Mampukah Kurikulum Darurat Menutup Potensi Learning Loss?

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, OPINI — Masa pandemi yang panjang dan tidak jelas ujungnya seperti saat ini, tentu tidak bisa disikapi dengan hanya menunggu. Karenanya, Kementerian Agama (Kemenag) merespons masalah ini dengan menerbitkan Kurikulum Darurat.

Kurikulum tersebut sifatnya sementara dan berlaku pada masa pandemi Covid-19 ini dan lebih menekankan pada pengembangan karakter, akhlak mulia, ubudiah, dan kemandirian siswa (sindonews.com, 07/02/2021).

Kurikulum Darurat Terancam Learning Loss?

Terkait hal ini, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani menjelaskan, kurikulum darurat ini merupakan pedoman bagi satuan pendidikan dalam melaksanakan pembelajaran di madrasah pada masa darurat Covid-19. Pada perkembangannya, kurikulum ini dinilai semakin relevan saat pandemi, bahkan menunjukkan grafik naik drastis.

Dikutip dari republika.co.id (07/02/2021), kurikulum darurat itu berlaku bagi jenjang pendidikan madrasah mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).

Sementara, terkait pemenuhan aspek kompetensi, baik dasar maupun inti, tetap mendapat perhatian dalam skala tertentu.

Dalam kondisi darurat sebagaimana pandemi saat ini, kegiatan pembelajaran tentunya tidak bisa berjalan secara normal seperti biasanya. Kendati demikian, peserta didik harus tetap mendapatkan layanan pendidikan dan pembelajaran secara penuh.

Karenanya, bagaimanapun, panduan ini tetap dianggap penting diterapkan sekolah, mengingat kondisi learning from home bisa berlanjut sampai batas waktu yang belum jelas.

Kendati demikian, ada kondisi lain yang juga patut diperhatikan. Tak bisa dimungkiri bahwa sistem pendidikan melalui mekanisme pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19—yang telah berlangsung hampir satu tahun ini—salah satunya berdampak learning loss, yakni  berkurangnya pengetahuan dan keterampilan secara akademis. (kompas.com, 31/01/2021).

Harus diakui pula, PJJ telah menimbulkan tantangan bagi murid, guru, maupun orang tua, yang tak jarang kondisi tersebut diwarnai efek psikososial. Hal ini terjadi di berbagai jenjang pendidikan.

Potensi learning loss ini bisa terjadi karena berkurangnya intensitas interaksi guru dan siswa saat proses pembelajaran. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Rachmadi Widdiharto mengatakan, Kemendikbud memahami kekhawatiran learning loss tersebut di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai.

Baca juga:  [News] Kurikulum Darurat Jangan Hanya Jadi Panduan di Atas Kertas

Pada saat yang sama, kesehatan adalah sebuah kebutuhan yang tak bisa ditunda. Peluang berkerumunnya guru dan murid dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah malah bisa memunculkan klaster penularan baru.

Namun, adanya kurikulum darurat nyatanya bukanlah solusi tepat mengatasi learning loss yang kian hari juga makin pekat. Bagaimana tidak? Target pendidikan di masa nonpandemi saja belum tercapai seutuhnya, yang itu masih dalam kondisi kegiatan belajar-mengajar terlaksana di sekolah.

Bisa dibayangkan saat ini, ketika kegiatan bersekolah “mendadak” pindah ke rumah, sementara tak semua sarana dan fasilitas pembelajaran tersedia di rumah? Wajar jika akhirnya learning loss adalah mimpi buruk yang tak terelakkan.

Sekularisme, Pijakan Lahirnya Kurikulum

Pandemi yang sudah hampir “berulang tahun” yang pertama ini tampaknya tak jua membuat penguasa belajar. Ekonomi yang digadang-gadang menjadi penyelamat hingga senantiasa diutamakan untuk diselesaikan, nyatanya malah menjadi lahan baru yang subur dengan korupsi.

Belum lagi soal anggaran tak tepat sasaran. Ini sudah ibarat makanan bagi publik sehari-hari. Akibatnya, kita makin banyak kehilangan: nyawa, ekonomi, bahkan generasi.

Terkhusus sektor pendidikan, generasi terdidik yang sebelumnya kosong dengan aspek ruhiyah dalam proses pembelajaran, kini makin dibayangi kekosongan intelektualitas. Sungguh output generasi terdidik kian jauh terperosok hingga menuju learning loss, bahkan sangat mungkin menjadi lost generation.

Berawal dari sekularisasi pendidikan yang sudah tegak sebelum pandemi, hingga kemudian melahirkan kurikulum sekuler, kondisi ini tak juga berubah, alih-alih fleksibel dan adaptif.

