[Tapak Tilas] Hudaibiyah, Tempat Miqat yang Sarat Sejarah Perjuangan Rasulullah

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, TapakTilas — Jemaah haji atau umrah yang berasal dari Makkah disyariatkan ber-miqat* di Ji’ranah, Tan’im, atau Hudaibiyah.

Di tempat-tempat inilah mereka akan berniat dan mengenakan kain ihram sebagai pertanda awal prosesi ibadah haji atau umrah sebagaimana ditetapkan syariat.

Hudaibiyah sendiri posisinya sekira 29 km dari Makkah ke arah barat daya menuju kota Jeddah. Dijuluki dengan Asy-Syumaisy sesuai nama sebuah sumur yang ada di sana. Konon, nama ini diambil dari nama sang penggali sumur yang kemudian melekat sebagai nama sumurnya.

Di tempat ini berdiri sebuah Masjid bernama As-Syumaisyi yang biasa digunakan sebagai tempat miqat. Bangunannya tampak sederhana. Luasnya tak seluas masjid-masjid yang ada di tempat miqat lain, baik yang ada di Ji’ranah maupun Tan’im.

Di samping masjid Asy-Syumaisy, kita akan temukan puing-puing bangunan bekas masjid berusia ribuan tahun. Diyakini puing-puing ini adalah lokasi terjadinya peristiwa penting dalam perjalanan dakwah Islam, yakni Baiat ar-Ridwan dan Perjanjian Hudaibiyah yang fenomenal.

Hudaibiyah, Saksi Janji Kesetiaan

Sebagaimana diketahui, perang Khandaq atau perang Ahzab telah berakhir dengan kemenangan telak kaum muslim. Dampak politisnya, Rasulullah Saw. berhasil menanamkan rasa takut pada kaum kafir Quraisy dan sekutu-sekutu mereka, sekaligus meneguhkan posisi negara Islam sebagai negara yang kuat.

Begitu pun tatkala beliau menghukum Yahudi Bani Quraizah atas pengkhianatan mereka di perang Ahzab.

Keputusan ini sekaligus menandai pembersihan institusi Yahudi di kota Madinah, setelah sebelumnya beliau juga mengusir Yahudi Bani Nadhir dan Bani Qainuqa yang dengan sengaja melanggar perjanjian dengan negara Islam.

Dengan demikian, stabillah kedudukan Rasul saw. dan kaum muslim di Madinah dan sekitarnya. Lalu Rasulullah Saw. pun mulai merancang strategi untuk lebih memperkuat kedudukan negara Islam, mengukuhkan dakwah Islam dan melemahkan musuh-musuhnya.

Terlebih, pada tahun ke-6 hijriah, terbetik kabar bahwa Yahudi yang tinggal di Khaibar, dan diperkuat oleh pelarian orang-orang Yahudi Bani Nadhir dan Qainuqa, tengah berusaha mengajak kaum musyrik Quraisy dan bangsa-bangsa Arab lainnya untuk memerangi negara Islam.

Beliau pun mulai mengambil langkah politik untuk mengisolasi Bani Khaibar dari penduduk Makkah dan bangsa Arab lainnya dengan strategi politik yang sangat halus, yakni merintis perdamaian dengan penduduk Makkah dengan cara membawa rombongan haji ke Baitullah.

Demi menunjukkan niatnya berdamai dengan penduduk Makkah, beliau sengaja mengajak bangsa-bangsa nonmuslim untuk berangkat bersamanya. Beliau pun meminta kaum muslim untuk tidak membawa senjata, kecuali yang disimpan dalam sarungnya.

Baca juga:  Makna Politik Ibadah Haji

Target yang ingin beliau capai dari manuver ini adalah membentuk opini umum di kalangan seluruh bangsa Arab tentang dakwah Islam dan keluhurannya. Juga tentang kesalahan Quraisy, kesesatan, kejahatan, dan permusuhan mereka. Sehingga, akan terbentuk iklim dakwah yang kondusif yang dibutuhkan untuk pencapaian kemenangan Islam di masa depan.

Maka, pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 Hijriah itu, berangkatlah beliau bersama 1.400 orang lainnya. Tibalah rombongan itu di Hudaibiyah dan membangun perkemahan di sana.

