Benarkah Aturan Wajib Pakaian Muslimah Tidak Membentuk Kepribadian?

Penulis: Wiwing Noeraini

MuslimahNews.com, FOKUS TSAQAFAH — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melarang guru agama mewajibkan siswa mengenakan atribut keagamaan, termasuk memakai kerudung selama jam mata pelajaran agama.

Hal ini sejalan dengan SKB 3 Menteri yang tidak membolehkan sekolah negeri mewajibkan atau melarang atribut agama. Demikian dikatakan Jumeri, Direktur PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Kamis (11/2/2021).

Selanjutnya Jumeri mengatakan, memaksakan jilbab (kerudung, ed.) tidak membentuk kesadaran dan tidak membentuk kepribadian.

“Memaksakan jilbab jadinya hanya karena takut pada gurunya bukan karena kesadaran. Kalau karena kesadaran, baik itu sedang pesta, sedang di pantai, di gunung dia memakai seragam itu, karena itu kepribadian,” kata Jumeri. (eramuslim.com)

Apakah aturan dibuat menunggu kesadaran? Benarkah aturan wajib pakaian muslimah tidak membentuk kepribadian? Lalu, bagaimana cara membentuk kepribadian?

Aturan Dibuat Tidak Menunggu Kesadaran

Di mana pun, aturan dibuat tidak pernah menunggu kesadaran. Untuk itulah aturan selalu disertai dengan sanksi. Siapa pun yang melanggar, akan dikenai sanksi.

Aturan penggunaan helm bagi pengendara motor misalnya, diwajibkan negara dengan alasan keselamatan jiwa, tanpa menunggu semua pengendara menyadari pentingnya memakai helm.

Demikian juga aturan wajib vaksinasi Covid-19, wajib bayar berbagai macam iuran, dll., semuanya ditetapkan dengan paksaan. Bahkan, di dalam sistem sekuler liberal hari ini, umat muslim dipaksa untuk tunduk dan taat pada aturan yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam.

UU tentang minol (minuman beralkohol), misalnya. Jelas aturan itu mengakomodasi perbuatan maksiat, tetapi umat muslim harus rela menerimanya.

Jika untuk sesuatu yang dianggap mendatangkan kebaikan berupa manfaat (maslahat) dalam pandangan manusia, seperti kesehatan, keselamatan jiwa, keuntungan materi, dll. kemudian peraturan dibuat dan memaksa manusia untuk menjalankannya, kenapa peraturan untuk mendapatkan kebaikan kebaikan syariat harus dipermasalahkan?

Bukankah syariat adalah aturan dari Allah yang pasti jauh lebih baik dan membawa maslahat bagi umat manusia, baik dunia maupun akhirat?

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah: 50)

Baca juga:  Mewaspadai Tirani Minoritas dalam Aturan Seragam Sekolah

Aturan Wajib Pakaian Muslimah Tidak Membentuk Kepribadian, Benarkah?

Aturan wajib pakaian muslimah memang tidak membentuk kepribadian, jika yang dimaksud adalah kepribadian sekuler atau liberal. Sebab, aturan ini memang akan membentuk kepribadian Islam.

Mengapa aturan diperlukan? Karena, untuk sampai terbentuk kepribadian Islam, perlu proses membangun keimanan dan membiasakan dalam keseharian. Di sinilah pentingnya aturan.

Tanpa aturan, pembiasaan akan menjadi sulit. Jika kita biarkan anak menutup aurat hanya ketika ia ingin, ketika ia mau, lalu kapan anak akan terbiasa? Nah, ketika anak sudah terbiasa dan memahami kenapa ia harus melakukannya, saat itulah ia akan taat menjalankan syariat karena dorongan keimanannya bukan karena paksaan.

Lagi pula, untuk anak yang masih belum balig, ia tidak terkena dosa saat tidak menutup auratnya. Namun, bagaimana untuk anak yang sudah balig? Apakah kita akan biarkan anak anak kita melakukan perbuatan dosa hanya karena kita tidak ingin memaksanya dan menunggunya untuk menyadarinya? Tentu tidak.

Dengan demikian, aturan wajib pakaian muslimah adalah menjadi bagian dari pembiasan yang selalu diiringi dengan proses penyadaran hingga membentuk kepribadian Islam. Aturan akan menjadi sebuah paksaan jika tidak diiringi dengan proses pendidikan untuk membangun kesadaran.

Seharusnya juga, pembiasaan ini tidak hanya di jam pelajaran agama, tetapi di seluruh jam pelajaran. Sebab, perintah Allah Swt. soal menutup aurat, wajib ditaati dan dijalankan tidak hanya di jam pelajaran agama. Bahkan, seharusnya negara yang mewajibkannya, sehingga tidak hanya di sekolah, di luar sekolah pun anak menutup auratnya.

Jika tidak demikian, anak akan menjadi pribadi yang sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Ia taat syariat selama belajar, di luar belajar ia bebas maksiat. Apakah seperti ini yang disebut berkepribadian Islam?

Apa Itu Kepribadian Islam dan Bagaimana Membentuknya?

Di dalam kitabnya Syakhshiyyah Islamiyyah jilid 1, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan apa itu kepribadian Islam dan bagaimana membentuknya.

Seorang muslim dikatakan berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) ketika memiliki aqilyah Islam (pola pikir Islam) dan nafsiyah Islam (pola sikap Islam).

Aqliyah Islam adalah berpikir berdasarkan Islam, menjadikan Islam satu satunya tolok ukur terhadap seluruh pemikiran tentang kehidupan. Sedangkan nafsiyah Islam adalah menjadikan kecenderungannya bertumpu pada asas Islam, yaitu menjadikan Islam satu satunya tolok ukur terhadap pemenuhan kebutuhan kebutuhannya (baik kebutuhan jasmani ataupun naluri).

