Bukan KG Juga Kapitalisme, Kaum Perempuan Hanya Butuh Khilafah

#100TahunTanpaKhilafah

Penulis: Juanmartin, S.Si., M.Kes.

MuslimahNews.com, OPINI — Kondisi perempuan saat ini memang tak pernah sepi dari pembahasan. Para pejuang kesetaraan gender (KG) yang kerap mengasosiasikan rumah tangga sebagai salah satu sumber diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan, pada faktanya tak memiliki konsep jelas untuk membebaskan kaum perempuan dari segala nestapa kehidupan.

Berbagai isu perempuan yang diangkat justru dijadikan sebagai batu loncatan untuk menawarkan pemikiran yang meracuni kaum muslimah sekaligus menjadi celah bagi pejuang emansipasi untuk mengobrak-abrik syariat Islam yang agung.

Cita-cita KG yang irasional untuk menyamakan laki-laki dan perempuan telah mengarahkan kaum perempuan pada perjuangan yang salah alamat. Sama sekali tak menyentuh akar masalah.

Lihat saja, ketika mereka membahas masalah kemiskinan perempuan, mereka disibukkan dengan upaya untuk memperoleh kesamaan hak dalam bekerja, merumuskan kebijakan yang berpihak pada perempuan, serta melakukan advokasi secara masif untuk melancarkan seluruh program dalam frame berpikir KG.

Saat membahas masalah kekerasan seksual, bukannya membahas akar masalah dan solusi preventif agar kasus kekerasan seksual tidak berulang, mereka justru disibukkan dengan upaya penghapusan superioritas laki-laki atas perempuan yang dianggap sebagai akar masalah terjadinya kekerasan seksual.

Dengan getolnya mereka berupaya mengegolkan kebijakan yang katanya berpihak pada perempuan, tetapi di saat yang sama mereka menjebak perempuan dalam lingkaran masalah baru yang tak berkesudahan.

Cita-Cita Kesetaraan Gender Tak Menyolusi

Tak dimungkiri, problem kemiskinan masih lekat pada kaum perempuan. Kekerasan dan pelecehan seksual pun kian marak terjadi. Di sisi lain, problematik rumah tangga dan keluarga tak kunjung selesai.

Di tengah merundungnya nasib malang yang menimpa kaum perempuan saat ini, cita-cita pejuang KG yang ingin mewujudkan kesetaraan gender di semua lini kehidupan disambut sebagai oase baru perjuangan hak-hak kaum perempuan.

Sayangnya, perjuangan ini telah menimbulkan keguncangan pada institusi keluarga. Alih-alih mengeluarkan kaum perempuan dari masalah, solusi yang ditawarkan justru menjerumuskan perempuan pada masalah baru yang lebih parah.

Baca juga:  Tahun 1924 Khilafah Runtuh, karena Wajib Ada, maka Harus Ditegakkan Kembali

Dalam frame pejuang emansipasi, masalah perempuan dibingkai sedemikian rupa sehingga mengesankan bahwa perempuan mengalami berbagai macam ketimpangan dalam pembangunan.

Program-program pembangunan secara formal dipandang sering kali dikuasai laki-laki dan karena sumber daya yang penting dalam kehidupan selalu dikuasai laki-laki yang memiliki kekuatan sosial, ekonomi dan politik lebih kuat, sehingga terjadi marginalisasi terhadap peran perempuan dalam pengambilan keputusan.

Hak-hak perempuan dianggap kerap diabaikan. Pada akhirnya, superioritas laki-laki telah berdampak pada tidak dilibatkannya kaum perempuan dalam berbagai proses pengambilan keputusan yang bersifat formal.

Inilah yang menjadi pijakan atas solusi yang ditawarkan pejuang KG melalui pemenuhan kuota 30% kaum perempuan di parlemen.

Apakah perjuangan KG ini ampuh menyelesaikan masalah perempuan? Jawabannya tentu saja tidak. Mengapa? Ya bagaimana mungkin mereka dapat mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi perempuan, sedangkan pemikiran KG sendiri lahir dan tumbuh bersama penjajahan dan memiliki ikatan yang sangat kuat dengan sekularisme.

Di mana kaitannya? Setidaknya kita dapat melihat hal ini pada dua hal.

Pertama, dalam berbagai pemikiran yang mereka tawarkan, pejuang emansipasi senantiasa membenturkan syariat Islam yang telah Allah tetapkan, dengan berbagai masalah yang dialami kaum perempuan.

Mereka menggugat hukum-hukum tentang hijab, masalah mahram, perwalian, hak waris, hingga masa idah. Ini adalah indikasi kuat bahwa para feminis tak lebih dari pengusung sekularisme.

Kedua, mereka berupaya untuk mempertahankan sistem kapitalisme dengan menutup kejahatan sistem buatan manusia ini sebagai akar masalah kaum perempuan. Padahal, kapitalisme adalah biang keladi, sumber masalah dari berbagai masalah ekonomi yang menimpa kaum perempuan.