Keberadaan rombongan Rasulullah di perbatasan kota Makkah tentu saja membuat orang-orang Quraisy begitu panik. Mereka mengira kaum muslim datang untuk memerangi mereka. Mereka pun segera memobilisasi kekuatan dan mengirim utusan untuk berbicara dengan Rasulullah Saw.

Rasulullah kemudian berkata pada sang utusan, maksud kedatangan mereka adalah untuk berhaji, bukan untuk berperang. Namun, kaum kafir Quraisy tak percaya dengan apa yang disampaikan sang utusan dan mengirimkan utusan dari bani yang lain untuk memastikan.

Demikianlah, kaum Quraisy telah mengirim empat orang utusan yang berbeda-beda. Namun, jawaban Rasulullah tetap sama.

Bahkan,  utusan yang keempat kembali pada kaumnya tanpa merasa perlu bertemu dengan Rasulullah. Karena saat datang, ia melihat rombongan Rasul tengah menyembelih hadyu dan melakukan berbagai ritual ibadah haji. Tak ada tanda-tanda mereka akan berperang.

Saat ia kembali menyampaikan kabar itu, ia dapati para pemuka Quraisy tetap tak percaya bahwa rombongan itu datang hanya untuk berhaji. Malah kebencian dan dendam kafir Quraisy kian menjadi-jadi.

Karena negosiasi berjalan alot, Rasul Saw. pun berpikir hendak mengirimkan utusan untuk melakukan perundingan. Diutuslah Kharrasy bin Umayyah al-Khuza’iy. Namun, alih-alih berunding, kaum Quraisy malah melukai utusan Nabi. Bahkan setelahnya, mereka mengirim orang-orang bodoh untuk melempari perkemahan kaum muslim.

Meski demikian, saat mereka ditangkap, Rasulullah memaafkan mereka demi konsisten menunjukkan niat baiknya. Hingga opini umum pun makin berpihak pada kaum muslimin.

Situasi inilah yang membuat kaum Quraisy terpaksa menahan diri. Hingga seiring waktu Rasulullah melihat tanda-tanda perdamaian itu mulai dekat.

Beliau pun memutuskan untuk mengirim Utsman bin Affan untuk kembali bernegosiasi. Namun, karena alotnya perundingan dan lamanya keberadaan Utsman di kota Makkah, tersiarlah kabar Utsman telah diperdaya dan dibunuh penduduk Makkah. Situasi pun menjadi genting dan kaum muslimin terbakar semangatnya untuk melakukan peperangan.

Di tengah situasi inilah Rasulullah Saw. mengumpulkan para Sahabat di bawah sebuah pohon. Beliau meminta baiat (janji setia) dari mereka agar mereka tidak lari dari peperangan yang mungkin terjadi.

Baca juga:  Makna Politik Ibadah Haji

Baiat inilah yang kemudian dikenal sebagai Baiat ar-Ridhwan dan menjadi sebab turunnya QS al-Fath ayat 18:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”

Hudaibiyah, Saksi Perjanjian Fenomenal

Tak lama kemudian, tampaklah bahwa berita terbunuhnya Utsman adalah salah. Bahkan Utsman kembali ke Hudaibiyah dengan membawa kabar tentang peluang menggagas perjanjian bersama Quraisy.

Kemudian terjadilah perundingan yang menentukan itu. Dari pihak Quraisy diwakili negosiator terbaiknya, Suhail bin Amru. Sementara dari pihak kaum muslim diwakili langsung oleh Rasulullah Saw. sebagai pemimpin negara Islam.

Saat itu, para Sahabat menyangka, target perundingan hanya terbatas soal umrah qadha saja. Sementara, Rasulullah memiliki target politik jangka panjang menyangkut posisi negara Islam dan hubungannya dengan negara-negara lainnya.

Beliau tetap fokus meraih target awal saat keberangkatan, yakni untuk melemahkan kekuatan Yahudi Bani Khaibar dengan memisahkan mereka dari bangsa Quraisy dan bangsa-bangsa Arab lainnya.

Maka, ketika perundingan berjalan alot dan tampak merugikan pihak muslim, para Sahabat memprotes kepada Rasul, termasuk Sayyidina Umar. Bahkan nasihat Abu Bakar kepadanya tidak mempan. Umar menyampaikan protesnya dengan nada marah.

