Strategi Busuk Barat Melalui Moderasi Generasi Milenial

Oleh: Zikra Asril

MuslimahNews.com, FOKUS — Dominasi generasi milenial dan generasi Z (Gen-Z) di era bonus demografi yang terjadi di Indonesia sampai tahun 2035 adalah potensi yang sangat besar untuk menyongsong abad Khilafah. Melihat kondisi ini tentu saja Barat tidak akan tinggal diam.

Amerika Serikat (AS) dan mitranya telah jauh hari menyiapkan proyek global War on Terrorism (WoT) untuk menghalangi kebangkitan Khilafah Islam. Oleh karena itu, mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk mematikan benih-benih kebangkitan Islam sampai pada generasi muda.

Generasi Milenial di antara Ideologi Islam dan Kapitalisme-Sekuler

Sejak keruntuhan Khilafah tahun 1924, Barat telah mengaruskan kapitalisme sekuler sebagai ideologi yang diterapkan di seluruh dunia, termasuk dunia Islam. Namun, karena kapitalisme sekuler adalah ideologi batil yang bersumber dari pemikiran manusia, timbul kekacauan multidimensi di seluruh dunia.

Di sisi lain, sebagian kaum muslimin yang sadar akan kewajibannya menerapkan Islam secara kafah berupaya melakukan aktivitas dakwah. Bertujuan mengembalikan kehidupan Islam dalam naungan Khilafah.

Generasi milenial Islam mungkin tidak merasakan masa kehidupan Khilafah, namun Al-Qur’an dan Hadis yang menjadi rujukan akan mendorong mereka untuk ikut berjuang. Di sinilah terjadi perebutan pengaruh antara Islam dan Barat terhadap pemikiran dan perasaan generasi milenial.

Dalam arena perang peradaban Islam versus Barat, demi memenangkan pertempuran, Barat menggunakan terminologi yang menyesatkan umat, termasuk memberi definisi yang memihak kepentingan mereka.

Barat merancang skenario global untuk memecah belah umat Islam agar tetap lemah secara kekuatan politik. Barat mengadu domba umat Islam dengan predikat moderat pada pihak-pihak yang ramah terhadap kepentingan Barat, seperti menerima ide pluralisme, feminisme, HAM, toleransi, memperjuangkan kebebasan berpendapat dan sebagainya.

Sebaliknya, predikat “ekstremis, radikal, dan teroris” disandangkan kepada pihak-pihak yang menantang kepentingan dan kebijakan Barat dan berusaha untuk mewujudkan ideologi Islam dalam kehidupan Khilafah.

Dalam National Strategy Combating Terrorism yang dikeluarkan US Department of States (2006) mengungkapkan, “Musuh yang dihadapi bukan hanya terorisme itu sendiri. Namun, ideologi yang melatari atau mendukung aksi terorisme tersebut, gerakan-gerakan yang menentang AS, dan mereka menggunakan Islam sebagai ideologi mereka.”

Barat yang digawangi Amerika Serikat(AS) akan terus melakukan arus moderasi dengan menjadikan kelompok moderat sebagai role model dan mendiskreditkan kelompok ekstremis sebagai pengacau dan biang kerok kekerasan. Strategi ini pula yang akan mereka mainkan untuk memengaruhi generasi milenial.

Baca juga:  Berkah Bonus Demografi

Seperti yang dikemukakan dalam www.un.org…. “UNOCT’s mission for youth engagement is to augment and horizontally scale-up youth-focused initiatives across the UN system and beyond as well as to promote and increase meaningful participation of youth in the development of projects, policies and programs, which aim to prevent and counter violent extremism as and when conducive to terrorism (PCVE)”. 1

Moderasi Milenial Menjauhkan Generasi dari Islam Kafah

Prevent and Counter Violence Extremism (PCVE) adalah propaganda AS yang diaruskan PBB sebagai rangkaian WoT. Salah satu cara yang ditempuh adalah memaksa Dunia Islam mengadopsi ide Islam moderat.

Building Moderate Muslim Network adalah rekomendasi RAND Corporation untuk memenangkan perang gagasan antara Dunia Islam dan Barat pascaperistiwa serangan 9/11. Strategi itu ditempuh untuk mengamankan berbagai kepentingannya di Dunia Islam.

Keberpihakan rezim Jokowi dengan mengeluarkan Perpres no. 7 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme (RAN-PE) adalah sikap tunduk terhadap skenario global ini.

