Ujian dan Taklif Hukum (Tafsir QS al-Insan[76]: 1-3) Bagian 1/2

Oleh: Ustaz Rokhmat S. Labib, M.E.I.

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN — Allah Swt. berfirman,

هَلۡ أَتَىٰ عَلَى ٱلۡإِنسَٰنِ حِينٞ مِّنَ ٱلدَّهۡرِ لَمۡ يَكُن شَيۡ‍ٔٗا مَّذۡكُورًا ١ إِنَّا خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجٖ نَّبۡتَلِيهِ فَجَعَلۡنَٰهُ سَمِيعَۢا بَصِيرًا ٢ إِنَّا هَدَيۡنَٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرٗا وَإِمَّا كَفُورًا ٣

“Bukankah telah datang kepada manusia satu waktu dari masa, sementara dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang kemudian Kami uji (dengan perintah dan larangan). Karena itu Kami menjadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh Kami telah menunjuki dia jalan yang lurus. Ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS al-Insan [76]: 1-3)

Surah ini dinamai dengan surah al-Insan yang berarti manusia. Di awal, surah ini memang berbicara tentang manusia; mulai dari ketiadaannya, lalu diciptakan, pilihan hidupnya, hingga akhir nasibnya di akhirat. Menurut Syihabuddin al-Alusi, surah ini juga dinamai dengan surah ad-Dahr, al-Abrar, dan al-Amsyaj.[1]

Menurut jumhur ulama, surah ini termasuk Madaniyyah. Ada juga yang mengatakan termasuk Makkiyyah, seperti Ibnu Abbas, Muqatil, dan al-Kalbi.[2]

Tafsir Ayat

Allah Swt. berfirman, “Hal atâ ‘alâ al-insân?” (Bukankah telah datang kepada manusia?). Ayat ini diawali dengan huruf Hal yang merupakan istifhâm atau kata tanya: Apakah?

Dalam konteks ayat ini kata itu bermakna qad (sungguh). Sehingga: Hal atâ (Apakah telah datang) bermakna: Qad atâ (Sungguh telah datang).[3]

Adapun yang dimaksud dengan al-insân terdapat perbedaan. Menurut sebagian, manusia itu adalah Adam as.[4] Sebagian lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah jins al-insân. Artinya, mencakup seluruh manusia.[5] Alasannya adalah firman Allah Swt. selanjutnya, “Innâ Khalaqnâ al-insân.” (Sungguh Kami telah menciptakan manusia).[6]

Kemudian dilanjutkan: hîn[un] min al-dahr lam yakun syay‘a[n] madzkûr[an] (suatu waktu dari masa, sementara dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut). Yang dimaksud dengan hîn adalah bagian tertentu dari zaman atau waktu. Adapun kata ad-dahr adalah masa yang terbentang dan tidak terbatas.[7]

Baca juga:  Ujian dan Taklif Hukum (Tafsir QS al-Insan[76]: 1-3) Bagian 2/2

Menurut ayat ini, pada masa itu manusia bukan merupakan sesuatu yang disebut. Menurut sebagian besar mufasir, masa itu adalah masa empat puluh tahun. Saat itu Adam masih berupa tanah yang didiamkan dan belum ditiupkan ruh (roh) di dalamnya. Itulah ukuran masa yang disebutkan dalam ayat ini.[8]

Masa tersebut dinyatakan “belum merupakan sesuatu yang dapat disebut”. Pasalnya, ketika itu manusia belum menjadi sesuatu yang dikenal, tidak memiliki derajat dan kemuliaan, dan hanya berupa tanah liat yang keras dan menyerupai tembikar.[9]

Al-Khazin berkata, “Tidak disebut, tidak dikenal, tidak diketahui namanya dan tidak dikehendaki.” Itu terjadi sebelum ditiupkan ruh di dalamnya; menjadi sesuatu yang tidak disebut.[10]

Menurut az-Zuhaili, ketika itu manusia dilupakan dan belum ada. Saat itu Adam beserta anak-anaknya bukanlah sesuatu yang dikenal, belum diciptakan dan tidak disebut oleh khalifah yang mendahuluinya, yakni malaikat dan jin. Ini mengabarkan bahwa manusia pada awal penciptaannya tidak ada dan bukan makhluk.[11] Menurut Ibnu Katsir, manusia tidak disebut-sebut ketika itu karena keadaannya yang hina dan lemah.[12]

Kemudian Allah Swt. berfirman, “Innâ Khlaqnâ al-insân min nuthfah amsâj.” (Sungguh Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur). Ayat ini menerangkan bahwa Allah Swt. telah menciptakan manusia berasal dari nuthfah yang bercampur.

Jika dalam ayat sebelumnya terdapat perbedaan tentang siapa yang dimaksud dengan al-insân, dalam ayat ini kata tersebut jelas menunjuk kepada anak keturunan Adam.[13] Bahkan menurut Imam al-Qurthubi, dalam menafsirkan kata tersebut tidak ada perbedaan.[14] Hal itu karena disebutkan bahwa mereka diciptakan dari nuthfah amsâj (air mani yang bercampur). Ini jelas bukan Adam as. karena dia diciptakan dari tanah sebagaimana diberitakan dalam banyak ayat.

