Penghidupan Sempit Akibat Ketiadaan Khilafah

Penulis: Iin Eka Setiawati | #100TahunTanpaKhilafah

MuslimahNews.com, FOKUS — Keruntuhan Khilafah 100 tahun lalu adalah momen penting yang tidak boleh dilupakan umat Islam. Betapa urgennya keberadaan Khilafah bagi kehidupan, bukan hanya bagi umat Islam tetapi seluruh umat manusia.

Khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kafah telah membawa umat manusia pada kegemilangan peradaban selama berabad-abad. Namun, setelah keruntuhan Khilafah, syariat Islam tidak lagi diterapkan secara kafah, sehingga potret buruk kehidupan dirasakan umat manusia di seluruh dunia sampai hari ini, khususnya umat Islam.

Berbagai masalah pun mendera kaum muslim. Demikian pula, berbagai upaya untuk mengatasinya telah ditempuh, tetapi tak mencapai solusi tuntas untuk menyudahi berbagai masalah tersebut.

Sebut saja masalah korupsi. Tidak ada yang menyangkal bahwa korupsi di Indonesia telah menjadi masalah kronis sekaligus sangat pelik. Bahkan Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai negara terkorup di Asia menurut hasil survei lembaga Transparency International. Survei ini digelar sejak Juni hingga September 2020 terhadap 20 ribu responden di 17 negara Asia.[1]

Korupsi

Kasus korupsi ditemukan tidak hanya pada satu bidang, melainkan di berbagai bidang, antara lain Kejagung yang mengungkap adanya potensi kerugian pada kasus BPJS ketenagakerjaan Rp20 triliun selama tiga tahun berturut-turut.[2]

Bantuan sosial untuk penanganan Covid-19 pun dikorupsi, sungguh perbuatan keji telah dilakukan Juliari yang diduga menerima Rp17 miliar dari dua paket pelaksanaan bansos berupa sembako untuk penanganan Covid-19.[3]

Korupsi seolah telah menjadi budaya yang bukan hanya dilakukan satu dua orang, tapi banyak orang. Penegak hukum, polisi, jaksa, dan hakim yang harusnya menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi, juga justru memanfaatkan setiap kasus korupsi—khususnya yang kakap—untuk dijadikan ajang korupsi baru. Dari sini bisa dipahami mengapa masalah korupsi di Indonesia tidak pernah tuntas.

Baca juga:  Bukan KG Juga Kapitalisme, Kaum Perempuan Hanya Butuh Khilafah

Perlu diingat, korupsi bukan hanya marak di Indonesia, tapi terjadi di masyarakat mana pun ketika Khilafah tidak ada. Ledakan korupsi bukan saja terjadi di tanah air, tapi juga terjadi di Amerika, Eropa, Cina, India, Afrika, dan Brasil.

Kehancuran dan Kesengsaraan

Masalah penghancuran generasi pun terjadi, antara lain melalui kemaksiatan yang difasilitasi menggunakan teknologi perihal asmara. Pemanfaatan teknologi terlihat dari tren virtual dating yang muncul di masa pandemi.

Survei Virgin Media yang dimuat Express UK, Rabu (27/10/2020), menemukan bahwa kencan virtual mengalami peningkatan hingga 36 persen selama masa physical distancing.[4]

Kehancuran generasi muda akibat narkoba yang merusak akal dan fisik anak bangsa juga merajalela. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat, sepanjang tahun 2020 jumlah tangkapan sabu mencapai 1,12 juta ton.[5] Bahkan aparat turut terjerat kasus narkoba dalam kasus keterlibatan Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi dalam penyalahgunaan narkoba bersama 11 anak buahnya.[6]

Seks bebas juga menjadi masalah remaja di Indonesia. Penelitian yang dilakukan Reckitt Benckiser Indonesia (produk mereka alat kontrasepsi Durex) terhadap 500 remaja di lima kota besar di Indonesia menemukan, 33 persen remaja pernah melakukan hubungan seks penetrasi dan para peserta survei ini adalah mereka yang belum menikah.[7]

Bukan hanya itu, yang lebih memprihatinkan adalah perang yang terjadi antarsaudara sesama muslim akibat dipicu provokasi negara-negara Barat di berbagai belahan dunia ketika Khilafah tidak ada, di Afganistan, Yaman, dan Suriah yang hingga kini belum berakhir.

Kesengsaraan juga melanda kaum muslim. Kesulitan hidup berupa penganiayaan dan genosida terhadap muslim terjadi pada muslim Rohingya. Para pengungsi Rohingya ditolak di semua negara,[8] bahkan tak satu pun penguasa negeri muslim menolong mereka.