Perpres ini adalah tindak lanjut dari lokakarya regional pada Januari 2020 yang diselenggarakan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) di Indonesia dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), melalui Proyek “Preventing Violent Extremism through Promoting Tolerance and Respect for Diversity (PROTECT)”.

Dengan berbagai program kegiatan, proyek PROTECT telah mendukung pemerintah Indonesia dalam pembuatan RAN-PE tersebut. Proyek ini juga fokus pada pelibatan kaum muda untuk mempromosikan toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman serta melakukan penelitian tentang pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme (PVE) di Indonesia.2

Terlihat jelas upaya sistematis dan masif untuk menderaskan generasi milenial Islam mengikuti skenario Barat menghadang tegaknya Khilafah.

Gagal Membaca Strategi Politik barat

Kaum muda Indonesia diarahkan pada moderasi Islam karena Barat dan anteknya berharap gambaran Islam di benak generasi milenial berjalan sesuai keinginan mereka.

Islam tak boleh terlibat dalam urusan kenegaraan, ekonomi, sosial budaya, sistem sanksi, peradilan, ataupun hankam. Sehingga, generasi milenial asing dengan Khilafah sebagai perwujudan riil Islam politik.

Gambaran Islam kafah dalam naungan Khilafah “dimonsterisasi” sebagai ajaran radikal yang disamakan dengan paham batil yang harus dihentikan.

Baca juga:  [News] Perempuan dan Gen-YZ Rentan Terpapar Radikalisme? Framing Berbahaya!

Direktur Pengkajian dan Materi BPIP, Muhammad Sabri mengungkapkan pada Webinar Sekolah Pancasila (21/1/2021),

“Hasrat persatuan terdorong secara negatif oleh kehendak menghadapi musuh bersama seperti terorisme, radikalisme, kolonialisme dan lainnya. Dengan demikian, apabila ada niat, agenda, dan langkah-langkah aksi dari siapa pun dan dari kelompok mana pun yang memasarkan dan mempropagandakan aspirasi mengenai sistem dan bentuk negara Indonesia selain NKRI yang berdasar Pancasila, maka penyimpangan dan penentangan tersebut mesti segera diantisipasi, diatasi, dan dituntaskan.” 3

Sayangnya, intelektual muslim sudah masuk dalam jebakan ini, bahkan menjadi aktor pengarusan moderasi.

Guru Besar Psikologi Politik universitas kenamaan malah merekomendasikan program deteksi dini masyarakat untuk mencegah radikalisme dan terorisme. Ia melibatkan semua pihak sampai level RT/RW untuk memantau pengajian radikal yang menurutnya diadakan oleh kelompok terbatas dan diam-diam.

Ia juga menyampaikan radikalisasi saat ini diadakan secara online, sehingga butuh melibatkan Kominfo untuk memantau konten-konten radikal di kanal-kanal media sosial dan internet.

Menurutnya, selain memburu konten radikal, Kominfo juga harus membanjiri dengan konten antiradikal untuk mengonter, seperti toleransi, harmoni kebangsaan, lalu mengajak dengan pelajaran Islam moderat.4

Gerakan Islam terbesar di negeri ini juga turut mengamini arus moderasi. Salah seorang Ketua PP ormas Islam menyebut, dalam mengatur tata negara Indonesia ke depan, generasi milenial bangsa Indonesia harus dipahamkan dengan prinsip-prinsip moderasi. Hal ini  karena situasi lalu lintas arus informasi yang serba terbuka menjadi salah satu tantangan generasi milenial.

Ia pun mengklaim, tanpa sikap moderat, saat mengonsumsi informasi, generasi muda akan mudah terjebak menjadi ekstrem. Namun di saat yang sama, mereka juga mengkhawatirkan pengaruh liberalisasi dan sekularisasi terhadap generasi milenial.

Demikianlah realitas umat Islam saat ini. Mayoritas gagal paham dalam membaca skenario politik yang dirancang Barat.5

Memicu Islamofobia di Generasi Milenial?

Arus moderasi generasi turut digencarkan di negeri muslim yang lain seperti Arab Saudi dengan berdirinya Akademi Mediasi dan Moderasi Masjidilharam. Akademi ini bertujuan untuk mempromosikan mediasi dan moderasi di semua aspek kehidupan.

