Seabad Tanpa Khilafah, Umat Kehilangan  “Junnah”

Seratus tahun telah berlalu
Umat malang melintang mencari ibu
Lama nian tak juga bertemu
Kerinduan umat semakin menggebu

Berbagai tempat terus dicari
Namun tak jua berjumpa yang dinanti
Sampai kapan seperti ini

Umat hidup tanpa perisai

(Asy Syifa Ummu Sidiq)


Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq | #100TahunTanpaKhilafah

MuslimahNews.com, OPINI — Kesedihan tersirat di wajah kaum muslimin. Tak terasa seratus tahun sudah hidup tanpa junnah. Mereka luntang-lantung tak tahu kemana melangkah. Hidupnya tak karuan dihadapkan pada persimpangan jalan. Kebingungan, ketakutan, kesedihan sekaligus harapan berkumpul dalam genggaman.

Khilafah, sebuah pemerintahan Islam yang pernah berdiri 13 Abad. Institusi yang mampu melindungi kaum muslimin di seluruh pelosok negeri. Negara adidaya yang menggetarkan dunia. Kini kekuatan itu hanya tinggal mimpi.

Tak pernah dibayangkan sebelumnya. Umat menghirup napas tanpanya. Menjalani hidup tanpa perlindungannya. Ibarat buih di lautan kondisinya. Saat ini umat dalam keadaan rugi. Karena masalah datang bertubi-tubi. Umat pun merasa resah. Tak ada siapa pun yang dapat menghilangkan gundah. Mereka hanya dapat menyaksikan di mana-mana bersimbah darah.

Umat Tidak Memiliki Perisai

“Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai dan orang akan berperang di belakangnya, digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/dzab karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas memberitahukan bahwa imam yang dimaksud adalah khalifah atau amirul mu’minin. Para ulama tidak ada perbedaan atas ini. Khalifah sebagai kepala negara bertindak sebagai perisai atau pelindung umat. Apa maksudnya?

Khalifah melindungi umat dari serangan musuh. Sehingga umat akan merasa aman dan nyama  di bawah perlindungannya. Sebagai pemimpin, khalifah tidak akan membiarkan umatnya  disakiti atau dianiaya.

Khalifah dan umat Islam sangat ditakuti oleh musuh-musuhnya. Dengan akidah Islam, umat Islam dan pemimpinnya tak takut akan kematian. Mereka siap menang dan mendapatkan syahid. Mereka berjuang atas dasar iman, bukan materi. Tak ada sedikit pun terbesit ketakutan dalam hati. Inilah yang membuat musuh-musuh Islam ketakutan.

Hingga Raja Romawi pernah berkata, “Lebih baik ditelan bumi ketimbang berhadapan dengan mereka.” Sampai tertanam dalam benak mereka bahwa Islam tak dapat dikalahkan. Generasi yang luar biasa. Generasi yang hanya ada dalam sistem Khilafah.

Bagaimana dengan sekarang? Meski umat memiliki banyak penguasa, tak jua membuat para musuh gundah gulana. Ketika Nabi Muhammad Saw dan Al Qur’an dilecehkan, tak satupun yang berani mengangkat tangan. Di saat kekayaan alam dikuasai asing, mereka hanya diam tak bergeming. Bahkan dengan senyum sumringah menyerahkan seluruh plasma nutfah. Lantas, dimana perisai umat berada?

Perempuan Menjadi Sasaran

Saat perisai umat ada, para muslimah tak perlu risau. Sejauh apapun pelecehan  yang dialami kaum perempuan, khalifah akan sigap memberi pembelaan. Ketika seorang muslimah dinodai kehormatannya oleh Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah, Nabi Saw melindunginya, menyatakan perang kepada mereka, dan mereka pun diusir dari Madinah.

Khalifah Al-Mu’tashim di era Khilafah Abbasiyyah, memenuhi panggilan jeritan wanita Muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi. Sang khalifah mengirimkan tentara yang ujung depan barisannya telah sampai Amuria, sedangkan ekor barisannya masih di ibu kota kekhilafahan Abbasiyyah. Amuria pun ditaklukkan kaum muslimin.

Bagaimana dengan kondisi sekarang? Tak ada khilafah, kaum perempuan menjadi bahan mainan. Banyak di antara mereka yang diperjual belikan, dilecehkan bahkan direnggut kehormatannya. Sebagaimana saudara muslimah di Uighur, yang dikabarkan diperkosa dalam kamp-kamp pengungsian.

Para muslimah pun tak dapat bebas berhijab untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Seperti di negara-negara barat, Perancis dan negara-negara lainnya. Menutup aurat adalah sesuatu yang dilarang dalam dunia pendidikan atau perkantoran. Kalaupun ada muslimah yang memakai burkoh di tempat umum, mereka sering menjadi sasaran islamophobia.

Perempuan layaknya barang dagangan. Keelokan tubuh dan kecantikan wajahnya dijadikan komoditas perdagangan. Demi mendapatkan keuntungan yang besar, para kapital dengan senang hati menjadikan perempuan sebagai modelnya. Hampir semua iklan ada pemeran perempuannya. Bahkan mereka  membuat film yang mempertontonkan aurat perempuan.

Perempuan dalam Islam juga terus diserang dengan ide-ide kesetaraan gender. Ide-ide ini membuat perempuan lupa akan kodratnya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga suaminya. Mereka lebih suka eksis di luar, tanpa memperhatikan kondisi rumahnya. Ada juga yang terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Melihat nasib perempuan seperti ini, masihkah kita tak butuh perisai?

Mudahnya Nyawa Melayang

Saat junnah tak lagi ada, jutaan nyawa melayang tanpa alasan. Saudara-saudara  di Palestina, Suriah, Irak, Uighur Tiongkok, India, atau negeri-negeri yang mayoritas bukan Islam menganggap bahwa nyawa kaum muslim itu murah. Mereka disiksa bahkan hingga dibunuh.

Tak terkecuali nasib di negeri +62. Masalah sepele dapat membuat orang mudah murka. Mereka marah, hingga tak sadar menghabisi nyawa lawannya. Keesokannya, mereka baru mengeluarkan penyesalannya.

Berbeda jika khilafah ada. Dengan sistem sanksi yang tegas, berfungsi sebagai penebus dosa dan pelindung. Orang yang membunuh tanpa alasan syar’i akan diqisos, yaitu dibunuh juga. Kecuali keluarga memaafkan. Itu pun akan dikenakan diyat atau denda bagi pembunuh.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS. Al-Baqarah : 178)

Hukuman ini akan menebus dosanya di dunia. Sehingga saat di akhirat tidak akan dihisab lagi. Selain itu hukum Islam akan mencegah kaum muslim lainnya melakukan perbuatan serupa. Jadi tindak kejahatan seperti menghilangkan nyawa orang akan teratasi. Kalau sudah seperti ini, masihkah berpikir ribuan kali kalau Khilafah itu tak penting?

One thought on “Seabad Tanpa Khilafah, Umat Kehilangan  “Junnah”

Tinggalkan Balasan