Bagaimana Cara Islam Menghapus Rasisme?

Oleh: Hafidz Abdurrahman

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB — Soal: Kasus rasisme terus berulang. Di negeri ini pun tak sedikit kasus, baik berupa ujaran rasial maupun tindakan. Di AS, pembunuhan George Floyd di AS oleh polisi kulit putih telah memicu sentimen antirasialisme dan kerusuhan terburuk dalam sejarah rasialisme di AS. Bahkan sentimen ini merebak di beberapa wilayah Eropa, bukti AS dan Eropa gagal memberantas rasisme. Pertanyaannya bagaimana cara Islam menghapus rasisme?

Jawab:

Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu; bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.

Beberapa penulis menggunakan istilah rasisme untuk merujuk pada preferensi terhadap kelompok etnis tertentu (etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan terhadap hubungan antarras (miscegenation) dan generalisasi terhadap suatu kelompok orang tertentu (stereotype).

Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Politisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara.

Istilah rasiasl telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an. Identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasial sering bersifat kontroversial.

Pertanyaannya, apa yang memicu rasisme ini? Apakah karena fakta adanya perbedaan warna kulit? Benarkah bangsa kulit putih lebih hebat ketimbang kulit hitam, atau sebaliknya? Ini beberapa pertanyaan mendasar.

Jawabannya, jelas. Perbedaan warna kulit adalah fakta dan fitrah dari Allah SWT. Rupa, postur tubuh, dan bentuk fisik yang lainnya adalah bagian dari fitrah. Islam memandang semuanya itu merupakan anugerah Allah SWT.

Semua manusia, dengan ragam warna kulit, fisik, dan postur tubuh yang berbeda, diberi oleh Allah fitrah yang sama. Sama-sama mempunyai kebutuhan jasmani, naluri, dan akal.

Allah SWT berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣

“Hai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kalian terdiri dari pria dan wanita serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh Allah Mahatahu lagi Mahateliti.” (QS al-Hujurat [49]: 13).

Allah SWT juga menjelaskan bahwa manusia diberi kebutuhan jasmani, naluri dan akal yang sama,

ٱلَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ ٢ وَٱلَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ ٣

“Dialah Yang telah menciptakan (manusia), kemudian menyempurnakan ciptaan-Nya. Dialah yang menentukan kadar masing-masing dan memberikan petunjuk.” (QS al-A’la [87]: 2-3).

Kadar masing-masing yang dimaksud di sini adalah potensi kehidupannya. Masing-masing diberi kebutuhan jasmani, naluri, dan akal yang sama.

Karena itu akal manusia sama. Tidak ada bedanya antara kulit putih dan hitam. Semua mempunyai akal. Komponen akal orang kulit hitam dan putih pun sama.

Sama-sama terdiri dari fakta, pengindraan, otak dengan kekuatan asosiasinya, dan informasi awal. Keempat komponen ini semuanya ada, baik di dalam diri orang kulit hitam maupun putih. Karena itu, potensi intelektual orang kulit hitam maupun putih sama.

Karena itu pula Nabi saw. bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلى أَجْسَامِكْم، وَلاَ إِلى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

“Sungguh Allah tidak melihat fisik kalian, juga tidak rupa kalian, tetapi Allah melihat hati kalian.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Dengan tegas, yang dijadikan patokan oleh Allah, bukan ras, fisik ,dan rupa, tetapi ketakwaannya,

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ ١٣

“Sungguh yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS al-Hujurat [49]: 13).

Dengan demikian bisa dijelaskan bahwa rasisme lahir bukan karena adanya fakta perbedaan bangsa, ras dan warna kulit, tetapi karena mindset, dan pemikiran yang dangkal.

Mindset dan pemikiran yang dangkal ini pula yang menyebabkan lahirnya fanatisme kelompok, suku dan bangsa, yang disebut sebagai muntinah (bangkai yang busuk). Sikap ini dikecam dengan keras dan diharamkan oleh Islam.

دَعُوْهَا فَإِ نَّمَا مُنْتِنَةٌ

“Tinggalkanlah ia (fanatisme jahiliah) karena sungguh itu merupakan bangkai yang berbau busuk.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, baik Allah SWT maupun Nabi saw., sama-sama membentuk mindset mukmin dengan menjadikan ketakwaan sebagai standar; bukan faktor bangsa, ras, dan warna kulit.

Dalam hadis lain Nabi saw. bersabda,

لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ وَلاَ لأَبْيَضَ عَلَى أَسْوَدَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى

“Tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, juga tidak ada keistimewaan orang kulit putih atas kulit hitam, kecuali dengan takwa.” (HR Muslim).