Tentu ini semakin menegaskan bahwa Barat tidak ingin membiarkan sedikit pun wilayah kaum muslimin berjalan tanpa skenario mereka.6

Strategi ini bukan hanya menjauhkan generasi muda terhadap Islam kafah, tetapi telah membuat islamofobia meningkat di seluruh dunia termasuk di kalangan milenial.

Baca juga:  OTG Milenial, Ancaman Ledakan Era New Normal

Terbaru, Singapura menahan seorang remaja 16 tahun karena berniat menyerang dua masjid. Pihak berwenang mengatakan rencana tersebut terinspirasi pembunuhan jemaah muslim di Christchurch, Selandia Baru pada Maret 2019 lalu.7

Di sini semakin terlihat, Barat telah memicu kebencian generasi milenial terhadap Islam.

Generasi Milenial, Aktor Utama Kebangkitan Khilafah Abad ke-21

Generasi milenial dan Gen-Z harus menyadari bahwa identitas mereka adalah Islam. Bonus demografi adalah potensi kebangkitan Khilafah abad 21.

Rujukan literasi mereka adalah Al-Qur’an dan Hadis. Dalam Al-Qur’an, Allah tidak pernah membagi muslim dengan terminologi ekstremis dan moderat.

Mereka harus “segera bangun” bahwa narasi moderasi Islam adalah narasi berbahaya yang harus dilawan karena akan memalingkan mereka untuk memahami Islam kafah.

Moderasi Islam sejatinya adalah sekularisasi terhadap Islam. Sementara, Allah Swt. memerintahkan untuk mengamalkan Islam secara kafah, ajaran Islam yang dicontohkan, dan dibawa Rasulullah Muhammad Saw. yang mengatur seluruh urusan kehidupan meliputi kehidupan pribadi, keluarga, maupun sistem bermasyarakat dan bernegara.

Sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 208).

Oleh karena itu, pilihan yang harus diambil generasi milenial adalah berjuang untuk Islam kafah, meningkatkan kesadaran politik Islam untuk mengenali siapa kawan dan siapa lawan.

Role model mereka adalah para Sahabat Nabi yang telah terbukti menjadi generasi terbaik Islam. Allah akan melihat kelayakan generasi ini sebagai jalan datangnya kemenangan. Sebagaimana generasi Sahabat Nabi yang mampu melayakkan diri untuk meraih pertolongan Allah dengan tegaknya negara Islam di Madinah.

Generasi milenial harus memiliki keyakinan yang kokoh bahwa Khilafah akan tegak di masa mereka, sebagaimana janji Allah dan bisyarah (kabar gembira) Rasulullah.

Bergabung dengan kelompok Islam yang membina dan memperjuangkan Islam kafah adalah ikhtiar yang harus dilakukan agar tidak terjebak dalam narasi Barat yang akan selalu memecah belah umat. Di tangan generasi ini juga harapan kebangkitan Islam akan menjadi kenyataan. [MNews/Gz]


Catatan Kaki:

  1. https://www.un.org/counterterrorism/youth-engagement
  2. https://www.id.undp.org/content/indonesia/id/home1/presscenter/pressreleases/2020/Menuju-Rencana-Aksi-Nasional.html
  3. https://m.tribunnews.com/amp/nasional/2021/01/24/sekolah-pancasila-bpip-dorong-generasi-indonesia-jadi-pelopor-gali-nilai-nilai-pancasila
  4. https://www.antaranews.com/berita/1973661/guru-besar-ui-pentingnya-deteksi-dini-masyarakat-tangkal-radikalisme
  5. https://www.suaramuhammadiyah.id/2021/01/26/generasi-milenial-harus-paham-moderasi-beragama-di-tengah-arus-informasi/
  6. https://www.nu.or.id/post/read/126310/lawan-ekstremisme–saudi-resmikan-akademi-moderasi-masjidil-haram
  7. https://international.sindonews.com/read/316644/40/remaja-singapura-hendak-bantai-muslim-di-2-masjid-terinspirasi-teroris-christchurch-1611810098

One thought on “Strategi Busuk Barat Melalui Moderasi Generasi Milenial

  • 13 Februari 2021 pada 04:41
    Permalink

    Astaghfirullah, pentingnya memahami Islam kaffah agar tidak terjebak oleh rayuan busuk sistem kufur

Tinggalkan Balasan