Nilai-nilai liberal yang dihembuskan sistem sekuler telah mereduksi hukum-hukum Islam yang memuliakan perempuan. Dengan demikian, bukan kesetaraan gender dan sekularisme yang akan membebaskan perempuan. Lalu apa solusi tuntas atas masalah perempuan?

Baca juga:  Agenda Politik Umat

Kebutuhan Perempuan akan Khilafah

Berbeda dengan sistem sekuler dan arah perjuangan KG, Islam memiliki seperangkat aturan khas terkait penjagaan pada kaum perempuan. Islam telah memprioritaskan pemeliharaan terhadap perempuan sejak lahir dengan membebankan kewajiban pengasuhan pada kedua orang tuanya.

Abdullah ibn Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapa pun yang memiliki seorang anak perempuan yang lahir untuknya dan dia tidak menguburkannya atau menghinanya, dan tidak memanjakan anak laki-lakinya melebihi anak perempuannya, Allah akan mengizinkan dia untuk memasuki Jannah karena anak perempuannya.” (HR Ahmad, dikoreksi Al-Hakim).

Jika anak perempuan itu tumbuh dewasa, ia dijaga dan dirawat di bawah pengasuhan kedua orang tua, dan ayah memiliki kewajiban untuk menjaga dan melindunginya. Saat ia telah menikah, ia dihargai dan dihormati dan suaminya wajib memperlakukannya dengan baik.

Kaum laki-laki diposisikan sebagai pemimpin (qawwam) atas kaum perempuan. Syariat qawwam yang Allah tetapkan ini tidaklah bermakna superioritas laki-laki atas perempuan. Sebaliknya, qawwam maupun amanah yang Allah berikan kepada perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga sama-sama memiliki timbangan syariat, dan masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam masalah pemenuhan kebutuhan ekonomi, Islam telah menjadikan tanggung jawab untuk mencari nafkah pada laki-laki. Sedangkan kaum perempuan hukumnya tidak wajib. Syariat ini lagi-lagi bukanlah untuk memarginalkan kaum perempuan dari sisi pendapatan ekonomi, bukan.

Bahkan sebaliknya, kesan yang muncul dari syariat ini adalah perlindungan terhadap kaum perempuan. Mereka tidak dibiarkan berjibaku mencari tambahan pemasukan, hingga mengabaikan fungsi utama mereka sebagai ibu dan pengurus rumah tangga suami.

Sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini adalah problem utama ketimpangan ekonomi. Jadi bukan karena marginalisasi pekerja perempuan oleh pekerja laki-laki. Bahkan, saat ini problem ekonomi dirasakan secara merata baik laki-laki maupun perempuan.

Sebab faktanya, dalam sistem kapitalisme ini, para pemodallah yang berkuasa, bukan berkuasanya sebaran gender laki-laki di dunia kerja.

Baca juga:  Penghidupan Sempit Akibat Ketiadaan Khilafah

Yang lebih parah, dalam transaksi ekonomi di sistem sekuler saat ini, tak sedikit perempuan yang mengalami eksploitasi. Tubuh perempuan dijadikan seolah barang komoditas yang layak untuk dibisniskan, dijadikan sebagai daya tarik dalam dunia bisnis dan transaksi ekonomi.

Sebaliknya dalam Islam, kaum perempuan dimuliakan dan dijaga kehormatannya. Islam bahkan melarang eksploitasi seksual perempuan dan memerangi pandangan yang merendahkan kaum perempuan melalui sejumlah aturan mengenai interaksi yang diniscayakan antara laki-laki dan perempuan, memerintahkan kaum perempuan untuk menutup aurat, menjaga pandangan, tidak menampakkan kecantikan selain kepada suami serta melarang terjadinya khalwat dan ikhtilat.

Islam juga menggariskan sejumlah syariat terkait pernikahan dalam batasan sakinah mawaddah warahmah.

Allah Swt. berfirman,

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.(QS Ar-Rum: 21)

Istri adalah tempat perlindungan sang suami di mana dia menemukan kenyamanan dan merasa aman dengannya, demikian pula bagi istri yang dimuliakan sang suami.

Syariat yang dipahami pasangan suami istri akan menuntun mereka pada kehidupan rumah tangga yang diliputi suasana cinta dan kasih sayang.

Sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini memiliki andil besar dalam mengacaukan stabilitas rumah tangga. Turunan masalah yang ditimbulkan sistem ini telah menimbulkan guncangan yang sangat besar bagi institusi keluarga, perempuan, dan anak.

Maka, penting untuk menganalisis akar masalah hingga kaum perempuan tak terjebak dalam perjuangan yang salah alamat. Alhasil, kebutuhan kaum perempuan akan Islam yang diterapkan dalam institusi negara adalah sesuatu yang urgen.

Tak ada satu pun sistem yang mampu mewujudkan kemuliaan sekaligus menjaga kehormatan perempuan, selain Islam. Bukan yang lain. [MNews/Gz]

Klik >> #100TahunTanpaKhilafah

Tinggalkan Balasan