Ujian dan Taklif Hukum (Tafsir QS al-Insan[76]: 1-3) Bagian 2/2

Sambungan dari bagian 1/2

Oleh: Ustaz Rokhmat S. Labib, M.E.I.

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN — [Beberapa Pelajaran Penting]

Pertama: Awal mula dan asal usul manusia. Ayat ini mengingatkan manusia saat mereka belum ada dan belum diciptakan. Mereka bukan siapa-siapa, bukan apa-apa dan bahkan tidak dikenal dan tidak disebut-sebut. Menurut Ibnu Katsir, mereka tidak disebut-sebut karena kehinaan dan kelemahan mereka. Jadi, atas dasar apa manusia bisa sombong dan takabur setelah dihidupkan?

Setelah sebelumnya tiada, kemudian Allah Swt. menciptakan mereka. Dari tiada menjadi ada. Dari yang sebelumnya mati menjadi hidup. Dengan demikian mereka ada di dunia karena Dia ciptakan. Mereka bisa hidup di dunia karena Dia hidupkan. Seandainya Dia tidak menciptakan mereka, niscaya mereka tidak akan pernah ada. Lalu atas dasar apa mereka ingkar kepada Zat Yang menciptakan mereka? Bahkan berani lancang dan melawan Penciptanya?

Diingatkan pula asal-usul mereka. Mereka diciptakan dari nuthfah amsyâj (air mani yang bercampur). Air yang hanya setetes; pencampuran dari air yang berasal dari bapak dan ibu mereka. Dari bahan air yang amat sedikit lagi menjijikkan itulah oleh Swt. menciptakan mereka sehingga menjadi makhluk yang sempurna dengan segala kelebihannya. Lalu atas dasar apa mereka bersikap sombong dan takabur terhadap Penciptanya? Bagaimana pula manusia mengingkari Hari Kiamat yang Allah Swt. beritakan pasti akan terjadi? Jika Dia yang menciptakan manusia pada awal mulanya, tentu Dia pun berkuasa menghidupkan kembali mereka pada Hari Kiamat.

Kedua: Tujuan penciptaan manusia. Harus diingat bahwa penciptaan manusia bukan tanpa tujuan. Akan tetapi, ada yang dikehendaki Allah Swt. atas makhluk ciptaan-Nya itu. Dalam ayat disebutkan: Nabtalîhi. Menurut para ulama, kata tersebut bermakna Nakhtabiruhu (Kami akan menguji dia).

Ujian yang diberikan kepada manusia itu adalah berbagai taklif hukum yang dibebankan kepada manusia. Taklif-taklif hukum itu disampaikan oleh para nabi dan rasul yang Dia utus dan kitab-kitab yang Dia turunkan. Dengan ujian tersebut akan diketahui siapakah di antara mereka: yang beriman dan kufur, yang baik dan jahat, yang berhak mendapatkan ridha-Nya dan mendapatkan murka-Nya, serta yang akan diberi surga dan neraka. Menurut Ibnu Katsir, ayat ini senada dengan QS al-Mulk [67]: 2.34

Baca juga:  Ujian dan Taklif Hukum (Tafsir QS al-Insan[76]: 1-3) Bagian 1/2

Ketiga: Bekal yang diberikan oleh Allah Swt. kepada manusia untuk bisa menerima taklif hukum. Dalam ayat ini ada dua bekal yang disebutkan. Pertama, pendengaran dan penglihatan. Kedua indra tersebut amat penting bagi manusia. Keduanya juga merupakan salah unsur yang harus ada dalam berpikir. Tanpa keduanya manusia tidak akan bisa berpikir dengan benar. Oleh karena itu, ketika dua indra itu tidak dimiliki, manusia tidak ada taklif karena tiadanya kemampuan.

