[Hadits Sulthaniyah] Ke-16 dan 17: Larangan Nepotisme

Hadis mengenai “Tanggung Jawab Pemimpin” (Hadis ke-11 sampai ke-18)

MuslimahNews.com, HADITS SULTHANIYAH

Hadis ke-16

“Barang siapa yang mengurusi salah satu urusan kaum muslim (sebagai penguasa) dan mengangkat seseorang untuk mereka atas dasar kecintaan, maka baginya laknat dari Allah. Allah tidak akan menerima amal perbuatan wajibnya dan tidak akan menerima amal perbuatan nafilahnya, hingga ia dimasukkan ke dalam neraka jahanam. Dan barang siapa yang memberikan kepada seseorang batasan Allah, lalu ia merusak pagar (batasan) Allah tanpa hak. Maka atasnya laknat Allah. Atau dikatakan (oleh perawi hadis), ‘Atasnya terlepas jaminan (perlindungan) Allah ta’ala.’” (Musnad Ahmad No. 21)

Hadis ke-17

“Tidaklah seorang wali yang diserahi urusan kaum muslim, kemudian dia mati sedangkan dia bersikap curang kepada mereka, melainkan Allah mengharamkan baginya surga.’” (HR Bukhari No. 6618)

Penjelasan Hadis:

a. Larangan yang tegas terhadap sikap nepotisme atau pilih kasih dalam pengangkatan pejabat
pemerintah ditunjukkan hadis tersebut dengan ungkapan bahwa perbuatan seperti itu berujung
pada laknat Allah Swt. dan menyebabkan seseorang masuk neraka.

b. Memberikan jabatan kepada seseorang yang kurang kompeten hanya karena alasan suka atau
ada hubungan keluarga merupakan salah satu bentuk pengkhianatan kepada umat, karena hal itu
berarti umat diurus bukan oleh orang yang terbaik di antara mereka. Selain itu, perbuatan tersebut
juga merupakan sebuah pengkhianatan kepada agama ini, karena melanggar larangan Allah Swt.
dan Rasul-Nya.

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] Ke-2: Bisyarah Mengenai Kembalinya Sistem Khilafah yang Mengikuti Metode Kenabian

c. Ada riwayat lainnya dari Umar ra yang menyatakan bahwa penguasa yang berbuat demikian sama
saja dengan mengkhianati Allah Swt., Rasulullah saw., dan seluruh kaum mukmin.

d. Dalam riwayat yang telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dinyatakan bahwa
penguasa yang mati, sedangkan dia berbuat curang atau berkhianat kepada umatnya, maka dia
tidak diizinkan Allah Swt. untuk masuk surga.

Oleh karena itu, telah nyata bahwa berbuat curang adalah salah satu dosa besar—khususnya
bagi mereka yang mendapatkan amanah untuk mengelola urusan umat—dan mengangkat
seseorang dalam urusan pemerintahan semata-mata atas dasar rasa suka atau kedekatan
keluarga, merupakan salah satu bentuk kecurangan atau pengkhianatan tersebut. [MNews/Gz]


 

Sumber: Abu Lukman Fathullah, 60 Hadits Sulthaniyah (Hadits-Hadits tentang Penguasa), 2010, hal. 37; Dengan penyesuaian redaksi.