Padahal, pandemi sudah ibarat “teman dekat”. Para murid tetap saja terdidik tanpa konsep menuju generasi terbaik di masyarakat. Sudah bersedia mengerjakan tugas PJJ saja bagus.

Baca juga:  [News] Kurikulum Darurat Jangan Hanya Jadi Panduan di Atas Kertas

Tak sedikit pula dari mereka yang bersekolah hanya sekadar untuk menjadi orang-orang yang berguna. Pun cita-cita yang adakalanya didesain prestisius, yang ironisnya di kemudian hari dibajak menjadi mesin ekonomi bagi para kapitalis.

Lebih ironisnya lagi, problem kurikulum ini tidak baru satu kali menjadi alarm keras bagi penguasa. Namun, mereka tak banyak berbuat sesuatu yang visioner.

Ketika pada gilirannya mengeluarkan keputusan besar sekelas SKB 3 Menteri, ternyata mereka hanya mengurusi perkara seragam sekolah. Padahal sekolah saja masih online, yang pastinya tidak intensif memakai seragam sebagaimana sekolah offline.

Lantas, mengapa tidak lebih fokus memberi solusi tuntas bagi segala kendala PJJ saja daripada lelah melahirkan kebijakan tak tepat sasaran sebagaimana SKB tadi?

Karenanya, sungguh harus segera disadari, cepat atau lambat learning loss akan beralih menjadi great loss (kehilangan yang sangat besar) pada generasi.

Persoalan ini jauh lebih urgen untuk dicarikan solusi, yang ternyata peran keluarga, sekolah, dan negara tidak menyatu dalam visi besar yang sama untuk mendidik generasi.

Alih-alih hendak meraih misi besar untuk mengemban misi akhirat demi rahmat bagi semesta, yang ada akan menimbulkan problem psikososial yang tak berkesudahan.

Generasi Terdidik, Khairu Ummah Pengemban Visi-Misi Akhirat

Jelas sudah, pendidikan harus segera dikembalikan dalam rangka meraih output generasi dalam posisinya selaku makhluk Allah Swt., sebagaimana firman Allah Swt.,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56).

Mereka juga harus diarahkan agar mampu mengemban amanah akhirat, sebagaimana firman Allah Swt.,

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [03]: 110).

Baca juga:  [News] Kurikulum Darurat Jangan Hanya Jadi Panduan di Atas Kertas

Berikutnya, sungguh urgen adanya kesatuan langkah di antara keluarga, sekolah, dan negara dalam mewujudkan visi-misi besar bagi pendidikan generasi ini.

Keluarga sebagai unit terkecil kepemimpinan umat berperan besar menjadi madrasah pertama anak didik. Pembinaan iman, takwa, dan kepribadian Islam, semua berawal dari keluarga. Ibu selaku guru pertamanya dan ayah berperan sebagai kepala sekolahnya.

Sekolah, harus mengakomodasi kurikulum sahih berdasarkan visi-misi besar pewujud khairu ummah. Murid-murid diisi dengan aspek ruhiyah dan dididik dengan target besar untuk menjadi sosok-sosok yang berkepribadian Islam. Intelektualitas yang diperoleh melalui proses pembelajaran akademik semata-mata untuk meraih derajat takwa dan mengemban amanah keumatan.

Negara, tentunya adalah negara yang menerapkan mabda Islam, sehingga Islam mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam. Inilah negara Khilafah Islamiah, negara berideologi Islam, penerap aturan Islam secara kafah.

Khilafah akan menjaga keberlangsungan generasi muslim berikut gelarnya selaku khairu ummah. Negara ini menjaga umat agar senantiasa terikat pada aturan Allah. Negara ini memberi fasilitas dan pengurusan urusan umat dalam rangka menyuburkan iman, Islam, serta dakwah, baik di dalam maupun di luar negeri.

Inilah tanggung jawab penguasa sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya pemimpin adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab terhadap peliharaannya.” (HR Bukhari, Muslim).

Khatimah

Demikianlah, apa pun bentuk dan pelaksanaan kurikulum darurat saat ini, sejatinya bukanlah jawaban yang dibutuhkan rakyat. Sebagus apa pun kurikulum darurat yang diluncurkan saat pandemi, jika asas dan tujuannya salah, hasilnya tidak akan signifikan.

Learning loss akan terus membayangi, cepat atau lambat bahkan bisa menggilas generasi. Jelas, yang dibutuhkan rakyat adalah kurikulum sahih yang mampu mewujudkan tujuan pendidikan yang juga sahih, baik pada saat pandemi maupun tidak. Bukan kurikulum darurat yang ala kadarnya tanpa visi-misi sejati. [MNews/Gz]

2 thoughts on “Mampukah Kurikulum Darurat Menutup Potensi Learning Loss?

Tinggalkan Balasan