Praktik Perdukunan, Bagaimana Pandangan Islam?

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FOKUS — Seperti diketahui, lebih seminggu terakhir ini, kita dihebohkan dengan munculnya Perdunu (Persatuan Dukun Nusantara) Indonesia. Pasalnya, organisasi yang mengaku sebagai perkumpulan dukun ini berencana menggelar Festival Santet 2021 sebagai program kerjanya.

Sontak hal tersebut menuai protes dari sejumlah pihak, tidak hanya masyarakat Indonesia, tapi juga masyarakat Banyuwangi sendiri. Festival Santet dinilai kontroversi dan dapat merusak citra Banyuwangi sebagai Kota Pariwisata. Tak hanya itu, festival tersebut dianggap akan membuka luka lama atas Tragedi Santet Banyuwangi 1998.

Perdunu kemudian diminta agar mengganti penggunaan istilah santet dan dukun yang menjadi nama organisasi tersebut. Terlebih, MUI sudah mengeluarkan fatwa yang melarang praktik perdukunan.

Perdunu Indonesia akhirnya memutuskan untuk menghapus Festival Santet setelah menggelar rapat internal, pihaknya sepakat untuk menghilangkan istilah santet dalam setiap kegiatan Perdunu.

Keputusan ini diambil, karena berdasarkan masukan-masukan dalam forum klarifikasi di Kantor Disbudpar Banyuwangi beberapa hari yang lalu, kata santet memang memiliki makna yang tabu dan menimbulkan keresahan di masyarakat.

Kendati demikian, pihaknya belum bisa mengganti kata dukun dalam penamaan organisasi tersebut. Hal ini dikarenakan makna dari kata dukun tersebut masih bias. Gus Fahru, penasihat Fordanu menilai praktik perdukunan khususnya yang berkonotasi positif sudah menjadi kearifan lokal bagi masyarakat Banyuwangi, seperti pengobatan alternatif dan lain sebagainya. (Nusadaily.com, 3/2/2021)

Fakta Perdukunan dan Mengapa Tumbuh di Negeri Ini?

Dalam KBBI, dukun diartikan sebagai orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dsb). Praktik perdukunan di negeri ini memiliki akar dalam sejarah.

Perdukunan memang sudah dikenal lama masyarakat Indonesia. Ilmu ini turun-temurun dan terkadang diwariskan, hingga saat ini dukun masih mendapatkan tempat bukan saja di sisi masyarakat tradisional, tetapi juga di tengah lingkungan modern. Ironisnya, ini terjadi di masyarakat yang mengaku religius dengan berbagai macam bentuk praktiknya.

Jika kita telusuri lebih jauh, memang tidak dapat dimungkiri praktik seperti ini akan marak terjadi di negeri yang menganut demokrasi kapitalis. Negara kapitalis terbukti mandul menjaga akidah umat bahkan—lebih keji lagi—menyuburkan beragam kekufuran dan kemungkaran.

Hal itu terbukti dari legislasi praktik perdukunan dan perkumpulan yang tergabung di dalamnya dukun dan paranormal; serta tersebarnya buku, acara program TV, majalah, dan tabloid yang menyebarkan ajaran sesat, khurafat, mempromosikan perdukunan, klenik, dan sebagainya. Sebab, sistem ini mengusung kebebasan berakidah dan kebebasan berperilaku.

Baca juga:  Pejabat Yakini Klenik: Menolak Berkah, Mengundang Azab

Perdukunan dalam Pandangan Islam

Dalam Islam, ada beberapa istilah yang memiliki konotasi dengan perdukunan. Terkadang istilah tersebut dipakai untuk makna yang sama, namun sering kali dipakai dalam makna berbeda.

Istilah tersebut ialah kâhin (dukun), ‘arrâf (peramal), rammal (tukang tenung), munajjim (ahli nujum), dan sâhir (ahli sihir).

Pemakaian istilah tersebut dalam makna yang sama lantaran kesamaannya, yaitu dari sisi pengakuan mengetahui hal-hal gaib dan penerimaan info tentang hal gaib tersebut dengan bantuan setan atau jin.

Istilah kâhin disebutkan dalam Al-Qur’an al-Karîm, yakni:

فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ

“Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang kâhin dan bukan pula seseorang yang gila. (QS Ath-Thûr [52]: 29)

Dalam tafsirnya, Imam Syihabuddin al-Alusi menjelaskan,

“(Dukun) adalah orang yang mengabarkan berita gaib sejenis ramalan belaka, dan Imam ar-Raghib mengkhususkan kâhin sebagai seseorang yang mengabarkan hal-hal yang telah terjadi yang bersifat rahasia. Adapun ‘arrâf (peramal) sebagai orang yang mengabarkan hal-hal yang akan terjadi. Dan sudah menjadi hal yang masyhur dalam dunia perdukunan, (kâhin ‘arrâf) memperoleh berita-berita gaib dari bangsa jin.”

Sedangkan Syaikh Shâlih Fauzan hafizhâhullah dalam I’ânatul-Mustafîd, hlm. (2/171), menjelaskan,

Kâhin (dukun) adalah orang yang mengaku mengetahui tentang hal-hal gaib pada masa yang akan datang dengan cara melalui setan (jin) atau orang yang mengaku mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati. Padahal, tidak ada yang mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang kecuali Allâh Azza wa Jalla, akan tetapi setan bisa mengetahui perkataan hati seseorang melalui bisikan-bisikan yang dilakukan setan kepadanya. Karena setan berjalan dalam diri manusia seperti mengalirnya darah dalam tubuh manusia.”

Pengetahuan terhadap berita gaib tersebut hanyalah klaim dan kedustaan mereka semata, yang dibuat-buat oleh setan-setan golongan jin, lalu dibisikkan kepada para dukun ini.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ (١) تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (٢) يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ (٣)

“Apakah akan aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (QS Asy-Syu’arâ [26]: 221-223)

Ketika menafsirkan frasa (كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ), Qatadah menafsirkan sebagaimana diketengahkan al-Hafizh ath-Thabari dalam tafsirnya,

“Mereka ini adalah para dukun yang Bangsa Jin mencuri dengar berita langit, kemudian mereka menyampaikannya kepada sekutu-sekutu mereka dari Bangsa Manusia (para dukun).”

Baca juga:  Mewaspadai Kesyirikan Berbalut Pengobatan Islami

Padahal, pascaturunnya risalah Islam, para jin dihalangi untuk mencuri dengar berita langit, Syaikhunâ al-‘Alim ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah dalam kitab At-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr menjelaskan bahwa sungguh dahulu setan-setan golongan jin sebelum Islam mencuri dengar berita dari langit dan mencampurkan di dalamnya beragam jenis kedustaan dan mewahyukannya kepada sekutu-sekutu mereka.

Maka malaikat penghuni langit dunia saling bertanya pula di antara sesama mereka, sehingga berita tersebut sampai ke langit dunia. Maka para jin berusaha mencuri dengar, lalu mereka sampaikan kepada wali-walinya (tukang sihir). Sehingga mereka dilempar dengan bintang-bintang tersebut. Berita itu mereka bawa dalam bentuk yang utuh, yaitu yang sebenarnya tetapi mereka campur dengan kebohongan dan mereka tambah-tambahkan. (HR Muslim)

Lalu Syekh ‘Atha’ menegaskan sesungguhnya para jin telah dihalangi dari perbuatan mencuri dengar berita langit setelah turunnya risalah Islam dengan dalil: “Dan sesungguhnya kami (para jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya) tetapi sekarang. Barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (QS Al-Jin: 9)

Jelas, kedustaanlah yang menjadi andalan para dukun ini. Syekh Hatim asy-Syarbati menegaskan, perbuatan manusia meminta bantuan jin menggiring manusia kepada berbagai penyimpangan dan kesesatan yang tak diketahui akhirnya kecuali oleh Allah, terkadang jin menggiring manusia kepada kekufuran dan kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

Dari penjelasan para ulama di atas, jelaslah praktik perdukunan sekarang yang dalam Al-Qur’an dan hadits disebut dengan kâhin, dengan berbagai macam bentuknya—termasuk ramalan—menyimpang dari akidah Islam dan membawa kepada syirik.

Karenanya, praktik perdukunan adalah haram dan pendapatan dari perdukunan ini pun haram. Dalam hadis shahih disebutkan, “Nabi saw. melarang upah dari hasil penjualan anjing, upah pelacuran, dan upah dari perdukunan.” (HR al-Bukhârî, Muslim, al-Tirmidzi & Abu Dawud).

Harta yang diberikan kepada dukun karena amal perdukunannya diqiyaskan dengan istilah hulwan, yakni sesuatu yang manis seperti permen, seakan-akan menggambarkan bahwa dukun meraihnya dengan cara yang mudah yang pada hakikatnya merupakan penipuan dan memperoleh harta manusia dengan cara yang batil.

Khilafah Menjaga Akidah Umat

Baca juga:  'Teror' Pariwisata Syirik Pengundang Bencana

Sangat jelas, praktik ramal dan perdukunan (kaahin) yang terjadi saat ini, seperti praktik pengobatan dengan jampi-jampi, jimat, dan sebagainya; atau menerawang suatu kejadian, adalah menyimpang dari Islam dan membawa kepada kekufuran dan perbuatan syirik, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan guna-guna adalah syirik.” (HR Abû Dawud, Ahmad & Ibnu Majah)

Di sinilah kita sebagai seorang muslim harus selalu waspada, menolak, sekaligus membendung upaya yang dapat menjauhkan umat Islam dari akidah dan pemikirannya yang lurus.

Disertai dengan terus menanamkan akidah Islam yang lurus, memahamkan dan mencerdaskan keluarga dan umat dengan pemikiran Islam kafah, sehingga umat tidak mudah tergoyahkan berbagai tipu daya yang menyesatkan.

Wajib pula bagi para dai dan ulama menjelaskan kepada masyarakat tentang bahaya, hukum, dan pengaruh buruk hal-hal tersebut (terhadap kehidupan).

Wajib bagi masyarakat menyambut dan meminta hal-hal yang bisa membahayakan diin dan dunia mereka, di samping aktif memberantas kemungkaran dengan segala cara yang disyariatkan Islam.

Negara pun harus berperan aktif dalam melindungi akidah umat dari setiap upaya yang ditujukan untuk menggerus, menistakan, dan melenyapkan akidah Islam.

Salah satu peran aktif dalam menjaga akidah umat adalah menerapkan sanksi bagi siapa saja, baik kelompok maupun individu, yang ingin merusak kesucian dan eksistensi akidah Islam.

Negara harus berusaha keras memberantas praktik-praktik mistik, baik yang digelar dukun, peramal, paranormal, santet, ahli perbintangan, dan orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu hitam lainnya.

Di samping itu, segala macam sarana dan prasarana yang dapat menyuburkan praktik perdukunan harus dilarang keras. Sehingga di jalan-jalan, di rumah, dan di tempat umum lainnya, tak ditemukan lagi praktik perdukunan.

Secara sistemis, berjalannya sistem ekonomi Islam yang menghendaki kemajuan ekonomi dan distribusi kekayaan seara merata; kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam, mencetak generasi yang tsiqah terhadap akidah, syariah, dan dakwah (kontrol sosial umat terhadap kemungkaran); pelayanan kesehatan yang optimal serta penerapan tegas sistem persanksian bagi para dukun atau tukang sihir ampuh menciptakan kehidupan Islami memberantas segala bentuk praktik sihir dan perdukunan.

Hanya saja, semua ini hanya mungkin dilakukan jika syariat Islam diterapkan secara kafah dalam sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah ‘ala minhâj an-Nubuwwah. Karenanya berjuang menegakkan Khilafah Islamiah menjadi agenda kita hari ini. [MNews/Gz]

2 komentar pada “Praktik Perdukunan, Bagaimana Pandangan Islam?

  • 13 Februari 2021 pada 07:25
    Permalink

    astaghfirullah… sudah sedemikian majunya teknologi masih saja ada yang percaya perdukunan utk karir, pelarisan dsb… naudzubillaah…

Tinggalkan Balasan