Baca juga:  Ujian dan Taklif Hukum (Tafsir QS al-Insan[76]: 1-3) Bagian 2/2

Secara bahasa, kata nuthfah bermakna air yang menetes. Yang dimaksud adalah air mani.[15] Menurut al-Qurthubi, asy-Syaukani dan yang lainnya, semua air sedikit yang berada dalam sebuah wadah adalah nuthfah.[16]

Kata amsâj berkedudukan sebagai sifat bagi kata nuthfah. Kata tersebut bermakna akhlâth (bercampur), merupakan bentuk jamak dari kata al-masyj atau al-masîj. Artinya, sesuatu yang sebagian darinya bercampur dengan sebagian yang lain.[17] Menurut para mufasir, nuthfah yang bercampur itu adalah air laki-laki dan air perempuan. Demikian menurut Ibnu Abbas, Ikrimah, al-Hasan dan Mujahid.[18]

Demikian juga menurut al-Hasan dan Rabi’ bin Anas. Mereka semua mengatakan bahwa amsyâj adalah air mani laki-laki yang bercampur dengan air mani perempuan.[19] Menurut ar-Razi, ini merupakan pendapat kebanyakan, sebagaimana diterangkan dalam QS ath-Thariq [86]: 7.[20]

Kemudian dijelaskan bahwa Allah Swt. yang menciptakan manusia akan menguji makhluk ciptaan-Nya. Disebutkan: Nabtalîhi (Kami hendak mengujinya). Maknanya: linabtalîhi (agar Kami mengujinya).[21]

Makna al-ibtilâ‘ adalah al-ikhtibâr (ujian). Banyak mufasir menafsirkan makna Nabtalîhi sebagai Nakhtabiruhu (Kami mengujinya).[22] Ujian kepada manusia itu berupa adanya berbagai taklif hukum yang dibebankan kepada mereka, baik perintah maupun larangan, ketika dia telah mampu melakukannya, yaitu sudah balig dan berakal.[23] Selain taklif-taklif hukum, ujian tersebut juga berupa kebaikan dan keburukan.[24]

Lalu disebutkan: Faja’alnâhu samî[an] bashîr[an] (Karena itu Kami menjadikan dia mendengar dan melihat). Untuk bisa menjalankan berbagai taklif hukum yang merupakan ujian dari Allah SWT, maka Dia memberi manusia perangkat. Itulah pendengaran dan penglihatan. Dengan begitu, menurut Ibnu Katsir, manusia dapat melakukan ketaatan atau kedurhakaan.[25]

Baca juga:  Ujian dan Taklif Hukum (Tafsir QS al-Insan[76]: 1-3) Bagian 2/2

Kemudian Allah Swt. berfirman dalam ayat berikutnya: Innâ hadaynâ as-sabîl immâ syâkir[an[ wa immâ kafûr[an] (Sungguh Kami telah menunjuki dia jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir). Selain diberi indera sebagai perangkat penting untuk berpikir, manusia juga diberi petunjuk oleh Allah SWT. Dalam ayat disebutkan: Innâ hadaynâ al-sabîl (Sungguh Kami telah menunjuki dia jalan). Kata hadaynâ bermakna: bayyannâ lahu wa ‘arrafnâhu (Kami menerangkan dan memberitahu dia).

Adapun as-sabîl bermakna ath-tharîq (jalan). Dalam konteks ayat ini, yang dimaksud adalah jalan petunjuk dan kesesatan; kebaikan, dan keburukan. Ini sebagaimana firman-Nya dalam QS al-Balad [90]: 10.26

Maknanya: Kami menerangkan kepada manusia jalan kebaikan dan jalan keburukan. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Ikrimah, Athiyyah, Ibnu Zaid dan Mujahid—menurut riwayat yang masyhur—serta Jumhur ulama.[27] Mujahid berkata, “(Maknanya) Kami menerangkan kepada manusia jalan kesengsaraan dan kebahagiaan.”[28]

Petunjuk yang berasal dari Allah Swt. itu disampaikan kepada manusia melalui para rasul-Nya. Imam al-Qurthubi berkata, “(Maknanya) Kami menerangkan dan memberitahukan kepada manusia jalan petunjuk dan kesesatan, kebaikan, dan keburukan, dengan mengutus para rasul.”[29]

Atas petunjuk dari Allah Swt. tersebut, sikap manusia pun terbelah. Ada yang menerima dan ada yang menolak. Allah Swt. berfirman, “Immâ syâkir[an] wa immâ kafûr[an].” (ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir).

Syâkir adalah orang yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT, mengimani-Nya dan mendapatkan petunjuk-Nya.[30] Itulah orang mukmin yang benar dalam keimanannya dan taat kepada Tuhannya.[31]

Sebaliknya, kafûr adalah orang yang mengingkari nikmat-Nya, berpaling dari ketaatan kepada-Nya, dan menentang petunjuk Ilahi.[32] Itulah orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan perjumpaan dengan-Nya (Hari Kiamat).[33] [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/2

One thought on “Ujian dan Taklif Hukum (Tafsir QS al-Insan[76]: 1-3) Bagian 1/2

Tinggalkan Balasan