Baca juga:  Perlakuan Khilafah terhadap Nonmuslim dalam Hal Makanan dan Pakaian

Kepribadian Islam tidak otomatis melekat pada diri muslim, tetapi harus diupayakan. Bisa jadi ada muslim yang belajar Islam, tetapi apa yang ia pelajari tidak menjadi asas berpikir dan bersikap. Maka, ia bisa dikatakan tidak berkepribadian Islam.

Apa yang dikatakan Syekh Taqiyuddin ini bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari hari. Contohnya, seorang muslimah yang tahu bahwa menutup aurat adalah wajib, sehingga berdosa meninggalkannya, tapi ternyata ia tetap ngotot tidak mau memakainya dengan berbagai macam alasan.

Demikian juga dengan syariat lainnya, banyak yang tidak ia jalankan, padahal ia tahu bahwa itu wajib; atau tahu bahwa sesuatu itu haram, tapi tetap dilakukannya. Hal itu lalu dilakukan terus-menerus, karena memang sudah terbentuk pola pikir dan pola sikap bahwa “muslim tidak harus terikat dengan semua syariat”.

Inilah pola pikir dan pola sikap sekuler, yang jelas bertentangan dengan Islam (lihat QS An Nisa [4]: 150-151; QS Al Baqarah [2]: 85; dll.).

Maka, ia memang seorang muslimah, tapi iman Islamnya tidak menjadi asas dalam pola pikir maupun pola sikapnya. Oleh sebab itu, ia tidak memiliki kepribadian Islam.

Di dalam kitab yang sama, disebutkan juga bahwa bisa jadi ada kekacauan akidah seseorang sehingga akidah Islam tidak menjadi landasan dalam berpikir maupun bersikap. Mungkin dilandasi adat istiadat atau mengikuti arus orang banyak, karena manfaat, dan sebagainya. Maka, ia tetap muslim, tapi ia tidak berkepribadian Islam.

Oleh karenanya, untuk membentuk kepribadian Islam, yang dilakukan adalah dengan membangun pemikiran dan kecenderungan seseorang agar berdasarkan akidah Islam.

Setelah itu, yang harus dilakukan adalah beraktivitas untuk meningkatkan kepribadian Islam, yaitu dengan memperbanyak tsaqafah Islam sehingga bisa selalu menyikapi semua pemikiran dengan tsaqafah Islam sehingga meningkat aqliyah-nya.

Selain itu, harus meningkatkan nafsiyah dengan senantiasa melakukan ibadah dan bertakarub (mendekatkan diri) kepada Allah Swt. dengan memperbanyak ketaatan kepada-Nya dan mengupayakan agar akidah Islam selalu melandasi sikap perilakunya.

Baca juga:  Duh! Pakaian Muslimah Dihujat di Berbagai Penjuru Dunia

Inilah metode pembentukan dan peningkatan kepribadian Islam. Ini pula metode yang ditempuh  Rasulullah Saw.. Beliau mengajak manusia untuk memeluk Islam dengan membangun akidahnya, keimanannya. Ketika mereka sudah memeluk Islam, Rasulullah Saw. memperkuat akidah mereka.

Rasulullah Saw. juga memperhatikan keterikatan akidah dengan pemikiran dan sikap perilaku mereka, hingga kemudian terbentuklah karakter “siap taat” sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (HR al-Hakim, al-Khathib, Ibn Abi ‘Ashim, dan al-Hasan bin Sufyan).

Kemudian, Rasulullah Saw. menjelaskan ayat-ayat Allah Swt. kepada mereka dan menjelaskan hukum-hukum serta mengajarkan Islam kepada mereka.

Dengan metode ini, terbentuklah pribadi-pribadi para Sahabat yang ber-syakhshiyyah islamiyyah (berkepribadian Islam) yang sangat tinggi.

Digambarkan dalam Al-Qur’an di antaranya: keras terhadap kafir dan berkasih sayang kepada sesama muslim (lihat QS Al Fath [48]: 29); Allah rida kepada mereka dam mereka pun rida kepada Allah (lihat QS At-Taubah [9]: 100); khusyuk dalam salat, menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan sia-sia, menunaikan zakat (lihat QS Al-Mukminun [23]: 1-4); berjihad dengan harta dan jiwa (lihat QS At-Taubah [9] : 88-89); dll.

Demikianlah metode pembentukan kepribadian Islam yang dicontohkan Rasulullah Saw.. Maka, demikian pula metode yang harus kita tempuh untuk membentuk kepribadian Islam.

Tanamkan akidah Islam, pahamkan mereka agar menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikir dan bersikap, ajarkan berbagai pemikiran dan hukum-hukum Islam, ajak untuk memperbanyak ketaatan kepada Allah Swt., dan buat berbagai aturan agar mereka terbiasa bersikap dan berperilaku sesuai Islam.

Mungkinkah sistem pendidikan kita hari ini mampu mewujudkannya? Jelas tidak! Karena sistem pendidikan kita hari ini adalah sistem pendidikan sekuler yang malah menjauhkan anak dari Islam dan syariatnya.

Hanya dalam sistem Islam yaitu negara Khilafah, akan menerapkan sistem pendidikan Islam yang sahih hingga mampu mewujudkan generasi muslim dengan kepribadian Islam yang sangat tinggi, sebagaimana generasi-generasi terdahulu di masa kejayaan dan kemuliaan Islam. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan