[Nafsiyah] Meraih Kemuliaan Bulan Haram

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Kaum muslim dulu telah begitu rupa memuliakan dan menjaga kehormatan bulan haram, termasuk Rajab.

Pada bulan ini mereka mempersembahkan amal-amal mulia dan spektakuler serta prestasi monumental yang dicatat dengan tinta emas sejarah untuk kemuliaan Islam dan kaum muslim.

Seyogianya kaum muslim saat ini pun memuliakan bulan-bulan haram, termasuk bulan Rajab ini, dengan melipatgandakan amal-amal terbaik.

Caranya setidaknya bisa dilakukan melalui dua pendekatan:

Pertama: Dengan berhenti dari apa saja yang menyalahi hukum Allah Swt. yang bisa mendatangkan murka-Nya. Misalnya, menghentikan muamalat-muamalat yang haram seperti riba, menjauhi hasad dan dengki, meninggalkan caci-maki, dan menjauhi segala tindakan yang melanggar hak orang lain.

Termasuk dalam hal ini meninggalkan segala bentuk kezaliman dan tidak mendukung orang-orang zalim, sebagaimana firman Allah Swt.,

وَلاَ تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ…

“Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka.” (QS Hud [11]: 113).

Apalagi jika pelaku kezaliman adalah para pemimpin, terutama yang suka berbohong. Rasul Saw. bersabda,

“Sungguh akan ada sesudahku para pemimpin. Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, ia bukan golonganku dan aku pun bukan golongannya dan ia tidak akan masuk menemaniku di telaga.” (HR an-Nasai, al-Baihaqi dan al-Hakim).

Baca juga:  Peristiwa Penting pada Bulan Rajab

Kedua: Dengan melaksanakan amal-amal saleh, giat melaksanakan kewajiban-kewajiban dari Allah Swt., dan memperbanyak amalan-amalan sunah.

Karena itu, pada bulan Rajab ini, misalnya, kita harus makin disiplin dalam menunaikan salat lima waktu; memperbanyak salat sunah, puasa sunah dan sedekah, menasihati orang lain, membantu orang lain, melakukan amar makruf dan nahi mungkar, dan amal-amal saleh lainnya.

Yang juga termasuk amal saleh adalah menunaikan fardu kifayah. Salah satunya menegakkan Khilafah, yakni dengan mengangkat dan membaiat imam/Khalifah yang bertugas menerapkan syariat Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.

Al-Imam al-Hafizh Abu Zakaria an-Nawawi asy-Syafii berkata,

“Umat Islam wajib memiliki seorang imam (Khalifah) yang menegakkan agama, menolong Sunnah, memberikan hak kepada orang yang dizalimi, menunaikan hak dan menempatkan hal tersebut pada tempatnya. Saya menyatakan bahwa menegakkan Imamah adalah fardu kifayah.” (An-Nawawi, Rawdhah ath-Thâlibîn wa Umdah al-Muftin, III/433)

Pelaksanaan kewajiban yang merupakan fardu kifayah itu dijelaskan Imam Abu Ishhaq asy-Syathibi di dalam kitabnya, Al-Muwâfaqât (I/179).

Beliau mengatakan,

“Karena itu siapa saja yang mampu atas wilâyah (kekuasaan), ia dituntut menegakkan kekuasaan itu. Siapa saja yang tidak mampu atas kekuasaan tersebut, ia dituntut dengan perkara lain, yaitu mengangkat orang yang mampu dan memaksa dia untuk menegakkan kekuasaan itu. Jadi, orang yang mampu dituntut menegakkan fardu itu, sementara orang yang tidak mampu dituntut mengadakan orang yang mampu itu…” [MNews/Gz]

Baca juga:  Nestapa Umat Tanpa Khilafah

Sumber: Buletin Kaffah No. 082 (8 Rajab 1440 H)

2 thoughts on “[Nafsiyah] Meraih Kemuliaan Bulan Haram

Tinggalkan Balasan