Dengan mindset ini, orang mukmin tidak akan memandang orang lain hina karena bangsa, ras, dan warna kulitnya. Karena itu, yang menentukan tinggi dan rendahnya, serta hina dan mulianya, bukan bangsa, ras, dan warna kulitnya, tetapi ketakwaan dan perilakunya.

Inilah mindset yang bisa menghapus rasisme. Dengan kata lain, Islam memandang semua manusia sama. Yang membedakan adalah akidah, ketakwaan, dan perilakunya.

Karena itu, orang Islam jelas lebih baik ketimbang orang kafir. Orang mukmin dan orang saleh jelas lebih baik daripada orang munafik atau orang fasik. Mengapa? Karena akidah, ketakwaan, dan perilakunya.

Islam adalah agama dan ideologi yang diturunkan oleh Allah SWT untuk seluruh umat manusia, tanpa melihat bangsa, suku, dan warna kulit (Lihat: QS Saba’ [34]: 28).

Risalah Islam bersifat universal. Islam menempatkan manusia sebagai manusia, dengan fitrah yang sama. Bukan sebagai bangsa, ras atau warna kulit tertentu. Islam tidak mengenal diskriminasi ras, warna kulit atau bangsa.

Dengan mindset ini pula, Islam membangun ukhuwah (persaudaraan). Persaudaraan yang dibangun berdasarkan akidah yang bersifat universal sehingga terbentuklah ukhuwah islamiah.

Islam tidak mengenal ukhuwah wathaniyyah atau basyariyah, persaudaraan ini dibentuk oleh bangsa dan ras. Faktor bangsa dan ras menjadi penyekat bagi bangsa dan ras lain.

Karena itu di negeri kaum muslim, yang mendengungkan ukhuwah wathaniyyah dan basyariyah ternyata tidak sepi dari perang saudara yang dipicu faktor SARA. Mengapa? Karena tidak menggunakan akidah Islam sebagai standar dan kepemimpinan berpikirnya.

Akidah Islamlah satu-satunya standar dan kepemimpinan berpikir yang bisa menyatukan seluruh umat manusia, dengan ragam bangsa, ras, dan warna kulitnya.

Sejarah Islam juga mencatat keberhasilan yang luar biasa dalam melakukan peleburan. Ini karena Islam memandang manusia sebagai manusia, tanpa melihat bangsa, ras, dan warna kulitnya. Semuanya diperlakukan sama di depan hukum, tanpa melihat penguasa maupun rakyat jelata.

Kaum Muslim yang datang sebagai pembebas juga melebur menjadi satu bagian dengan umat yang dibebaskan serta mendidik mereka dengan mindset dan tsaqafah Islam.

Umat manusia, yang telah memeluk Islam itu, dengan mindset dan tsaqafah Islam telah mengalami revolusi dalam kehidupannya. Mereka menjadi muslim yang kafah, tidak setengah-setengah.

Selain keberhasilan mengikis rasisme, Islam terbukti mampu mencetak ulama dan para pemimpin hebat dari berbagai bangsa, ras, dan warna kulit yang berbeda.

Banyak ulama kaum Muslim lahir dari bangsa non-Arab seperti: Imam Mazhab; Imam Abu Hanifah [Persia], Imam Syafii [Arab], Imam Ahmad [Syam]. Ahli bahasa seperti Imam Sibawaih [Persia], bapak Nahwu, Zamakhsyari [Asia Tengah], bapak Balaghah. Bahkan al-Waqidi, dulunya budak, menjadi ulama top di bidang sejarah.

Tidak hanya itu, banyak penguasa kaum Muslim pun hasil perkawinan antar bangsa, suku dan warna kulit, seperti Khalifah al-Ma’mun, putra Harun ar-Rasyid [Arab] dengan istri Barbar [Afrika]. Bahkan Dinasti Mamalik dulunya adalah budak, yang kemudian berhasil menjadi penguasa kaum Muslim.

Semuanya ini membuktikan betapa hebatnya Islam yang telah mengangkat harkat dan martabat manusia; dari bangsa, ras, dan warna kulit yang berbeda. Semuanya karena akidah, ketakwaan, dan perilakunya.

Maka dari itu, tidak ada satu pun akidah, ideologi, dan peradaban di muka bumi ini yang berhasil menghapus rasisme, kecuali Islam. WalLahu a’lam. [MNews/Juan]

Sumber : https://al-waie.id/soal-jawab/bagaimana-cara-islam-menghapus-rasisme/

One thought on “Bagaimana Cara Islam Menghapus Rasisme?

Tinggalkan Balasan