Namun, Rasulullah kukuh bergeming. Beliau tetap melakukan perundingan sekalipun secara zhahir semua syarat yang diajukan Quraiys nampak menghinakan posisi beliau sebagai Rasul dan umat Islam.

Beliau hanya bersabda, “Aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak akan pernah menyalahi perintah-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku.”

Maka, selesailah perundingan dengan kesepakatan yang membuat kaum muslimin begitu marah dan kecewa.

Isi perjanjian itu adalah:

  1. Perjanjian ini adalah perjanjian gencatan senjata yang mengikat kedua belah pihak, untuk tidak saling berperang atau saling membunuh.
  2. Bahwa siapa saja dari Quraisy yang telah masuk Islam dan datang kepada Muhammad tanpa izin walinya, maka Muhammad harus mengembalikannya kepada mereka. Siapa saja yang murtad dari kaum Muslim dan mendatangi Quraisy, maka mereka tidak akan mengembalikannya kepada Muhammad.
  3. Bahwa siapa saja dari bangsa Arab yang ingin ikut serta dalam kesepakatan Muhammad dan perjanjiannya, maka tidak akan dihalangi. Demikian juga siapa saja yang ingin ikut serta dalam kesepakatan dan perjanjian Quraisy maka tidak akan dihalangi.
  4. Tahun ini Muhammad dan para sahabatnya harus kembali dari Makkah. Mereka boleh kembali ke Makkah pada tahun berikutnya. Mereka hanya boleh masuk dan tinggal di dalamnya selama tiga hari. Mereka hanya boleh membawa pedang-pedang yang tersimpan dalam sarungnya dan tidak boleh membawa senjata lainnya.
  5. Perjanjian diadakan dalam batas waktu tertentu. Masanya selama 10 tahun sejak tanggal penandatanganannya.
Baca juga:  Makna Politik Ibadah Haji

Dari Hudaibiyah Kita Banyak Belajar

Dalam Kitab Daulah Islamiyah karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani disampaikan, perjanjian Hudaibiyah sejatinya merupakan kemenangan yang nyata bagi kaum muslimin dan negaranya. Perjanjian ini telah mewujudkan target politik Nabi menyangkut Bani Khaibar dan bangsa Quraisy.

Opini umum yang mendukung dakwah Islam pun terbangun di seluruh bangsa Arab pada umumnya, di Makkah, dan dengan Quraisy pada khususnya. Hal itu memperkuat wibawa kaum muslimin sekaligus melemahkan wibawa bangsa Quraisy.

Adapun ke dalam diri kaum muslimin sendiri, perjanjian ini telah menyingkap kepercayaan mereka kepada Rasul saw., sekaligus menunjukkan kekuatan iman dan kesiapan mereka dalam menghadapi mara bahaya, bahkan kematian.

Juga mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa manuver politik merupakan sarana dakwah Islam. Perjanjian yang tampak merugikan ini justru menjadikan kaum muslimin yang masih tinggal di Makkah di tengah-tengah kaum musyrikin bisa membentuk kantong-kantong dakwah di dalam jantung barak musuhnya.

Yang terakhir, peristiwa di Hudaibiyah juga memberi pelajaran bahwa thariqah dan fikrah politik tak boleh keluar dari Islam. Islam mengajarkan kejujuran serta kesiapan memenuhi janji.

Adapun manuver politik harus mencerminkan kecerdikan, yaitu menyembunyikan sarana-sarana dan tujuan-tujuan politis yang sebenarnya dari pandangan musuh.

Terbukti, melalui manuver di Hudaibiyah inilah, pintu kemenangan terbuka lebar. Tak butuh waktu sepuluh tahun, pintu-pintu kota Makkah dibuka tanpa pertumpahan darah.

Terbuktilah apa yang Allah Swt. janjikan:

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ

وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah. Maka, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat.” (QS An-Nasr [110]: 1-3).

[MNews/Juan]

*Miqat merupakan bahasa Arab yang berarti ‘waktu’. Dalam istilah haji dan umrah, miqat adalah batas bagi dimulainya ibadah haji dan umrah (batas-batas yang telah ditetapkan). Apabila melintasi miqat, seseorang yang ingin mengerjakan haji wajib mengenakan kain ihram dan membaca niat.

One thought on “[Tapak Tilas] Hudaibiyah, Tempat Miqat yang Sarat Sejarah Perjuangan Rasulullah

Tinggalkan Balasan