[Tapak Tilas] Masjid Tujuh, Jejak Kedahsyatan Perang Khandaq

Oleh: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Selain Masjid Nabawi, salah satu situs sejarah yang biasa dikunjungi para peziarah di kota Madinah adalah Masjid Tujuh atau Sab’u Masaajid atau al-Masaajid as-Sab’u. Posisinya ada di dekat jabal Sila sekira 2,5 km dari Masjid Nabawi ke arah barat daya.

Disebut demikian karena masjid ini awalnya terdiri dari tujuh masjid kecil yang didirikan di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz dan khalifah lainnya.

Masjid-masjid ini didirikan untuk menandai bekas pos-pos penjagaan para sahabat di saat berlangsungnya perang Khandaq atau perang Ahzab yang begitu dahsyat.

Ketujuh Masjid itu pun lalu dinamai dengan nama sahabat yang kala itu bertanggung jawab menjaganya. Yakni Masjid Salman al Farisi, Masjid Abu Bakar, Masjid Umar, Masjid Utsman, Masjid Ali, Masjid Fatimah, dan Masjid Fath.

Adapun Masjid Fath adalah masjid yang diketahui sebagai pusat komando, di mana Rasulullah Saw. tinggal di dalamnya untuk berjaga-jaga. Sementara Masjid Fatimah ada juga yang menyebutnya sebagai Masjid Sa’ad bin Mu’adz.

Hanya saja, saat ada proyek perluasan kota Madinah, dua masjid di antaranya terkena penggusuran. Maka tersisalah lima Masjid. Sehingga Masjid Tujuh pun akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Masjid Khamsah.

Lalu di area masjid ini dibangun Masjid yang sangat megah dan dinamai Masjid Khandaq atau Masjid Fath. Namun meski dinamai Masjid Fath, Masjid baru ini berbeda dengan Masjid Fath yang asli. Masjid Fath yang asli masih tetap berdiri bersama satu masjid kecil lainnya yang dibiarkan dalam keadaan terkunci.

Saat Negara dalam Ancaman

Sehari setelah kekalahan mengenaskan di Perang Uhud, Rasulullah Saw. langsung memobilisasi sisa pasukan. Lalu beliau melakukan pengejaran terhadap pasukan Quraisy hingga mereka lari ketakutan.

Hanya saja, tatkala Rasulullah Saw. kembali ke Madinah beliau melihat ada benih-benih perlawanan dari kalangan munafiqin yang melihat kekalahan di Uhud sebagai celah kelemahan umat Islam. Juga dari kaum musyrikin dan Yahudi yang selama ini melakukan perjanjian ketetanggaan dengan negara Islam di kota Madinah.

Maka, terjadilah beberapa peristiwa yang menggoyang stabilitas negara Islam. Seperti peristiwa ar-Raji, peristiwa Bir Ma’una, dan persekongkolan munafikin dengan Yahudi Bani Nadhir untuk membunuh Rasulullah yang berakhir dengan pengusiran Bani Nadhir ke luar kota Madinah. Dilanjut peristiwa Perang Badar terakhir, ekspedisi ke Bani Ghatafan, serta ekspedisi ke Daumatul Jandal yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin.

Pelan tapi pasti, kewibawaan dan posisi politik negara Islam pun makin meningkat dan kian diperhitungkan. Hal ini menambah kuat rasa iri dan dendam dari musuh-musuh kaum muslimin.

Hingga suatu ketika, terbetiklah berita bahwa sekelompok Yahudi Bani Nadhir sedang melakukan konsolidasi dengan kaum Quraisy untuk memerangi negara Islam.

Bahkan orang-orang Yahudi itu sangat aktif menghasut bangsa-bangsa Arab lainnya. Terutama bangsa-bangsa yang pernah kontak fisik dengan pasukan Rasulullah untuk melakukan balas dendam.

Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husain Haikal (Terjemah hal. 345) disebutkan, pihak Bani Nadhir, bahkan berhasil memobilisasi pasukan yang sangat besar.

Dari pihak Quraisy saja terkumpul 4.000 prajurit, 300 ekor kuda dan 1.500 orang dengan unta. Ditambah dari bani-bani lainnya, terutama bani Ghatafan hingga terkumpul pasukan sebanyak 10.000 orang.

Membangun Parit yang Fenomenal

Tentu saja kabar ini membuat kaum muslimin ketar ketir. Karena berarti seluruh bangsa Arab sudah bersatu untuk melawan negara Islam. Bahkan mereka membentuk pasukan Ahzab yang begitu besar.

Rasulullah saw. pun segera menyiapkan diri dan pasukannya hingga terkumpul sejumlah 3.000 orang. Dengan berbagai pertimbangan diputuskan bahwa kaum muslim akan menyambut musuh di dalam kota Madinah.

Atas saran Salman Al Farisi, wilayah-wilayah yang menjadi pintu masuk ke kota akan dibentengi dengan sebuah parit besar. Sementara pertahanan di dalam kota diperkuat dengan dibuat benteng-benteng.

Atas perintah Rasul Saw. mulailah seluruh warga kota berpartisipasi dalam penggalian parit. Panjang parit itu membentang di wilayah utara kota Madinah. Menghubungkan ujung Harrah Waqim dan Harrah Al-Wabrah yang posisinya terbuka dari pasukan musuh.

Adapun sisi lainnya, tidak dibuat parit karena kondisinya seperti benteng. Bangunannya saling berdekatan dan dipenuhi pohon-pohon kurma serta dikelilingi oleh perkampungan kecil yang menyulitkan unta dan pejalan kaki untuk melewatinya.

Dalam Kitab Ad-Daulah al-Islamiyah, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menyebutkan bahwa pengerjaan parit berhasil diselesaikan dalam 6 hari. Baginda Rasulullah Saw. sendiri turut serta dalam pengerjaan proyek ini.

Beliau turut menggali dan mengangkat tanah seraya terus memberi semangat kepada yang lainnya. Bisa dibayangkan betapa beratnya menggali parit sepanjang 5.544 meter, lebar 4,62 meter, dan kedalaman 3.234 cm itu. Apalagi posisinya di atas kaki bukit Sil’a yang berbatu dan dibuat dalam cuaca yang sangat dingin.

Mengenang Kedahsyatan Perang Parit dan Makar Kuffar

Menjelang perang, tembok-tembok rumah yang menghadap langsung ke arah musuh dijaga ketat. Sementara rumah-rumah hunian yang berada di belakang parit dikosongkan.

Adapun kaum wanita dan anak-anak dibawa dan dikumpulkan dalam rumah-rumah yang dijaga. Lalu di samping parit dari arah Madinah ditaruh pula batu-batu yang siap dilemparkan sebagai senjata.

Pada hari dimulainya peristiwa Perang, di bulan Syawal tahun ke-5 Hijriah, Rasul saw. pun keluar bersama pasukannya. Lalu beliau berdiri membelakangi Jabal Sila’ dan menempatkan pasukannya di bibir parit. Di sanalah beliau mendirikan kemah-kemah dengan warna merah berikut pos-pos penjaganya.

Adapun pihak Quraisy dan sekutunya, mereka berharap bisa bertemu dengan pasukan Muhammad di daerah Uhud. Nyatanya, mereka mendapati tempat itu kosong. Mereka pun meneruskan perjalanan menuju Madinah dan terkejut ketika kota itu telah dihalangi parit besar.

Mereka pun berpikir, tak mungkin menerobos parit selebar dan sedalam itu. Maka mereka pun membuat markas di sekitar Ruma dan Dhanab Naqama.

Selama beberapa hari tak ada yang dilakukan oleh kedua pasukan selain saling melempar panah. Sementara bagi pasukan Ahzab seolah tak ada harapan untuk memenangi peperangan.

Terlebih waktu itu sedang terjadi musim dingin yang luar biasa, disertai badai dan ancaman hujan. Maka hati dan pikiran mereka pun mulai dihinggapi rasa putus asa, hingga nampak tanda-tanda mereka akan undur pulang.

Keadaan inilah yang dibaca oleh Huyyay bin Akhtab, pemimpin pasukan Yahudi Nadhir yang sebelumnya berhasil menghimpun mereka. Tentu dia tak ingin usahanya sia-sia.

Maka dia pun menjanjikan kepada mereka akan diperolehnya dukungan Bani Quraidzah yang ada di dalam kota Madinah. Hingga mereka akhirnya mau bertahan menunggu keadaan.

Saat itulah dia mencoba mendatangi dan membujuk Ka’ab bin Asad pimpinan Bani Quraizah untuk membatalkan perjanjian dengan pihak Rasulullah. Bujukan ini pun berhasil, hingga mereka berbalik membahayakan kaum muslim. Menusuk dari belakang.

Mereka mulai memutuskan bantuan termasuk bahan makanan. Mereka bahkan siap membuka pintu Madinah untuk pasukan Ahzab hingga mental mereka bangkit kembali. Sementara di saat yang sama, ketakutan mulai menghantui pasukan kaum muslim.

Di saat itulah, pasukan Ahzab mulai menceburkan diri ke dalam parit hingga bentrok fisik pun tak terelakkan. Sementara pasukan Yahudi Bani Quraizah mengobrak-abrik pertahanan kaum muslim dari dalam kota Madinah hingga keadaan terasa begitu mencekam.

Namun Rasulullah begitu yakin akan pertolongan Allah. Dan pertolongan itu datang melalui Nu’aim Bin Mas’ud, seorang yang baru masuk Islam yang keislamannya tidak diketahui baik oleh kaum Quraisy, Bani Quraizah maupun Bani Gathafan.

Maka Nu’aim mendatangi satu persatu kaum itu dan berhasil menghasut mereka satu sama lain hingga muncul saling curiga di antara mereka. Abu Sofyan misalnya, ternyata mendapati Bani Quraizah menolak untuk berperang di hari Sabtu. Begitu pun Bani Ghatafan merasa bahwa pulang lebih baik bagi mereka.

Hal ini diperkuat dengan datangnya pertolongan Allah kepada kaum Muslimin. Angin topan bercampur petir disertai hujan yang sangat lebat terjadi di tengah malam itu. Membuat kemah-kemah mereka porak-poranda.

Dan ketakutan pun merasuki jiwa mereka. Hingga memaksa mereka pulang setelah 27 hari bertahan di pinggiran kota Madinah tanpa beroleh apa-apa.

Adapun Bani Quraidzah saatnya mereka mendapat hukuman yang pantas dari negara Islam. Rasulullah Saw. memerintahkan Sayidina Ali dan pasukannya membunuh mereka yang turut berkhianat dan merampas kekayaannya.

Maka setelah itu Madinah pun bersih dari rongrongan musuh baik yang ada di luar maupun di dalam. Hingga beberapa waktu kemudian rongrongan baru kembali datang.

Kesuksesan perang Khandaq ini tercatat dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Ahzab: 9).

Hanya Tinggal Sisa Jejak

Saat ini, parit yang fenomenal itu sudah hilang tak berbekas tertutup semen beton. Namun, jejak yang tersisa semestinya cukup untuk memberi pelajaran tentang beratnya perjuangan mempertahankan kemuliaan Islam dan umat Islam sebagai bukti iman serta tentang pentingnya memelihara keyakinan akan pertolongan Allah Swt. kepada mereka yang serius berjuang.

Sungguh pos-pos pertahanan umat Islam hari ini sudah tiada sejalan dengan hilangnya institusi politik negara di tangan musuh-musuhnya. Namun, ketahanan ideologis tetap harus senantiasa kokoh terjaga.

Dengannya, spirit perjuangan mengembalikan kemuliaan Islam akan terus terpelihara. Di tengah segala fitnah dan ancaman yang terus datang baik dari luar maupun dari dalam “tubuh” mereka. [MNews/Juan]

One thought on “[Tapak Tilas] Masjid Tujuh, Jejak Kedahsyatan Perang Khandaq

Tinggalkan Balasan