Bahagia Ayah Bunda, Ananda Berani Jujur

Oleh: Ummu Fairuzh

MuslimahNews.com, KELUARGA — Setiap orang tua tentu mendambakan memiliki buah hati yang jujur lagi amanah. Perangai ini termasuk yang jarang ditemukan pada manusia jaman now.

Kehidupan kapitalistis yang mendewakan materi telah mengajarkan masyarakat bagaimana menghalalkan segala cara demi menggapai tujuan hidup yang fana.

Semakin dekat seseorang dengan kekuasaan, semakin jauh dari kejujuran. Semakin tinggi kekuasaan, begitu mudah bagi seseorang untuk menanggalkan kejujuran. Setiap kebohongan tidak akan berdiri sendiri melainkan harus diikuti kebohongan yang lain.

Dari Ka’ab bin Ujrah rahiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah keluar atau masuk menemui kami, ketika itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal dari kulit.

Baginda lalu bersabda, ‘Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan zalim. Barang siapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku. Barang siapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku.” (HR Ahmad)

Lantas bagaimana para orang tua mendidik anak-anaknya agar memiliki akhlak yang jujur lagi amanah? Mengingat dunia masa depan pasti di tangan peradaban yang agung di bawah cahaya Islam.

Bilakah salah satu penjaga peradaban itu adalah buah hati kita? Yaa Rabb, ijabah doa-doa kami. Aamiin.

Ajarkan Kecintaan kepada Allah, Rasul juga Sahabat

Jujur bukan sekadar perhiasan pemanis kehidupan. Jujur bukan sarana mendapatkan kekayaan yang melimpah. Yang tepat, jujur merupakan bagian dari perintah syariat. Untuk mampu taat syariat, anak perlu memahami makna cinta yang hakiki terlebih dahulu.

Cinta (al hubbu) menurut al Baidhawi merupakan kehendak untuk taat (iradatut tha’at). Maka, arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.

Tanpa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, mustahil anak mampu menggenggam sifat kejujuran dalam hidupnya. Inilah konsep utama yang perlu ditanamkan pada anak sejak dini.

Adapun kecintaan kepada para Sahabat, tentu karena mereka adalah sebaik-baik hamba yang mewujudkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dari Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami bersama Nabi saw., sementara beliau memegang tangan Umar bin al-Khaththab. Umar berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.’ Nabi saw. bersabda, ‘Tidak bisa! Demi Allah hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.’ Maka Umar berkata, ‘Sesungguhnya mulai saat ini, demi Allah engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Nabi bersabda, ‘Sekarang engkau telah benar wahai Umar.'” (HR al Bukhari)

Hargai Anak yang Berani Jujur

Anak adalah sosok yang polos bagai kertas putih. Akibat kepolosannya yang belum paham standar perbuatan, terkadang anak melakukan sesuatu yang tidak dia pahami itu perbuatan tercela (qobih). Terkadang anak melakukan perbuatan buruk (syar) tanpa motivasi dorongan tertentu, sebatas terinspirasi untuk mencoba.

Misalnya, Zahra menangis mengadukan Nida yang mencubit lengannya. Ketika ditanya mengapa Nida melakukan perbuatan tersebut, Zahra mengaku tidak tahu. Padahal, Nida mencubit karena Zahra telah merusakkan mainan kesayangan Nida. Nida pun menangis karena kehilangan mainan kesayangan. Sebagai orang tua ini perkara yang tidak lazim, ada anak mencubit temannya, namun dia justru menangis.

Maka, sikap yang seharusnya dilakukan seorang ibu seperti ibunya Zahra adalah membujuk putri kecilnya agar mau mengakui perbuatannya, lalu meminta maaf kepada temannya.

Tentu tanpa memvonis bahwa dia anak yang tidak jujur. Tujuannya agar anak termotivasi dan berani jujur serta bisa merasakan ketenangan dengan berbuat jujur.

Dukungan dan penghargaan perlu diberikan terlebih dahulu kepada anak yang berani mengakui kesalahannya. Sampaikan ibu bangga kepadanya setelah anaknya berani mengakui kebohongannya. Kemudian baru memahamkan perbuatan dusta itu tercela dan buruk karena Allah tidak rida, maka tidak boleh diulangi lagi

Nah, Ayah Bunda saleh-salihah, betapa penting untuk memperhatikan pembentukan perangai anak-anak sejak dini. Mereka adalah generasi pewaris yang mewarisi peradaban Islam yang cemerlang.

Jangan biarkan jiwa suci yang polos itu terkontaminasi debu-debu peradaban fasad kapitalisme. Sebab, umat sangat membutuhkan calon-calon pemimpin yang jujur dan amanah. [MNews/Juan]

One thought on “Bahagia Ayah Bunda, Ananda Berani Jujur

Tinggalkan Balasan