Generasi Korban Kebijakan Industri

Oleh: Zikra Asril

MuslimahNews.com, FOKUS — Bonus demografi yang menandakan banyaknya usia produktif diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri. Sehingga, pemerintah menjadikan pendidikan vokasi strategi untuk memberdayakan generasi milenial dan generasi Z (gen-Z).

Strategi ini menunjukkan negara sangat tergantung pada arus kapitalisme global. Terlihat negara tidak punya visi mempersiapkan generasi untuk mewujudkan peradaban menjadi negara kuat dan mandiri.

Generasi untuk Kebutuhan Industri

Ideologi kapitalisme menemukan momentum kejayaannya saat munculnya revolusi industri. Prinsip persaingan bebas yang dianutnya membuat setiap era perkembangan industri menuntut setiap manusia harus terus beradaptasi agar tetap mampu bertahan. Itu semua berlaku bagi negara maju maupun negara berkembang.

Namun bedanya, negara maju menjadi subjek promotor dan leader membangun negara yang bervisi industri. Sedangkan negara berkembang hanya menjadi follower dan objek pasar  industri negara maju.

Di sinilah titik krusial yang harus dihadapi negeri-negeri Islam yang notabene masuk dalam kategori negara berkembang.

Indonesia yang mengalami bonus demografi akhirnya hanya akan menjadi follower dan pasar potensial bagi perkembangan industri negara maju. Oleh karena itu, yang bisa dilakukan penguasa negeri ini hanyalah menyiapkan regulasi bagi generasi milenial dan gen-Z menjadi pekerja atau buruh.

Pendidikan vokasi menjadi kebijakan yang harus digulirkan agar para kaum muda ini tidak menganggur. Pendidikan vokasi harus menciptakan lulusan yang berkompeten dan memiliki kemampuan yang diperlukan dunia usaha dan industri.1

Namun, dalam tataran global, arah industrialisasi sering kali  berubah cepat, yang dalam perjalanannya semakin mengurangi peran manusia karena berbasis teknologi tinggi.

Di saat Indonesia masih “terseok-seok” beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0) ,sekarang sudah muncul era mobil listrik yang diprediksi akan mengubah basis industri dari BBM ke electrical vehicle.

Lagi-lagi, kondisi ini membuat pemerintah Indonesia harus memperbaharui kebijakannya. Dalam setiap perubahan arah kebijakan industri, lagi-lagi pendidikan vokasi dituntut untuk bersinergi dan berinovasi.

Baca juga:  Aroma Kapitalis Pendidikan Vokasi SMK

Agar bisa beradaptasi, pemerintah sering kali mengubah kurikulum pendidikan vokasi. Begitu pun mendorong mahasiswa perguruan tinggi vokasi berkolaborasi dalam inovasi. Para dosen di perguruan tinggi vokasi dipacu agar giat melakukan riset berdasarkan kebutuhan pasar.2

Generasi Korban Industri

Arah pendidikan vokasi  akan selalu berubah mengikuti arus kebijakan industri dengan harapan mudah terserap lapangan kerja. Saat arah pendidikan vokasi berubah, tentu saja akan ada  jurusan yang “tidak laku” dan akhirnya harus ditutup. Bagaimana nasib lulusannya?

Pada akhirnya, generasi muda juga yang akan menjadi korban. Mereka hanya akan jadi pengangguran. Padahal, saat awal mengambil jurusan tersebut, mereka tentu tergiur dengan “iming-iming” lapangan pekerjaan yang siap menanti.

Tampak sekali negara tidak siap mengikuti arus industrialisasi global. Di satu sisi, generasi milenial dan gen -Z belum siap untuk bersaing dengan SDM negara lain. Sebagaimana data Asian Productivity Organization (APO) yang diterbitkan dalam APO Productivity Databook 2020, posisi produktivitas per pekerja Indonesia berada di bawah rata-rata tingkat produktivitas tenaga kerja enam negara ASEAN terbesar.3 Sedangkan di sisi lain, potensi  sumber daya alam Indonesia yang berlimpah menjadi rebutan kapitalis global.

Akhirnya pemerintah “coba-coba” membuat formula menyiapkan generasi milenial dan gen-Z agar sesuai tuntutan industri. Yang terbaru Dirjen Diksi Kemendikbud mengatakan adanya program SMK-D2 Jalur Cepat yang memadukan dua sistem, yakni Jepang dan Jerman.

Program SMK-D2 Jalur Cepat bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan tenaga kerja yang bersifat teknik. Dirjen Diksi juga mendorong agar program diploma tiga (D3) ditingkatkan menjadi diploma empat (D4) atau sarjana terapan.4

Sepertinya, pemerintah juga kurang yakin program ini akan berhasil, Akhirnya, disiapkan juga alternatif lain di mana pendidikan vokasi harus membentuk lulusan yang bisa menjadi wirausahawan mandiri dan tangguh.

Baca juga:  [News] Madrasah Vokasi, Madrasah Hebat Bermartabat Kelas Dunia?

Seperti penjelasan Dirjen Diksi Kemendikbud, “Baik pada level SMK maupun Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) harus mampu mendorong agar lulusannya menjadi wirausahawan mandiri dan tangguh, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya”.  5

Target ini pun akan mengalami hambatan yang sangat berat. Generasi milenial dan gen-Z dengan modal yang masih relatif kecil harus bersaing dengan dominasi korporasi global. Lagi-lagi lingkaran kapitalisme menghambat generasi muda Islam untuk mandiri.

Keberadaan generasi muda hanya akan “mengais-ngais” remah-remah ekonomi sebagai modal bagi mereka agar tetap memiliki daya beli produk industri negara maju. Di saat generasi milenial dan gen-Z dihadapkan pada persoalan seperti ini, perlu diwaspadai  tingkat kecemasan, depresi dan kriminalitas di kalangan generasi  muda akan semakin tinggi.

Terbaru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim meluncurkan Program Sekolah Penggerak untuk menghasilkan Pelajar Pancasila. Menurutnya, sistem pendidikan di Indonesia bertujuan untuk menghasilkan para pelajar yang sesuai dengan profil Pelajar Pancasila.6

Pertanyaannya apakah upaya ini mampu menyelamatkan generasi Indonesia dari ancaman kapitalisme global? Negara dengan profil Pancasila yang sudah berumur 75 tahun lebih ini saja terseok-seok membendung arus industrialisasi global.

Padahal, negara adalah institusi terkuat dalam kehidupan masyarakat. Apalagi bagi mereka yang secara umur masih muda dan harus bersaing untuk menyejahterakan diri mereka masing-masing. Tentu ini adalah solusi yang irasional.

Khilafah Menyiapkan Generasi Milenial dan Gen-Z Menjadi Khairu Ummah

Khilafah Islamiyah adalah negara independen yang tidak akan pernah tunduk mengikuti arus global. Politik industri khilafah berbasis pada kebutuhan militer mutakhir dan pemenuhan kebutuhan rakyat, bukan atas dasar kepentingan pasar negara kuffar.

Industri dimiliki dan dikelola mandiri oleh negara yang meliputi kemampuan untuk menguasai, mengendalikan dan menjamin keamanan pasokan aspek-aspek penting industri, seperti : bahan baku, teknologi,  rancang bangun, finansial, kemampuan untuk membentuk mata rantai industri yang lengkap, kebijakan serta sumber daya manusia (SDM)

Baca juga:  [Editorial] Indonesia Hebat dengan Pendidikan Vokasi?

SDM ini akan dihasilkan dari sistem pendidikan yang berbasis aqidah Islam . Visi pendidikan khilafah tidak berorientasi pada mainstreaming tenaga kerja global. Tapi merujuk pada wahyu Allah. Oleh karena itu kurikulum pendidikan khilafah tidak akan berubah-ubah. Tujuan pendidikannya adalah menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap Islam), Faqih Fiddin (penguasaan terhadap ilmu agama), Faqih finnas (terdepan dalam sains dan teknologi serta kreatif dan inovatif dalam konstruksi teknologi) dan memiliki jiwa pemimpin. Output pendidikan seperti  ini akan menghasilkan generasi milenial dan gen Z yang  jauh dari  persaingan duniawi dan individualisme. Karena orientasi mereka adalah kemaslahatan umat dan memberikan kebaikan bagi dunia. Semangat kolaborasi dan persatuan atas dasar ukhuwah Islamiyah akan menghiasi karya-karya mereka sebagai investasi terbaik bagi kehidupan akhirat nantinya.

Selain itu, khilafah akan melakukan upaya yang terencana dan sungguh-sungguh untuk membangun suasana bernegara yang kondusif untuk mensejahterakan rakyat. Berupa jaminan terpenuhinya kebutuhan primer(sandang, pangan, perumahan), terlaksananya layanan pendidikan yang baik dan sesuai  tujuan pendidikan.  Serta adanya jaminan kesehatan dan keamanan  bagi seluruh warga negara.

Oleh karena itu penerapan aturan Allah secara kafah dalam semua bidang adalah ikhtiar khilafah untuk mewujudkan generasi khairu ummah dan menjadikan Islam rahmatan lil ‘alamiin. Khilafah akan mengarahkan generasi milenial dan gen-Z untuk menyadari tujuan penciptaannya ke dunia. Harapannya akan terbentuk aqidah yang mantap dan mental yang kuat untuk menjalani kehidupan. [MNews]


Catatan Kaki :

  1. Disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wikan Sakarinto dalam rapat dengar pendapat Panitia Kerja Peta Jalan Pendidikan Komisi X DPR yang diikuti melalui siaran langsung akun YouTube DPR RI di Jakarta, 3/2/2021.
    https://www.antaranews.com/berita/1982067/kemendibud-pendidikan-vokasi-harus-sesuai-kebutuhan-dunia-kerja
  2. https://www.antaranews.com/berita/1982031/pemerintah-dorong-lembaga-pendidikan-vokasi-bersinergi-berinovasi
  3. https://www.antaranews.com/berita/1981974/dirjen-program-smk-d2-jalur-cepat-padukan-sistem-jepang-dan-jerman?utm_source=antaranews&utm_medium=related&utm_campaign=related_news
  4. https://m.republika.co.id/berita/qnu1il487/sdm-indonesia-kalah-produktif-dari-singapura-dan-malaysia
  5. https://www.republika.co.id/berita/qo3kuv349/dirjen-diksi-lulusan-vokasi-harus-jadi-wirausahawan-mandiri
  6. https://m.tribunnews.com/amp/nasional/2021/02/01/mendikbud-nadiem-makarim-program-sekolah-penggerak-untuk-hasilkan-pelajar-pancasila

One thought on “Generasi Korban Kebijakan Industri

  • 17 Februari 2021 pada 19:09
    Permalink

    Sungguh jauh berbeda pendidikan jaman sekarang dengan zaman dimana Islam diterapka dalam segala aspek kehidupan termasuk pendidikan dimana pendidikan ditujukan untuk mencetak generasi cemerlang yang memiliki akidah yang kuat untuk bisa menjadi pencipta bukan pengikut mengikuti yang orang lain ciptakan

Tinggalkan Balasan