[News] Moderasi Beragama dalam Soal Ujian PAI, Membahayakan Generasi?

MuslimahNews.com, PENDIDIKAN — “Materi soal Ujian Sekolah Pendidikan Agama Islam (PAI) harus mengandung nilai-nilai moderasi beragama. Ini merupakan upaya pemerintah dalam pengarusutamaan moderasi beragama di sekolah,” demikian dinyatakan Direktur Jenderal Pendidikan Islam, M. Ali Ramdhani dalam Sosialisasi Juknis Ujian Sekolah PAI pada SD, SMP, SMA, dan SMK Tahun Ajaran 2020/2021 yang dilaksanakan secara daring (kemenag.go.id, 11/2/2021).

Menurutnya penguatan konten moderasi beragama pada sekolah harus mengedepankan nilai-nilai integritas, solidaritas, dan tenggang rasa. “Nilai-nilai dasar ini adalah bagian penting dari upaya mengembangkan pendidikan agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan jajarannya untuk cermat dalam proses penyusunan soal Ujian Sekolah PAI. Salah satunya, dengan menghindari konten yang menyinggung SARA maupun hal yang bersifat khilafiah.

“Saya minta agar Direktur PAI dan para Kabid PAIS/PAKIS/PENDIS dapat melakukan pendampingan kepada para guru PAI agar mereka dapat menyiapkan materi ujian yang tidak mengandung konten yang mengarah pada SARA maupun khilafiah (perbedaan mazhab),” pintanya.

Moderasi Beragama Sangat Berbahaya

Agenda ini dikritisi mubaligah sekaligus pemerhati masalah perempuan, anak, dan generasi, Ustazah Sulistiawati Ummu Aisyah. Menurutnya, umat Islam tidak butuh moderasi agama. Terlebih materi pendidikan erat kaitannya dengan tujuan pendidikan itu sendiri yaitu membentuk syakhsiyah (kepribadian) islamiah siswa.

Baca juga:  [News] Agenda Moderasi Beragama dalam SKB 3 Menteri

“Sangat berbahaya jika generasi umat Islam tidak lagi mengenal agamanya secara utuh,” ungkapnya prihatin.

“Moderasi ajaran Islam menjadikan Islam tidak seutuhnya dipahami. Hakikatnya adalah mengubah ajaran Islam itu sendiri,” imbuhnya.

Ia menjelaskan yang sering dijadikan dasar bagi moderasi adalah istilah ummatan wasathan. Di dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 143, lafaz “ummatan wasathon” ditafsirkan sebagai umat Islam Moderat.

“Tafsir ini tidak berdasar, baik secara lafaz maupun secara ma’tsur (berdasarkan hadis),” tegasnya.

Rasulullah saw. ketika menafsirkan وكذلك جعلناكم أمة وسطا, adalah umat yang adil. Ummatan wasathon yang dilekatkan dengan umat Islam justru adalah umat yang terbaik, umat yang berbeda dengan umat yang lain. “Sama sekali tidak ada kaitannya dengan moderasi,” cetusnya.

Ia menekankan istilah radikal pun bukan istilah umat Islam. Sehingga tidak ada keperluan umat Islam harus merevisi atau menjadikan moderat ajarannya.

“Langkah moderasi yang terstruktur dan masif ini, sama sekali tidak ada manfaatnya. Justru akan membawa umat ini semakin berpikiran sekuler radikal. Semakin ingin jauh dengan syariat Islam. Mengambil sebagian hukum Allah dan membuang sebagiannya adalah tindakan tercela. Tidak ada balasan bagi perbuatan ini selain kehinaan hidup baik di dunia maupun di akhirat,” tandasnya. [MNews/Ruh]

One thought on “[News] Moderasi Beragama dalam Soal Ujian PAI, Membahayakan Generasi?

Tinggalkan Balasan