Sebagai gambaran, bagaimana mungkin seseorang akan bisa mengerjakan kewajiban dari Allah Swt. jika dia tidak bisa mendengar dan menyaksikan apa saja yang diwajibkan dan bagaimana menjalankannya. Bagaimana mungkin pula dia bisa menjauhi larangan-Nya jika dia tidak bisa mendengar dan menyaksikan apa saja yang diharamkan dan bagaimana menjauhinya.

Ayat ini menjelaskan kepada kita, Allah Swt. telah menganugerahkan dua perangkat penting itu kepada manusia. Dengan dua indra itulah manusia pantas dan layak untuk diuji. Kedua, petunjuk jalan dari Allah Swt. berupa agama. Dengan akal, yang di antara perangkat pentingnya adalah indra pendengaran dan penglihatan, manusia dapat memahami fakta. Dia bisa membedakan antara makanan yang bergizi atau berbahaya bagi kesehatan, rumah yang bagus atau jelek, suara yang merdu atau sumbang, dan lain-lain. Akan tetapi, manusia hanya dengan akalnya tidak akan mengetahui perbuatan mana yang mendapatkan rida-Nya dan mendapatkan murka-Nya, yang mendapatkan pahala atau dosanya, dan yang mengantarkan pada surga atau neraka. Sebab, semua itu tidak dapat dijangkau oleh indra manusia sehingga akal itu pun tidak bisa digunakan dalam wilayah ini. Di sinilah manusia memerlukan petunjuk jalan dari Allah SWT. Tanpa meminta, Allah Swt. telah mengutus para nabi dan rasul kepada manusia untuk menyampaikan petunjuk-Nya.

Baca juga:  Ujian dan Taklif Hukum (Tafsir QS al-Insan[76]: 1-3) Bagian 1/2

Keempat: Respons manusia terhadap petunjuk dari Allah Swt.. Ayat ini memberitakan tentang sikap manusia mendapatkan petunjuk jalan-Nya. Disebutkan: immâ syâkir[an] wa immâ kafûr[an] (ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir). Ini menunjukkan menjadi mukmin atau kafir merupakan pilihan. Namun demikian, pilihan itu harus dipertanggungjawabkan, terutama di akhirat. Dalam ayat selanjutnya diberitakan siksa berat telah disediakan Allah Swt. bagi orang-orang kafir. Sebaliknya, berbagai kenikmatan surga akan dianugerahkan kepada orang-orang Mukmin yang bertakwa. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [MNews/Rgl]


Catatan kaki:

1 Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 166.

2 Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), 118.

3 Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5 (Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, 2993), 481. Lihat juga al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 118; al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5 (Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 1994), 415; al-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30 (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 739.

4 Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 119; al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 415; al-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 87; al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutuba al-;Ilmiyyah, 1995), 376; al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 482.

5 Az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1987), 665; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 167; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 2, 281-282.

6 Az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, vol. 4, 665; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 282; al-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30, 739.

7 Az-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 281.

8 Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 87-88. Lihat al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 482.

9 Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 88.

10 Al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4, 376.

Baca juga:  Ujian dan Taklif Hukum (Tafsir QS al-Insan[76]: 1-3) Bagian 1/2

11 Az-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 282.

12 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8 (tt: Dar Thayyibahm 1999), 285.

13 Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 88; al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 415; al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 482.

14 Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 120.

15 Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 120.

16 Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 120; al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 415; al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 482.

17 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 285; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 120; al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wïl, vol. 5, 269; al-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30, 740.

18 Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 88-89; al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wïl, vol. 5, 269.

19 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 285

20 Ar-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30, 740.

21 Ar-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30, 740.

22 Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 121; al-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 91; Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 286.

23 Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 482

24 Asy-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 416

25 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 286.

26 Asy-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 416; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 283

27 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 286.

28 Asy-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 416.

29 Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 122.

30 Az-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 283.

31 Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 483.

32 Az-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 283.

33 Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 483.

34 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 286.

One thought on “Ujian dan Taklif Hukum (Tafsir QS al-Insan[76]: 1-3) Bagian 2/2

Tinggalkan Balasan