B a n j i r

Oleh: Andi Detti Yunianti

MuslimahNews.com, FOKUS — Awal tahun 2021 ditandai dengan berbagai bencana alam: banjir, longsor, gempa bumi, dan bencana lainnya yaitu jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di wilayah Kepulauan Seribu.

Khusus bencana banjir yang melanda banyak wilayah di Indonesia, paling parah terjadi di Kalimantan Selatan. Curah hujan tinggi diduga menjadi penyebab banjir yang melanda sebagian besar wilayah di Indonesia.

Secara teknis, curah hujan yang tinggi memang bisa menyebabkan banjir, tetapi ini bukan satu-satunya faktor penyebab.

Privatisasi Hutan

Salah satu regulasi negara terkait pengelolaan hutan adalah HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yaitu hak untuk mengusahakan hutan di dalam suatu kawasan hutan yang meliputi kegiatan-kegiatan penebangan, pemudaan, pemeliharaan hutan, serta pengolahan dan pemasaran hasil hutan.

Hak konsesi 20 tahun dan dapat diperpanjang. Puncak dari kejayaan pengelolaan hutan terjadi pada tahun 1994, sektor kehutanan sebagai penyumbang devisa terbesar dan pada tahun 1995 ada sekitar 445 HPH dengan luas 54.060.599 ha yang beroperasi di wilayah Indonesia.

Dari data tahun 2018, jumlah HPH saat ini tinggal 283 HPH. Berkurangnya jumlah HPH seiring dengan berkurangnya tegakan yang akan dieksploitasi, atau pohon-pohon penghasil kayu yang berdiameter besar semakin berkurang. Beberapa eks HPH beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit, pemukiman, dan penggunaan untuk sarana prasarana.

Baca juga:  Bencana Banjir Mematikan: Pembangunan Kapitalistik dan Kebutuhan pada Khilafah

Tegakan hutan yang semakin berkurang menyebabkan curah hujan yang tinggi tidak lagi tertahan bagian-bagian pohon, tetapi langsung mengenai permukaan tanah. Kurangnya bagian atau daerah resapan air menjadi salah satu faktor tingginya air di permukaan.

Pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat sekitar hutan hanya seputar penggunaan untuk tempat tinggal, bahan makanan, dan bahan obat-obatan. Pemanfaatan ini secara alami akan berputar dan tidak akan mengganggu ekosistem hutan.

Namun, jika perusahaan besar diberi kuasa untuk mengelola hutan dengan menggunakan segala macam alat berat, inilah yang berdampak pada kerusakan hutan. Kewajiban menanam kembali pun hanya ditunaikan sekadarnya. Alhasil, impian kebijakan yang bisa menghasilkan sebuah tegakan dengan rotasi 20 hingga 30 tahun, hanya mimpi belaka.

Bukan Sekadar Persoalan Teknis

Inilah akibatnya jika pengelolaan sumber daya alam—dalam hal ini adalah hutan—diprivatisasi, di mana pengelolaannya diserahkan ke pihak swasta.

Pihak swasta tentu berpikir bagaimana meraup keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal sekecil mungkin. Penyerahan pengelolaan hutan kepada pihak swasta menyebabkan hutan alam tidak dapat lagi kita jumpai dalam luasan yang luas.

Eksploitasi yang berlebih tanpa adanya penanaman kembali mengakibatkan terjadi kerusakan hutan. Terjadilah banjir, longsor, erosi, sedimentasi, hilangnya biodiversitas, pendapatan negara akan kayu menurun. Kerugian besar berupa materi bahkan jiwa adalah dampak yang sangat dirasakan masyarakat secara umum.

Baca juga:  Banjir Massal, Mimpi Semu “Smart City”

Penurunan persentase penutupan lahan saat ini juga terjadi. Berdasar data statistik kehutanan, tahun 2011, luas penutupan lahan 98,7 juta ha berkurang menjadi 93,5 juta ha pada tahun 2018. Penurunan ini terjadi karena adanya konversi kawasan hutan untuk tujuan pembangunan, perkebunan, pemukiman, transmigrasi, perdagangan dan penebangan kayu ilegal, perubahan kawasan hutan, dan kebakaran hutan.

Secara umum, banjir yang melanda berbagai wilayah di Indonesia disebabkan banyaknya lahan yang berubah fungsi sehingga daerah resapan air berkurang, atau dengan kata lain, penyebab banjir bukan hanya aspek teknis tetapi juga dari sisi kebijakan. [MNews/Gz]

*Materi Diskusi WhatsApp Group pada Ahad (14/2/2021).

One thought on “B a n j i r

  • 16 Februari 2021 pada 20:04
    Permalink

    Astagfirullah, Kalimantan yg di juluki zamrud katulistiwa saja telah mengalami kerusakan, akibat banyaknya pembukaan lahan sawit yg seharusnya jadi jadi tanah resapan.

Tinggalkan Balasan