Yakin pada kebenaran, Terbuka untuk Perbaikan

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

MuslimahNews.com, FOKUS — Keyakinan atas sebuah pilihan merupakan hal yang penting dimiliki seorang muslim. Pilihan apa pun yang diambilnya dalam setiap aktivitas kehidupan akan berkonsekuensi pada pertanggungjawaban di pengadilan Allah kelak.

Karenanya, dia harus berhati-hati dan serius dalam menjatuhkan pilihan pendapat mana yang akan dia ikuti. Jika pilihan tersebut sebuah kebenaran, akan berbuah pahala. Sebaliknya, salah dalam mengambil keputusan, maka akan berujung penderitaan dan penyesalan di akhirat.

Namun, di zaman yang didominasi kapitalisme sekuler ini, tidak jarang sikap konsisten dalam kebenaran justru dianggap arogan dan disebut ingin menang sendiri. Bahkan, ada juga yang menuduhnya sebagai fanatisme dan ekstremisme yang harus dijauhi.

Ujungnya, tidak sedikit pilihan yang sudah diyakini harus dikorbankan atas nama toleransi dan demi menghormati pendapat orang lain.

Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terkait perbedaan pendapat? Bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap dalam menghadapi perbedaan? Tulisan berikut akan mengulasnya secara ringkas.

Seorang Muslim Tidak Boleh Meragukan Pendapat yang Diambilnya

 رأيي صواب ويحتمل الخطأ ورأي غيري خطأ يحتمل الصواب

“Pendapatku benar, tapi bisa jadi salah, dan pendapat selainku itu salah, tapi bisa jadi benar”.

Rangkaian kalimat di atas mencerminkan sikap yang luar biasa. Keyakinan terhadap kebenaran pendapat yang sudah diambil. Ketegasan serta keberanian untuk menyatakan sesuatu yang salah. Sikap inilah yang harus dimiliki seorang muslim.

Jika mempelajari sejarah kehidupan muslim dalam naungan sistem Khilafah terutama biografi para imam mujtahid, mereka merupakan orang yang sangat yakin dengan pendapatnya. Tentu saja keyakinan tersebut memiliki dasar yang kuat. Bukan asal mengklaim kebenaran diri sendiri dan sembarangan menyalahkan orang lain.

Mereka alim ulama yang sudah mencurahkan segenap kemampuannya untuk menggali atau istinbat hukum dari nas-nas syariat. Pendirian mereka bukanlah pendapat yang liar seperti yang dilakukan oleh orang-orang liberal saat ini. Pendapatnya senantiasa merujuk pada dali-dalil syariat.

Kesungguhan mereka dalam istinbat hukum merupakan salah satu sifat dari ijtihad itu sendiri. Sebagaimana diungkapkan Al-Qadhi Iyadh, ijtihad adalah upaya keras mencari kebenaran dalam suatu masalah. Sementara menurut Ibnu Hajib, ijtihad adalah mengerahkan kemampuan untuk mendapatkan hukum syar’i. (Faidh Al-Qadir, jilid 1, hlm. 331).

Jadi, para Imam ini justru dituntut harus sampai pada batas maksimal kemampuannya dalam menggali dalil-dalil. Dari proses ijtihad para imam ini diperoleh hukum syariat yang diduga kuat ghalabatuzhan pendapat itulah yang benar.

Kemuliaan aktivitas Ijtihad yang dilakukan para Imam mujtahid ini mendapatkan jaminan dari baginda Nabi ﷺ bahwa mereka akan tetap mendapatkan balasan pahala sekalipun hasil ijtihadnya salah. Demikianlah sabda Rasulullah ﷺ dalam sabdanya,

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ، فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ، فَلَهُ أَجْرٌ

“Apabila seorang hakim menghukumi suatu masalah lalu dia berijtihad kemudian dia benar, maka dia mendapat dua pahala. Apabila dia menghukumi suatu masalah lalu berijtihad dan dia salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” (HR Muslim)

Terkait hadis tersebut Imam An-Nawawi memberikan penjelasan sebagai berikut:

“Ulama muslimin telah sepakat, sesungguhnya hadis ini untuk seorang hakim yang benar-benar mengerti dan ahli dalam masalah hukum agama. Maka (orang yang seperti ini) jika benar, dia mendapatkan dua pahala, pertama pahala untuk ijtihadnya, dan kedua pahala untuk kebenarannya. Jika salah, maka dia mendapatkan satu pahala untuk ijtihadnya. Adapun seorang yang tidak ahli dalam hukum agama (bukan mujtahid), maka haram baginya untuk menghukumi suatu masalah. Jika dia menghukumi, maka tidak ada pahala baginya, bahkan dia telah berdosa dan hukumnya tidak berlaku, baik mencocoki kebenaran ataupun tidak. Karena kebenarannya, hanya bersifat kebetulan, tidak bersumber dari asal yang syar’i. Maka dia seorang yang berdosa dalam seluruh hukum (yang dia hasilkan), baik mencocoki kebenaran ataupun tidak. Maka hukum-hukum (yang dia hasilkan) tertolak semuanya dan tidak diberi udzur sedikitpun dari hal itu.” (Syarh Shahih Muslim : 12/14).

Berbeda dengan para ulama mujtahid, seorang muslim yang awam dan tidak memiliki kecukupan kemampuan dan ilmu untuk menggali langsung hukum syara dari dalil-dalilnya, dia dilarang melakukan penetapan hukum. Jika dia tetap memaksakan diri untuk menetapkan hukum, maka keputusannya rawan berasal dari hawa nafsu dan rentan terjerumus pada kesesatan. Karenanya, dia harus mengikuti hukum syara hasil istinbath seorang mujtahid. Keharusan mengikuti orang yang ‘Aalim diperintahkan Allah subhanahu wata’ala dalam firman Nya yang artinya, “…Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS An Nahl:43).

Namun demikian, penting diperhatikan, pilihan mereka tidak boleh semata taklid terhadap pendapat seorang ulama saja. Mereka mesti memiliki keyakinan bahwa hakikatnya mereka mengikuti hukum syara.

Kewajiban mendasar bagi seorang muslim adalah mengetahui hukum syara sebelum dia mengamalkannya. Sebagaimana kaidah syariah:

اَلأَصْلُ فِى أَفْعَالِ اْلإِنْسَانِ التَّقَيُّدُ بَحُكْمِ الله

“Pada dasarnya perbuatan manusia itu terikat dengan hukum Allah.” Di antara nas yang mendasari kaidah tersebut adalah sabda Rasulullah ﷺ,

كُلُّ أَمْرٍ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Setiap perkara yang bukan termasuk ke dalam urusan kami (tidak kami perintahkan) adalah tertolak.” (HR ad-Daruquthni).

Terkait kewajiban terikat dengan hukum syariat, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dengan gamblang dalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah (Jilid III) pada bab “Lâ Hukma qabla Wurûd asy-Syar’i (Tidak Ada Hukum Sebelum Ada Pernyataan Syariat).

Konsisten pada Kebenaran, Terbuka dengan Masukan

“Pendapatku benar, tapi bisa jadi salah. Dan pendapat selainku itu salah, tapi bisa jadi benar.” Kalimat ini bukan hukum syara juga bukan kaidah hukum, namun merupakan pernyataan para ulama. Boleh jadi di era demokrasi seperti sekarang perkataan tersebut akan sulit ditemui dalam kenyataan.

Lain halnya ketika khazanah tsaqafah Islam dalam sistem Khilafah sedang berada di puncaknya, dengan ditandai suburnya proses istinbat hukum syariat oleh para mujtahid. Pernyataan tersebut sudah biasa terlontar dalam menyikapi perselisihan, baik terjadi di kalangan ahli ijtihad ketika terjadi beda pendapat ataupun muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat biasa.

Sikap tersebut ini menyatu dengan keseharian para ulama. Mereka menguasai ilmu yang mumpuni dan senantiasa mengajarkan kepada umat dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan. Ketinggian ilmu mereka serta banyaknya amal saleh yang telah dijalankannya sudah tidak diragukan lagi. Namun, mereka tetap rendah hati dan berlapang dada untuk melakukan perbaikan jika ditemukan kesalahan pada pendapatnya.

Di antara ulama yang dikenal dengan pernyataan tersebut adalah Imam Asy Syafi’i. Perkataan beliau membuktikan beliau tidak ngotot mempertahankan pendapatnya jika ada pendapat lain dengan hujah yang kuat. Beliau tidak segan meninggalkan pendapatnya bahkan memerintahkan untuk membuangnya.

Berikut sepenggal pernyataan beliau yang dikutip oleh seorang ulama besar dan ahli sejarah pada abad ke-4 H, Abu Nuaim Al Asfahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya, 9:107:

كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي

Setiap masalah yang di sana ada hadis sahihnya menurut para ahli hadis, lalu hadis tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.”

Selain Imam Asy Syafi’i, ada Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit yang dilahirkan pada tahun 80 Hijriah, beliau berkata,

“Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah ta’ala dan kabar Rasulullah , maka tinggalkanlah perkataanku.” (Al-Fulani di dalam Al- lqazh, hal. 50).

Islam Wujudkan Pribadi yang Konsisten dan Tidak Arogan

Sejarah kehidupan dalam naungan Khilafah menunjukkan bahwa perbedaan untuk perkara yang mungkin berbeda bukanlah hal yang terlarang. Namun, semua tetap terjaga dalam ketaatan terhadap hukum syariat dan berpijak pada kekuatan dalil-dalilnya.

Seorang muslim juga mampu bersikap tepat dan bijaksana, tetap konsisten berpegang teguh pada hukum syara, tidak plinplan, apalagi berani melanggarnya.

Di sisi lain, dia mampu berlapang dada dengan perbedaan selama ada dalil syara yang mendasarinya. Dia pun jauh dari sikap arogan, tidak mudah menyesatkan orang lain, apalagi sampai mengkriminalkan ulama yang berseberangan pendapat dengannya. Jika ada perbedaan yang harus dipersatukan semisal penentuan awal dan akhir Ramadhan, maka Khalifah akan melakukan penetapan atau tabanni hukum. Wallaahu A’lam. [MNews/Gz]

One thought on “Yakin pada kebenaran, Terbuka untuk Perbaikan

  • 20 Februari 2021 pada 13:11
    Permalink

    Seorang muslim kuat berpegang pada Islam dan konsisten sehingga terbuka jalan melakukan perbaikan masyarakat

Tinggalkan Balasan