstremisme yang disematkan kaum sekuler?

Sejumlah media memberitakan, “Ketua MPR Sebut Generasi Z dan Perempuan Rentan Terpapar Radikalisme.” Bambang Soesatyo (16/2/2021) menjabarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2020 bahwa potensi Generasi Z (usia 14-19) terpapar radikalisme mencapai 12,7 persen. Sementara, generasi milenial (usia 20-39) mencapai 12,4 persen.

Berdasarkan jenis kelamin, perempuan terpapar radikalisme mencapai 12,3 persen, sedangkan kaum laki-laki 12,1 persen. Gen-Z dan milenial menjadi sasaran lantaran sangat aktif mengakses internet dan pengguna aktif berbagai platform media sosial.

Apa yang mendorong pejabat publik turut meng-endorse nilai tasamuh (toleran), tawazun (seimbang/harmoni), tawasut (moderat), dan ta’addul (keadilan) yang lahir dari akidah sekularisme untuk menangkal radikalisme dan ekstremisme (Islam)?

Padahal, jualan “radikal-radikul” sudah menjadi rahasia umum kerap dijadikan kambing hitam para koruptor, politisi busuk, dan buzzeRp menutupi dosa-dosa jariyah mereka.

Radikal-radikul Proyek Pecah Belah

Laporan keuangan yang disusun Gerakan Anti-Radikalisme Institut Teknologi Bandung (GAR ITB) bocor ke publik terkait proyek pembusukan Prof. Din Syamsuddin.

Dibuat pada 1/2/2021 memuat daftar pemasukan dan pengeluaran proyek. Pemasukan didapat dari hasil sumbangan individual 71 alumni ITB, donasi komunitas angkatan ITB 1973, dan pendapatan bunga tabungan.

Juru Bicara GAR ITB, Shinta Madesari Hudiarto, ketika dikonfirmasi Republika, (18/2) mengakui laporan keuangan itu dibuat pengurus GAR ITB. Pertanyaannya, mengapa tokoh sekelas Prof. Din yang selama ini menyuarakan “Islam wasathiyah” justru dituding tokoh radikalisme?

Baca juga:  Moderasi Beragama Adalah Sikap Inferior Penggagasnya

Bisa dipahami mengapa MUI menyatakan bahwa pelaporan Mantan Ketum MUI Din Syamsuddin dengan tudingan radikal adalah fitnah keji yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim menyatakan tudingan tersebut bahkan berpotensi memecah belah bangsa dan kemungkinan spirit islamofobia sengaja ditebar.

Rupanya rekomendasi pecah belah ala Rand Corporation yang melakukan klasifikasi terhadap umat Islam, dalam buku berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies karya Cheryl Benard (2003) sangat relevan. Umat Islam dikotak-kotak dan disifati secara suka-suka menjadi kaum fundamentalis, kaum tradisionalis, kaum modernis, dan kaum sekularis. Akibatnya terbentuk sikap saling mencurigai sesama muslim.

Padahal, Allah Swt. berfirman,

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (QS Ali Imran:103)

Potensi Milenial Hijrah Ideologis

Hijrahfest 2019 telah menjadi salah satu momentum. Sebuah brand yang menjadi daya tarik dan pengalaman spesial dalam benak khususnya milenial. Kajian Islam di dalamnya terdiri dari Muslim Expo, Lecture, Talk show, Meet and Greet Hijrah, Festival, sampai ceramah dari para ustaz kondang di tanah air.

Bertajuk Unforgettable Hijrah, Hijrahfest 2019 menghadirkan 30 komunitas muslim, 270 tenant produk muslim, 50 tenant kuliner, dan Nussa Land. Sebelumnya, Hijrahfest 2018 juga sukses digelar.

Fenomena gelombang hijrah kaum milenial menjadi bukti potensi besar kebangkitan Islam dari generasi milenial di Indonesia. Fenomena hijrah telah mampu menjadikan kaum milenial bangga dengan identitas keislamannya.

Baca juga:  HTI, Tudingan dan Peragaan Kepandiran

Semakin banyak generasi milenial gemar memakmurkan masjid, menghadiri majelis ilmu, menambah hafalan Al-Qur’an, menjalin ukhuwah walaupun berbeda harakah atau mazhab, dan tekun mendalami ilmu agama.

Ini sangat membanggakan dan sangat layak diapresiasi, bukan? Namun, di sisi lain, kaum sekuler berpenyakit islamofobia kronis justru sangat ketar-ketir.

Laporan BNPT tahun 2020 telah mengonfirmasi hal ini. Soal milenial demam K-pop dan kecanduan free sex tak pernah dipersoalkan, giliran remaja gaul islami dianggap ekstremis radikal.

Arah Arus Hijrah Generasi Milenial

Yang perlu menjadi catatan atas arus hijrah generasi milenial adalah ada tidaknya substansi Islam kafah. Fenomena hijrah milenial baru sebatas dorongan dahaga spiritual akibat kehidupan sekularisme yang antiagama, atau hijrah milenial berhasil bermetamorfosis menjadi dorongan kesadaran ideologis dalam rangka menerapkan Islam kafah.

Yang pasti, hijrah milenial perlu terus dikawal sampai menjadi hijrah ideologis agar tidak mudah pudar apalagi sampai potensi strategisnya dibajak kaum sekuler.

Milenial Pejuang Syariah Kaffah

Sepanjang abad kehidupan manusia, tidak ada gelar kehormatan melebihi gelar “pengemban dakwah syariat kafah”. Gelar yang langsung disematkan oleh Zat Pemilik Kehidupan. Allah Swt. berfirman,

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(QS Ali Imran: 110)

Di antara usia terbaik bagi para pengemban dakwah adalah usia pemuda. Sebagaimana Allah Swt. berfirman,

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS ar-Ruum: 54)

Baca juga:  The Amazing of Khilafah: Antara Tuduhan Ilusi dan Fakta Solusi (1/2)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa pada fase seorang pemuda, inilah fase kekuatan setelah sebelumnya berada dalam keadaan lemah (anak-anak). Setelah itu, manusia menginjak fase dewasa (usia 30-50 tahun), kemudian akan melewati fase usia senja.

Demikian juga pemuda, disebut dalam Al-Qur’an surah Al-Kahfi.

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. (QS al-Kahfi: 13)

Rasulullah saw. dalam pesannya,

“Aku pesankan agar kalian berbuat baik kepada para pemuda, karena sebenarnya hati mereka itu lembut. Allah telah mengutus aku dengan agama yang lurus dan penuh toleransi, lalu para pemuda bergabung memberikan dukungan kepadaku. Sementara para orang tua menentangku.”

Sahabat Ibnu Abbas pernah menyatakan, ”Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan pemuda. Dan seorang alim tidak diberi ilmu pengetahuan oleh Allah melainkan di waktu masa mudanya.”

So, mau kapan lagi milenial berkontribusi dalam megaproyek penegakan syariat kafah dalam naungan Khilafah, jika bukan saat ini? Tunjukkan identitas, “Saksikanlah bahwa kami, bagian kaum muslimin!”

Maka ketika Isa merasakan keingkaran mereka (Bani Israil), dia berkata, “Siapakah yang akan menjadi penolong untuk (menegakkan agama) Allah?” Para Hawariyyun (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim.(QS Ali Imran: 52) [MNews/Gz]