[Sirah Nabawiyah] Pembagian Ganimah Perang Hunain

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH — Setelah mengakhiri pengepungan terhadap Thaif, Rasulullah Saw. bersama sahabat pergi menuju Ji’ranah, tempat pengumpulan harta rampasan perang dan tawanan dari perang Hunain.

Pasca perang Hunain, Rasulullah Saw. tidak langsung membagikan harta rampasan perang. Beliau Saw. memerintahkan untuk menghimpun seluruh ganimah kemudian disimpan sementara di Ji’ranah. Beliau menunjuk Mas’ud bin Amr al-ghifari untuk menjaga harta itu.

Ganimah yang Melimpah

Dalam perang Hunain, sungguh Allah Swt. memberikan ganimah yang sangat banyak. Ketika Rasulullah Saw. tiba di Ji’ranah, ada sekitar 6.000 tawanan terdiri dari anak-anak dan kaum wanita kabilah Hawazin. Ada 14.000 ekor unta, lebih dari 40.000 ekor kambing, perak sebanyak 4.000 uqiyah.

Penundaan pembagian ganimah Hunain dilakukan Rasulullah Saw. dengan harapan ada utusan Hawazin (musuh) yang datang untuk bertobat, sehingga mereka bisa mendapatkan harta mereka kembali. Namun, tidak ada seorang pun yang datang. Maka, Rasulullah Saw. mulai membagikan harta rampasan itu kepada pemimpin kabilah dan pemuka Makkah.

Pembagian Ganimah

Para mualaf yang hatinya masih lemah adalah yang diprioritaskan mendapatkan hadiah/harta dan jumlahnya lebih besar. Rasulullah Saw. memberi Abu Sufyan bin Harb seratus ekor unta, Hakim bin Hizam seratus ekor unta, Harist bin Harist bin Kaladah seratus ekor unta, Suhail bin Amr seratus ekor unta, Huwaithib bin Abdul Uzza seratus ekor unta, Ala’ bin Jariyah ats Tssaqafi seratus ekor unta, Uyainah bin Hisn seratus ekor unta, Aqra’ bin Habist At Tamimi seratus ekor unta, Malik bin Auf an Nashri seratus ekor unta, dan Shafwan bin Umayyah seratus ekor unta. Kepada orang-orang Quraisy yang lainnya, Rasulullah Saw. memberi mereka kurang dari seratus unta.

Baca juga:  [Nafsiyah] Titik Balik Kaum Muslim dalam “Perang Total”

Rasulullah Saw. memberikan ganimah kepada mereka yang baru masuk Islam untuk semakin mengukuhkan iman mereka dan memupus rasa benci yang selama ini terpendam. Terbukti, setelah pemberian ini, keimanan mereka menjadi semakin kuat dan siap berlaga di medan jihad, kecuali sebagian kecil saja yang tidak berubah.

Salah seorang di antara yang mendapatkan bagian itu yaitu Shafwan bin Umayyah. Dia berkata, “Demi Allah! Rasulullah Saw. telah memberikan bagian kepadaku padahal Beliau Saw. adalah orang yang paling saya benci. Beliau terus memberi sampai akhirnya Beliau Saw. menjadi orang yang paling aku cintai.

Kabilah Hawazin Masuk Islam

Setelah pembagian harta ganimah ini selesai, utusan dari Kabilah Hawazin datang menghadap Rasulullah Saw. Mereka menyatakan tobatnya dan masuk Islam. Mereka juga datang untuk meminta agar harta dan para tawanan perang dikembalikan kepada mereka.

Mendengar permintaan ini, Rasulullah Saw. memberi pilihan kepada mereka antara meminta harta atau anak dan wanita mereka. Mereka lebih memilih tawanan. Akhirnya, Rasulullah Saw. mengumpulkan para sahabatnya untuk mengembalikan para tawanan yang menjadi bagian mereka.

Beliau Saw. memberikan dua opsi kepada para sahabatnya, mengembalikan para tawanan itu dengan sukarela tanpa meminta ganti dari Rasulullah Saw. atau mengembalikan sembari meminta ganti dari ganimah yang lain.

Semua Sahabat mengembalikan para tawanan perang yang menjadi bagian mereka kepada Rasulullah Saw. untuk dikembalikan kepada keluarga mereka dari kabilah Hawazin, kecuali dua orang yang mengembalikan namun meminta ganti.