Baca juga:  [Maqalah Ulama] Menegakkan Khilafah= Menegakkan Keadilan

Kemiskinan terjadi di berbagai negeri di muslim, termasuk di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terkait kemiskinan di Indonesia. Berdasarkan Survei Ekonomi Nasional September 2020 disebutkan, jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang, meningkat 1,13 juta orang dibanding Maret 2020 dan meningkat 2,76 juta orang dibanding September 2019.[9]

Kembali pada Syariat Kafah

Semua yang disebutkan di atas hanyalah sebagian fakta buruk yang dialami umat Islam. Masih banyak persoalan yang melanda umat Islam sebagai akibat tiadanya Khilafah yang menerapkan aturan Allah secara kafah.

Pangkal munculnya fakta-fakta buruk pada umat Islam adalah karena umat Islam telah banyak menyimpang dari aturan Allah Swt.. Keadaan itu telah diterangkan oleh Allah Swt.,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى ﴿١٢٤﴾

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta.(QS Thaha: 124)

Menurut Imam Ibnu Katsir, makna “berpaling dari peringatan-Ku” adalah “menyalahi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, melupakannya, dan mengambil petunjuk dari selainnya.”[10]

Sedangkan “penghidupan yang sempit” tidak lain adalah kehidupan yang semakin miskin, sengsara, menderita, terjajah, teraniaya, tertindas, dan sebagainya, sebagaimana yang kita saksikan dan rasakan sekarang ini di dunia Islam.

Dari ayat tersebut, telah jelas petunjuk Allah Subhanahu wa ta’ala, bahwa untuk menuntaskan semua fakta-fakta buruk yang kita saksikan dan rasakan (menjadi fakta-fakta yang baik) tidak ada jalan lain selain kembali menerapkan aturan Allah, yaitu syariat Islam secara kafah melalui upaya tegaknya Khilafah.

Allah Swt. telah berjanji dalam firman-Nya,

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Baca juga:  Kenapa Harus Khilafah? (Memperingati 100 tahun Keruntuhan Khilafah 1342–1442 H)

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan-Ku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nur: 55)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita akan ketiadaan Khilafah. Beliau bersabda,

Barang siapa yang mati sedangkan di pundaknya tidak ada baiat, maka matinya jahiliah.” (HR Muslim)

Padahal, baiat hanya diberikan kepada seorang Khalifah yang memimpin Kekhilafahan. Oleh karena itu, kondisi umat 100 tahun tanpa Khilafah sungguh amat buruk.

Akhirnya, semua kembali kepada kita, apakah masih tetap enggan kembali kepada syariat atau menyambutnya dengan antusias?

Sungguh ironis bila di satu sisi kita menyadari sedang berada pada fakta yang buruk—yang merupakan penyakit—, tetapi di sisi lain kita menolak kehadiran obat mujarab, yaitu Khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kafah, yang mampu menyembuhkan penyakit-penyakit itu. Padahal, selama ini obat lain telah terbukti gagal. [MNews/Gz]

Klik >> #100TahunTanpaKhilafah


[1] https://rmol.id/read/2020/11/30/463459/indonesia-masuk-peringkat-3-negara-terkorup-di-asia-pemerintah-lemah-tangani-korupsi

[2] https://news.detik.com/berita/d-5371150/kejagung-potensi-kerugian-di-kasus-bpjs-ketenagakerjaan-rp-20-t-dalam-3-tahun

[3] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210219120616-12-608314/kpk-panggil-hotma-sitompul-dan-kader-pdip-soal-korupsi-bansos

[4] https://lifestyle.kompas.com/read/2021/02/08/195500220/virtual-dating-solusi-kencan-aman-dan-antiribet-di-masa-pandem

[5] https://www.cnbcindonesia.com/news/20201230153644-4-212607/sepanjang-2020-bnn-ungkap-tangkapan-sabu-capai-112-juta-ton

[6] https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5385182/jabatan-hilang-sanksi-menanti-kompol-yuni-gegara-terjerat-narkoba?_ga=2.256729730.822900905.1613718254-1153304266.1590559230

[7] https://www.liputan6.com/health/read/4016841/riset-33-persen-remaja-indonesia-lakukan-hubungan-seks-penetrasi-sebelum-nikah#

[8] https://www.voaindonesia.com/a/ratusan-pengungsi-rohingya-ditolak-negara-negara-karena-covid-19/5424195.html

[9] https://www.kompas.com/tren/read/2021/02/18/110300865/angka-kemiskinan-indonesia-naik-ini-data-per-provinsi?page=all

[10] (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, V/323)

Tinggalkan Balasan