Penderitaan Umat Tanpa Khilafah

Oleh: Farid Wadjdi

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Bulan Rajab adalah bulan di mana umat banyak merenungi peristiwa Isra Mikraj Rasulullah ﷺ.

Isra Mikraj adalah ujian keimanan untuk membuktikan siapa yang benar-benar yakin akan kekuasaan Allah dan siapa yang tidak; Siapa yang seutuhnya meyakini apa saja yang disampaikan Rasulullah ﷺ dan siapa yang tidak.

Pada bulan ini juga, umat Islam kehilangan suatu perkara yang amat penting, yaitu runtuhnya Khilafah Islamiah.

100 tahun sudah Khilafah dihancurkan penjajah Inggris dengan bantuan kaki tangan setianya la’natullah ‘alaih, Mustafa Kemal. Sejak itu, umat Islam didera berbagai penderitaan hingga saat ini. Semua ini terjadi sejak Khilafah Islamiah tak ada lagi.

Benar apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad ra., “Adalah fitnah (bencana) jika sampai tidak ada seorang Imam (Khalifah) yang mengatur urusan rakyat.”

Sungguh benar apa yang dikatakan Imam al-Ghazali dalam kitabnya al Iqtishod fi al I’tiqod. Imam al-Ghazali mengatakan agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah dasar dan kekuasaan adalah penjaganya.

Segala sesuatu yang tidak berdasar (tidak didasarkan pada agama) niscaya akan runtuh. Segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga (tidak ada Khilafah) niscaya akan hilang atau lenyap.

Beberapa malapetaka yang dialami umat Islam tanpa Khilafah antara lain:

Pertama, dalam bidang akidah.

Ketiadaan Khilafah Islam membuat umat Islam tidak bisa melaksanakan hukum-hukum Allah Swt. secara sempurna. Padahal, melaksanakan hukum Allah Swt. dalam segala perkara adalah wajib dan merupakan konsekuensi keimanan seorang mukmin.

Saat ini, sebagian besar umat Islam diatur berdasarkan hukum kufur, yaitu sistem kapitalisme sekuler. Sedangkan dengan sangat jelas Allah Swt. berfirman menyebut kafir bagi siapa pun yang tidak mau diatur hukum Allah Swt. [TQS. Al-Maidah (5): 44]. Bagaimana kita hendak mempertanggungjawabkan keimanan ini di hadapan Allah Swt. kelak?

Ketiadaan Khilafah juga telah mengancam akidah umat. Demokrasi, HAM (hak asasi manusia) dijadikan Tuhan baru pengganti hukum Allah Swt..

Ada yang dengan sombong menolak hukum Allah Swt. seperti hukuman mati dengan alasan hak asasi manusia. Ada juga dengan menggunakan alasan sekularisme menolak penerapan hukum Allah Swt. diterapkan negara.

Ketiadaan Khilafah juga menyebabkan umat tidak lagi memiliki pelindung akidahnya. Dengan alasan kebebasan beragama, kristenisasi berkembang subur di negeri-negeri Islam. Akibatnya, tidak sedikit umat Islam yang murtad.

Kedua, hukum Allah Swt. ditelantarkan.

Hukum Allah Swt. tidak mungkin diterapkan secara sempurna tanpa negara Khilafah. Khilafah adalah institusi politik yang menerapkan syariat Islam. Hari ini, syariat Islam hanya diterapkan dalam masalah moral, ritual, atau individual.

Sebaliknya, dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial, tidak lagi menggunakan hukum Islam. Hukum Allah diganti dengan hukum kapitalisme sekuler. Sedangkan Allah Swt. telah memerintahkan kita untuk menerapkan seluruh hukum Allah SWT tanpa kecuali.

Ketiga, umat Islam berpecah belah.

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi umat Islam seluruh dunia. Umat Islam dilarang memiliki lebih daripada satu pemimpin negara. Rasulullah Saw. tegas mengatakan, “Jika dibaiat dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang paling akhir daripada keduanya.” (HR Muslim)

Kesatuan kepemimpinan sangat penting. Bayangkan jika dalam kapal ada dua kapten kapal yang sama-sama memimpin, dalam rumah tangga ada dua pemimpin, pastilah muncul kekacauan. Karena itu, kesatuan kepemimpinan umat Islam di seluruh dunia menjadi sangat penting.

Ketiadaan Khilafah membuat umat Islam berpecah belah menjadi negara-negara bangsa yang kecil dan lemah di hadapan negara adidaya kapitalis. Negara-negara kecil itu pun semakin lemah tatkala hanya terkotakkan dengan kepentingan masing-masing, pun dengan kepemimpinan boneka. Padahal, semua orang paham dengan peribahasa ‘bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’.