Kekuatan Iman Kaum Anshar atas Pembagian Ganimah

Pembagian ganimah seperti ini memantik keberatan sebagian kaum Anshar sehingga terucap kalimat yang tidak selayaknya diarahkan kepada Rasulullah Saw. Akhirnya, pembicaraan ini pun sampai ke telinga Rasulullah Saw.

Baca juga:  [Nafsiyah] Titik Balik Kaum Muslim dalam “Perang Total”

Lalu, Beliau Saw. mengumpulkan kaum Anshar dan mengajak dialog. Dialog yang sangat menyentuh yang membuat kaum Anshar menangis sejadi-jadinya.

Ini karena kaum Anshar sejatinya orang-orang beriman. Sehingga, mudah sekali diingatkan dengan panggilan iman.

Aku sudah mendengar keluh kesah kalian tentang ganimah Hunain,” ujar Rasulullah Saw. memulai dialog.

Wahai kaum Anshar sahabat-sahabatku, bukankah dulu aku mendapati kalian dalam keadaan tersesat, kemudian Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kalian? Bukankah dulu kalian kekurangan, lalu Allah mencukupi kalian? Bukankah dulu kalian berpecah-belah, kemudian Allah menyatukan hati-hati kalian?

Semua sahabat Anshar terdiam membisu. Tiada yang menjawab apalagi menyanggah perkataan Rasulullah. Mengapa tidak ada di antara kalian yang menjawab atau menyanggah pernyataanku?” ujar Rasulullah.

Dengan apa kami menjawabnya, ya Rasulullah. Semua kemuliaan milik Allah dan Rasul-Nya,” jawab sahabat Anshar.

Demi Allah, sekiranya kalian menjawab apa adanya, maka apa yang kalian katakan itu benar. Kalian bisa menjawab begini, ‘Ya Rasulullah, bukankah dulu kau didustakan, dan kami yang membenarkanmu. Bukankah dulu kau terhina, kami yang menolongmu?’” Sahabat-sahabat Anshar mulai menangis.

Mereka berseru, “Cukup ya Rasulullah, demi Allah, pernyataanmu (yang pertama) itulah yang benar.”

Namun, Rasulullah tetap melanjutkan, Bukankah dulu kau, ya Rasulullah, terusir, kami yang memberikan tempat tinggal kepadamu? Bukankah dulu kau kekurangan, kami yang memberikan kecukupan kepadamu?

Baca juga:  [Nafsiyah] Titik Balik Kaum Muslim dalam “Perang Total”

Tidak seperti itu, ya Rasulullah,” ujar sahabat Anshar dengan tangis yang makin deras.

Rasulullah Saw. pun melanjutkan, “Apakah kalian marah kepadaku hanya gara-gara urusan dunia yang sepele itu? Aku memberikan ganimah kepada mereka agar kuat keislaman mereka. Sedangkan, kalian adalah sahabat-sahabatku. Keislaman kalian telah teguh dan iman kalian telah kokoh. Apakah kalian tidak rida mereka pulang membawa unta, kambing, dan dirham, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah?”

Para sahabat Anshar tersentak hatinya dengan kalimat Rasulullah ini. Dalam gumam berbalut tangis mereka berujar, “Kami rida ya Rasulullah, kami rida ya Rasulullah. Cukup bagi kami rida darimu ya Rasulullah.”

Demi Allah yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya, andai bukan karena hijrah, maka aku pasti termasuk kaum Anshar. Jika Anshar menempuh satu jalan dan orang lain menempuh jalan yang berbeda, maka aku pasti mengikuti jalan yang ditempuh Anshar. Ya Allah, rahmati kaum Anshar, rahmati anak-anak kaum Anshar, rahmati anak cucu keturunan kaum Anshar, Rasulullah Saw. menutup sabdanya.

Sahabat-sahabat Anshar yang sedari tadi tak kuasa membendung tangisannya, semakin menjadi-jadi tangisnya. Dada mereka sesak dan bergemuruh. Mereka menyesali dirinya sendiri, mengapa sampai hati mereka menyusahkan hati Rasulullah Saw..

Walaupun tidak mendapatkan bagian ganimah perang Hunain, kaum Anshar tenang dan bahagia kembali ke Madinah bersama Rasulullah Saw, manusia mulia kekasih Allah SWT. [MNews/Rgl]


Disarikan dari: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al AzharPress

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *