[Remaja] Virtual Date, Kencan di Dumay, Dosa pun Dituai!

MuslimahNews.com, REMAJA — Masa pandemi seolah tak bisa ditebak kapan usainya, Sob. Meski demikian, pandemi tak lantas memutus interaksi, loh. Banyak cara untuk tetap terhubung satu sama lain. Meet up dalam jaringan bisa jadi alternatif.

Sederet aplikasi bisa digunakan para user untuk meeting. Bisa untuk sekolah, kuliah, tetapi ada juga yang menyalahgunakannya untuk aktivitas yang tidak syar’i. Wah, ini sih bikin miris, ya.

Tapi begitulah realitas yang ada di sekitar kita. Di tengah kungkungan sistem hidup yang serba bebas seperti saat ini, interaksi terlarang via pacaran seolah perkara yang biasa. Interaksi ini bahkan jadi life style. Ga pacaran, ga asik, katanya. Hadeeh!

Nah, di masa pandemi seperti saat ini, mobilitas memang dibatasi. Remaja kadung terhipnotis kudu pacaran, mereka tak kehabisan akal mencari cara untuk tetap terhubung dengan sang pacar.

Bukan sistem sekuler namanya kalau tidak menciptakan iklim yang kondusif agar remaja bisa terus bermaksiat. Jadilah hubungan terlarang ini difasilitasi lewat sejumlah aplikasi. Gila, ya? Maksiat kok difasilitasi.

Sebut saja salah satu dating agency di Asia, Lunch Actu*lly, menawarkan pilihan virtual date alias berkencan tanpa harus bertatap muka. Langkah ini dilakukan mereka untuk pertama kalinya di Indonesia setelah wabah Covid-19 makin marak. Malu-maluin, ih. Ada aja jalan untuk berbuat dosa.

Sebelum melakukan virtual date alias kencan online, mereka yang tertarik melakukannya akan mendapatkan kesempatan untuk berkonsultasi lewat video dengan matchmaker. Tujuan dari konsultasi ini untuk mengetahui preferensi dalam mencari pasangan. Setelah itu, matchmaker akan mencocokkan profil pengguna dengan profil yang dirasa cocok dengan preferensi profil tersebut.

Bagi member yang sudah bergabung, Lunch Actually akan mengatur jadwal virtual date melalui video call. Member hanya perlu mempersiapkan diri untuk kencan dan mengobrol.

Proses virtual date ini memiliki durasi yang bervariasi tergantung dari chemistry antara keduanya. Bila merasa klop, virtual date bisa berlangsung hingga berjam-jam. Panen dosa, Bro and Sist!

Menggunakan platform yang lain, remaja bisa menghabiskan waktu hanya untuk ngobrol bareng pacar virtual. Di medsos bahkan tengah viral kisah seorang YouTuber yang membagikan obrolan virtualnya dengan seorang wanita asal Kazakhstan.

Netizen pun bereaksi, reaktifnya kebangetan pula, menyebut mereka sebagai sepasang kekasih virtual. Jagat maya nyaris tak pernah sepi menyuguhkan kisah sang YouTuber dan pasangan online-nya itu.

Saking antusiasnya, tak sedikit netizen yang membuat meme, parodi obrolan virtual, hingga bertebaran akun abal-abal dengan tujuan pansos.

Semesta maya seolah larut dalam drama cinta online dan romantisme jarak jauh. Saking terlenanya, tak disadari nyaris separuh waktu habis hanya untuk mengikuti kisah cinta virtual mereka.

Saking larutnya, netizen sampai lupa banyak pelanggaran hukum syara’ di sana.  What? Pelanggaran hukum syara’? Di mana pelanggarannya?

Jarak Jauh Bukan Tanpa Dosa, Loh!

Di dunia maya bukan berarti kita sah-sah saja melakukan apa pun, Sob. meski terpisah jarak dan waktu, namun aktivitas tetap dalam pantauan Allah Swt.. Teknologi hanyalah sarana untuk kita saling berinteraksi.

Hukum asal benda itu ya mubah, alias boleh-boleh saja. Namun ingat, aktivitas yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.. Jadi, jarak jauh bukan berarti bebas dari hukum Allah.

Islam memiliki seperangkat aturan mengenai hubungan antara antara laki-laki dan perempuan nonmahram di dunia maya. Sama dengan dunia nyata, interaksi laki-laki dan perempuan hanya boleh dilakukan jika terdapat hajat (keperluan) yang dibenarkan oleh syariat Islam, seperti silaturahmi, berdakwah, belajar, berobat, meminta fatwa, melakukan akad seperti jual beli, akad kerja, utang piutang, dsb..

Dengan sendirinya, pembicaraan yang dilakukan bukan sesuatu yang menjurus pada selain dari masala-masalah tersebut. Jika pembicaraan yang dilakukan di dunia maya sudah di luar dari batasan tersebut, artinya mereka sudah melakukan interaksi yang tidak diperbolehkan syara’ alias haram.

Kok haram? Ya iya haram, karena hukum asalnya laki-laki dan perempuan nonmahram itu wajib infishal (terpisah), baik dalam kehidupan umum (seperti di jalan, kampus), maupun dalam kehidupan khusus (seperti di rumah).

Kewajiban infishal ini telah ditunjukkan sejumlah dalil, seperti hadis yang mengatur saf salat kaum wanita di belakang saf kaum laki-laki. Juga hadis yang memerintahkan kaum wanita keluar masjid lebih dahulu setelah salat jemaah. (Taqiyuddin An Nabhani, An Nizham Al Ijtima’i fil Islam, hlm. 38-39; Muqaddimah Ad Dustur, 1/317-318).

Nah, sekarang coba identifikasi pembicaraan virtual yang dilakukan pasangan-pasangan online itu. Sudahlah penuh gombalan, pembicaraannya mengumbar perasaan yang memancing syahwat pula.

Didukung Sistem Buat Maksiat

Sobat remaja, sadar atau tidak, remaja muslim adalah sasaran empuk para pengusung kebebasan. Dunia maya dibuat kondusif untuk konten-konten yang menjual ide kebebasan dan menjauhkan remaja dari perannya sebagai agen perubahan.

Saat ini, boro-boro jadi agen perubahan, remaja justru dibuat terlena dengan dunia maya. Tak dimungkiri, perkembangan teknologi menawarkan berbagai hal yang justru memandulkan daya kritis remaja.

Alih-alih memanfaatkan teknologi untuk hal-hal berfaedah, remaja justru disibukkan dengan aktivitas yang nirfaedah.

Lihat saja aplikasi yang bertebaran, tak hanya menguras kuota dan waktu kamu, tapi juga memandulkan daya kritis atas berbagai masalah masyarakat.

Karena terbiasa sama yang enteng-enteng, joget-joget tak jelas yang penting viral, ikut challenge yang tak jelas tujuannya apa, akhirnya saat disuguhkan berita politik, eh pada melongo. Padahal, sebagai pemuda para remaja harusnya peka dengan masalah di sekitarnya, ya kan?

Nah, sayang, kan, kalau kecerdasan remaja kita dibajak pemikiran liberal. Sayang banget kalau kreativitasnya disalurkan hanya untuk memproduksi konten yang tak berkontribusi untuk kebangkitan umat.

Sebagai agent of change, remaja juga kudu sadar akan peran pentingnya melakukan perubahan. So, jangan habiskan waktu sekadar menikmati konten-konten nirfaedah kayak gitu, ya. Catat baik-baik, kafir Barat tak akan berhenti menempuh berbagai macam cara untuk memalingkan para pemuda muslim dari urusan agamanya.

Mereka akan dibuat lupa, dengan syariat Islam yang agung hingga tak punya gambaran bagaimana sosok pemuda ideal dalam Islam. Ngeri, ya! [MNews/Juan]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

3 komentar pada “[Remaja] Virtual Date, Kencan di Dumay, Dosa pun Dituai!

  • 19 Februari 2021 pada 21:57
    Permalink

    Pengusaha dapet untung. Remaja Islam dapat kerusakan pergaulan. Negara harus menghapus aplikasi tersebut dan tak boleh membiarkan beredar meracuni generasi muslim.

    Balas
  • 19 Februari 2021 pada 15:07
    Permalink

    Bukan sistem kapitalis namanya kalo tdk memberi sarana agar remaja terjerumus maksiat

    Balas
  • 15 Februari 2021 pada 06:42
    Permalink

    Hal-hal receh dan unfaedah bertaburan di sistem kufur ini

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.