Lihatlah, umat Islam yang jumlahnya lebih dari 1,5 juta di seluruh dunia, menjadi sangat lemah. Umat Islam bagaikan anak ayam yang kehilangan ibu, tidak ada yang memimpin.

Menghadapi Israel yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit dibandingkan negara-negara Arab saja kita tak mampu. Ketika AS menyerang Irak, negara-negara muslim di sekitarnya diam saja.

Keempat, umat Islam kehilangan pelindung.

Dalam Islam fungsi penting Khalifah adalah melindungi umatnya. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Imam/Khalifah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.(HR Muslim)

Ketiadaan Khilafah telah menjadikan nyawa umat Islam begitu murah. Padahal, di mata Allah, hancurnya bumi berserta isinya ini lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang muslim.

Puluhan ribu umat Islam dibantai di Bosnia, satu juta orang terbunuh sejak pendudukan AS di Irak, puluhan ribu rakyat awam terbunuh di Afganistan.

Detik demi detik tentara zionis Israel dengan sombong menumpahkan darah umat Islam di Palestina. Kami tegaskan, semua ini terjadi karena tidak ada lagi yang dapat melindungi umat ini!

Di mana pelindung umat? Di mana Khalifah yang melindungi umat?

Kekayaan alam negeri Islam pun tidak ada yang melindungi. Atas nama pasar bebas, kebebasan investasi, dan atas nama pembangunan, kekayaan alam yang merupakan kepemilikan umum (al milkiyah al amah) seperti minyak, gas, batu bara, dieksploitasi negara-negara kapitalis. Padahal, semua itu adalah milik rakyat. Akibatnya umat Islam miskin menderita, meskipun negeri mereka kaya.

Kesucian dan kemuliaan umat ini pun tidak ada yang melindungi. Lihatlah, Rasulullah Saw., Rasulnya 1,5 juta umat Islam di dunia ini dihina dan difitnah, Al-Qur’an dibakar, para muslimah diinjak-injak harga dirinya, generasi muda terdegradasi secara moral. Lebih dari itu, banyak dari umat muslim yang diam dalam kemaksiatan.

Kelima, tidak ada lagi pemimpin yang sungguh-sungguh mengurus dan mengatur umat Islam.

Islam dengan sangat tegas mengatakan fungsi Imam adalah bagaikan penggembala yang mengurus rakyatnya dengan serius, amanah, dan bertanggung jawab. Karena itu, dalam Islam, Khilafah wajib menjamin kebutuhan masyarakat, baik sandang, pangan, dan papan. Pun akses gratis bagi pendidikan dan kesehatan.

Ketiadaan Khilafah menjadikan umat Islam diatur dengan sistem sekuler kapitalis. Faktanya bisa kita lihat dengan sangat jelas dan nyata: Kemiskinan terjadi di mana-mana; pendidikan dan kesehatan mahal; umat tidak ada lagi yang mengurus; mereka hidup bagaikan tanpa negara. Apabila negara mengurus mereka, negara justru lebih berpihak kepada negara kapitalis.

Alih-alih menyejahterakan rakyat, tiba-tiba negara menaikkan harga minyak yang membuat beban hidup rakyat semakin berat. Negara sekuler kapitalis ini justru menarik subsidi untuk rakyat atas perintah IMF dan Bank Dunia meskipun rakyat menderita.

Mereka berutang meskipun utang telah menjerat negara. “Menjual” negara dengan alasan swastanisasi sesuai “fatwa” kesepakatan Washington, sementara rakyatnya miskin.

Karena itu, tidak ada pilihan lain. Sosialisme telah tumbang dan membawa derita. Kapitalisme justru menjadi pangkal penyebab berbagai bencana di dunia ini.

Pilihan kita tinggal satu, yaitu Islam, dengan menerapkan syariat Islam melalui institusi negara Khilafah. Tidak ada pilihan lain kecuali itu.

Pilihan Islam sebagai solusi inilah yang menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Berjuanglah terus, bersatulah bersama para pejuang Islam yang memperjuangkan syariat dan Khilafah tanpa lelah.  Insyaallah semua ini akan dicatat Allah Swt. sebagai pahala yang tiada bandingnya.

Jangan sekadar menjadi penonton, sebab tidak ada penonton yang mendapat piala, yang mendapat piala kemenangan adalah para pemain.

Sekali lagi, bergabunglah bersama حزب التحرير yang bersama umat Islam di seluruh dunia berjuang menegakkan kembali Khilafah Islam ‘ala minhajin nubuwah yang telah dijanjikan. Allahu Akbar! [MNews/Nsy-Gz]

Diterjemahkan dari https://m.facebook.com/mhtm1924

Tinggalkan Balasan