[News] Perempuan dan Gen-YZ Rentan Terpapar Radikalisme? Framing Berbahaya!

MuslimahNews.com, NASIONAL — Hasil penelitian BNPT menyebutkan bahwa perempuan, kalangan urban, generasi Z dan milenial, serta mereka yang aktif di internet berpotensi terpapar radikalisme.

Adapun motivasinya, mayoritas berkaitan dengan ideologi agama, yakni mencapai 45,5 persen. Sementara motivasi lainnya meliputi solidaritas komunal, balas dendam, separatisme, dan sebagainya.

Hal ini disampaikan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) periode 2007—2020 Hamli, dalam diskusi webinar dari The Center for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR). Diskusi ini bertajuk Intoleransi dan Ekstremisme di Media Sosial, pada Minggu (14/2/2021).

Framing Menyesatkan

Pengamat politik dan dunia kampus, drg. Hj. Luluk Farida mengungkapkan bahwa pernyataan direktur BNPT ini adalah framing bahaya dan menyesatkan. Ia bahkan merasa heran isu radikalisme ini terus-menerus dibahas dan ujungnya selalu menyalahkan agama.

Apalagi menurutnya, begitu banyak persoalan yang dihadapi kaum perempuan dan generasi. Seperti sulitnya persoalan hidup yang berujung pada kekerasan perempuan, stres sosial, arus liberalisasi, gangguan jiwa karena kecanduan gawai, serta gagalnya visi pendidikan dalam membina generasi yang berujung lost generation.

“Apakah semua itu karena penerapan ideologi Islam dan sistem Khilafah? Bukankah semua itu penyesatan?” tukasnya.

Hj. Luluk juga mengingatkan jika sistem yang sedang diterapkan saat ini adalah sistem sekuler demokrasi, bukan sistem Islam. Sehingga, semua persoalan yang dihadapi perempuan dan generasi tadi justru membuktikan gagalnya sistem sekuler demokrasi ini dalam melindungi perempuan dan generasi.

Baca juga:  [Editorial] Rezim Represif Telah Kembali

Bahkan menurutnya, munculnya isu radikalisme dengan menisbahkan pada ideologi agama adalah bentuk kejahatan tersistematis dengan mengkriminalisasi agama.

Hal ini ia duga sengaja dilakukan untuk memunculkan islamofobia di kalangan perempuan dan generasi. Targetnya adalah melenyapkan ideologi Islam pada benak kaum muslimin.

Padahal menurutnya, mustahil memisahkan karakter ideologi yang sudah lekat dengan akidah Islam. Begitu pun dengan Khilafah.

“Khilafah merupakan kepemimpinan yang satu untuk umat Islam yang akan menerapkan semua hukum Islam sebagai konsekuensi akidah. Khilafah sekaligus menjadi solusi persoalan hidup, bahkan mampu menghentikan hegemoni penjajahan atas kaum muslimin,” tegasnya.

Menyasar Perempuan dan Generasi

Hj. Luluk meyakini, proyek besar deradikalisasi akan terus “dijual” terutama untuk sasaran perempuan dan generasi. Sehingga ia berpendapat framing jahat ini ditujukan untuk menyerang Islam dan mencegah kebangkitan Islam.

Hal ini terkait peran strategis perempuan sebagai pendidik pertama generasi. Perempuan, menurut Hj. Luluk, memiliki potensi besar untuk menanamkan idealisme bagi anak-anaknya. Sejarah membuktikan, di balik prestasi hebat para ulama dan pahlawan Islam, ada para ibu yang mendidik mereka dengan roh [semangat] ideologi Islam.

Selain soal perempuan, Luluk juga secara khusus menyorot potensi demografi generasi milenial dan gen-Z yang cukup besar. Menurut data BPS 2020, jumlahnya hampir 54% dari jumlah seluruh penduduk.

Baca juga:  Konsistensi Indonesia dalam Program Deradikalisasi

“Potensi usia muda yang dipersatukan dengan ideologi Islam tentu akan menjadi modal utama kebangkitan Islam. Dan itu, tentu sangat menakutkan bagi musuh-musuh Islam,” tegasnya.

Sikap Kaum Muslimin

Lantas bagaimana menyikapi masifnya isu radikalisme ini? Setidaknya ada tiga sikap yang menurut Luluk harus dilakukan kaum muslimin.

Pertama, melakukan edukasi untuk memahamkan ideologi Islam dan sistem negaranya yakni Khilafah, sebagai konsekuensi keimanan kita kepada Allah Swt..

Kedua, harus membongkar fakta kegagalan sistem sekuler demokrasi yang menyengsarakan rakyat dan menyesatkan kaum muslimin dari agamanya.

“Sikap ketiga, kaum muslimin harus membongkar berbagai rancangan yang jahat dimainkan penjajah yang sengaja diarahkan pada Islam, seperti proyek radikalisme ini,” pungkasnya. [MNews/SNA-Gz]

Tinggalkan Balasan