Upah para Pekerja bagi Individu pada Masa Umar bin Khaththab

MuslimahNews.com, TARIKH KHILAFAH — Ketika Umar ra. ingin mempekerjakan seorang pemuda yang miskin, beliau menawarkan kerjanya dengan mengatakan, “Siapakah yang akan mempekerjakan atas namaku pemuda ini untuk bekerja di ladangnya?” Maka, seseorang dari kaum Anshar berkata, “Saya, wahai Amirul Mukminin!” Beliau berkata, ”Berapa kamu memberinya upah dalam sebulan?” Ia menjawab, “Dengan demikian dan demikian!” Maka beliau berkata, “Ambillah dia!”

Riwayat ini memberikan pengertian bahwa Umar menawarkan tenaga kerja, lalu datang permintaan kepadanya dari pihak orang Anshar tersebut, dan terjadi kesepakatan tentang upah berdasarkan pada perbandingannya antara penawaran dan permintaan, dan riwayat tersebut tidak menyebutkan jumlah upah, atau bahwa Umar mensyaratkan jumlah tertentu.

Ketika Umar ra. mengusir kaum Nasrani dari Najran, beliau membeli tanah dan harta mereka, lalu mempekerjakan manusia pada ladang yang tidak terdapat tanamannya dengan ketentuan: Jika benih, sapi, dan besi (peralatan) dari Umar, maka bagi mereka sepertiga dan bagi Umar dua pertiga; dan jika dari mereka maka bagi mereka separuh dan bagi Umar separuh yang lain.

Beliau menyerahkan kepada mereka pohon kurma dan pohon anggur dengan syarat bahwa bagi Umar dua pertiga, dan bagi mereka sepertiga.

Maka dalam riwayat ini kita dapatkan bahwa upah pekerja adalah bagian dari penghasilan, dan bagian dari hasil ini terkadang menyamai batas kecukupan, terkadang lebih banyak, dan terkadang pula lebih sedikit dari pada batas kecukupan. Bahkan boleh jadi tidak mendapatkan sesuatu pun ketika terjadinya kerugian atau bencana.

Ini adalah cara lain dalam penentuan upah pekerja, dengan catatan bahwa tidak boleh jika bagian masing-masing dari kedua belah pihak dalam akad muzara’ah itu dalam bentuk tanaman itu sendiri.

Di antara yang sebaiknya disebutkan di sini, bahwa pekerja dalam muzara’ah (muzari’) terkadang melakukan pekerjaan sendiri dan tidak terdapat orang yang menyertainya. Dalam kondisi ini, dia disebut: pekerja khusus. Tapi boleh jadi dia bekerja dengan disertai para hamba sahaya pemilik ladang, atau membayar orang-orang yang bekerja dengannya dan di bawah pengarahan dan bimbingannya. Dalam kondisi seperti ini, maka peranannya seperti peranan manajer.

Sebagian ahli ilmu menyebutkan bahwa Umar ra. mempekerjakan para tenaga kerja dengan upah makanan dan pakaian mereka. Dan Ibnu Abdil Hadi menyebutkan, bahwa pilihan Abu Bakar dan Umar ra. adalah diperbolehkannya mempekerjakan para pekerja dengan upah baju mereka.

Tapi terlepas dari apakah upah mereka dengan makanan dan pakaian mereka, atau hanya dengan pakaian mereka saja, maka itu menunjukkan bahwa upah pekerja tidak harus pada jumlah yang bisa merealisasikan kecukupannya. Sebab, kecukupan seseorang tidak terealisasi hanya dengan terpenuhi makanannya dan pakaiannya.

Dari keterangan di atas tampak jelas, bahwa upah pekerja pada individu terkadang dalam jumlah tertentu, dan terkadang dengan bagian yang ada dari hasil pekerjaan, di mana penentuan upah ini adalah dengan perbandingan penawaran dan permintaan sesuai kaidah-kaidah yang telah disebutkan sebelumnya. [MNews/Rgl]

Sumber: Fikih Ekonomi Umar bin Khaththab, Jaribah bin Ahmad Alharitsi

Tinggalkan Balasan