[News] Muslimah Uighur Alami Pemerkosaan Sistematis!

MuslimahNews.com,  INTERNASIONAL — Sebuah investigasi yang diterbitkan BBC memuat kesaksian adanya pemerkosaan sistematis, pelecehan seksual, dan siksaan terhadap tahanan perempuan oleh polisi dan penjaga kamp.

Kesaksian yang diberikan kepada BBC memperinci tuduhan pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap perempuan Uighur yang ditahan di kamp-kamp penahanan di wilayah Xinjiang.

Seorang perempuan mengatakan kepada BBC bahwa mereka dikeluarkan dari sel mereka “setiap malam” dan diperkosa satu atau lebih pria Cina yang mengenakan topeng.

“Pria-pria Cina akan membayar uang demi mendapat tahanan muda tercantik,” kata Gulzira Auelkhan.

Seorang mantan penjaga di salah satu kamp, ​​yang enggan disebut namanya, menggambarkan adanya para tahanan mengalami penyiksaan dan kekurangan makanan. Adrian Zenz, seorang ahli terkemuka kebijakan Cina di Xinjiang, mengatakan kesaksian yang dikumpulkan BBC adalah “beberapa bukti paling menghebohkan yang saya lihat sejak kekejaman dimulai”.

Berdasarkan estimasi independen, lebih dari satu juta pria dan perempuan ditahan di kamp-kamp yang disebut Cina sebagai “tempat pendidikan ulang” bagi orang-orang Uighur dan etnik minoritas lainnya.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan pemerintah Cina secara bertahap mencabut kebebasan beragama dan kebebasan lainnya dari orang Uighur, yang berujung pada sistem pengawasan massal, penahanan, indoktrinasi, dan bahkan sterilisasi paksa.

Di antara deretan sel di dalam kamp, terdapat ruang-ruang kelas. Para guru didatangkan untuk “mendidik kembali” para tahanan, sebuah proses yang menurut para aktivis dirancang untuk menghilangkan budaya, bahasa, dan agama kaum Uighur dan etnik minoritas lainnya. Proses tersebut mengindoktrinasi mereka ke dalam budaya arus utama Cina.

Di kamp di Kunes, rambut para tahanan dipotong, mereka pergi ke kelas, menjalani tes medis yang tidak dapat dijelaskan, minum pil, dan disuntik paksa setiap 15 hari dengan “vaksin” yang menyebabkan mual dan mati rasa.

Para perempuan dipaksa memasang KB spiral atau disterilkan, termasuk perempuan yang baru berusia sekitar 20 tahun. Sterilisasi paksa terhadap orang Uighur telah meluas di Xinjiang, menurut penyelidikan baru-baru ini oleh Associated Press.

Kebijakan Terpusat

Selain intervensi medis, para tahanan di kamp menghabiskan waktu selama berjam-jam menyanyikan lagu-lagu patriotik Tiongkok dan menonton program acara patriotik di TV tentang Presiden Cina Xi Jinping.

Para tahanan tidak akan mendapat jatah makanan jika mereka tidak bisa menghafal bagian-bagian dari beragam buku tentang Xi Jinping secara akurat.

Mereka yang gagal dalam ujian, menurut mantan penjaga kamp, dipaksa memakai tiga warna pakaian berbeda tergantung apakah mereka gagal satu, dua, atau tiga kali. Mereka kemudian dikenakan berbagai tingkat hukuman yang sesuai, termasuk dipukul dan tidak diberi jatah makanan.

Xi adalah arsitek kebijakan terhadap kaum Uighur, kata Charles Parton, mantan diplomat Inggris di China dan kini menjadi peneliti senior di Royal United Services Institute.

“Kebijakan ini sangat terpusat dan langsung ke puncak pimpinan. Tak diragukan lagi bahwa ini adalah kebijakan Xi Jinping,” kata Parton.

Menurut Parton, Xi atau pejabat tinggi partai lainnya mungkin tidak mengarahkan atau mengizinkan pemerkosaan atau penyiksaan, kata Parton. Tetapi mereka “pasti mengetahuinya”.

Kebijakan tersebut berasal dari Presiden China, Xi Jinping, yang mengunjungi Xinjiang pada tahun 2014 setelah serangan teror separatis Uighur. Tak lama kemudian, menurut rangkaian dokumen yang bocor ke New York Times, dia memerintahkan pihak berwenang setempat untuk mengatasinya “benar-benar tanpa ampun”.

Atas berbagai kekejaman yang dialami kaum muslim Uighur ini, dunia hanya bisa diam membisu. Sesekali pernyataan “basa-basi” dikeluarkan negara-negara besar. Namun, tidak ada yang benar-benar berani memberikan sanksi yang efektif pada Cina, termasuk para penguasa muslim.

Pada Desember 2020, Mahkamah Kriminal Internasional menolak permohonan para muslim Uighur di pengasingan untuk menyelidiki Cina atas tuduhan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan, dengan mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat bertindak karena Cina berada di luar yurisdiksinya.

Muslim itu Bersaudara

Bagi warga Uighur, Islam adalah bagian penting dari kehidupan dan identitas mereka. Bahasa mereka terkait dengan bahasa Turki, dan mereka menganggap diri mereka secara kultural dan etnis lebih dekat dengan negara-negara di Asia Tengah ketimbang Cina.

Operasi militer Cina yang senyap dan sistematis untuk membersihkan 15 juta etnis Uighur muslim di Xinjiang. Wilayah tersebut sebetulnya adalah Turkistan Timur hingga Cina mulai menduduki dan menjajah area tersebut pada tahun 1949.

Lebih lanjut lagi, Cina tidak menghilangkan jejak kekerasan mereka di kehidupan muslim Uighur sebelumnya. Hal ini seperti mimpi buruk yang kembali muncul, menampilkan genosida yang dilakukan di abad sebelumnya.

Kaum muslim Uighur sebagai pihak minoritas mengalami penindasan dan kezaliman dari pemerintah Cina. Kezaliman itu terus berlangsung sampai hari ini, tanpa henti.

Padahal Rasulullah Saw. bersabda,

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan sakit karena demam.” (HR Muslim)

Bandingkan realitas diamnya para penguasa muslim saat ini dengan kisah para pemimpin muslim pada masa lalu di bawah Khilafah.

Tengoklah kisah para pemimpin seperti Khalifah al-Mu’tashim. Ia dengan sigap mengirim pasukan setelah seorang wanita muslimah memanggil namanya saat tentara Romawi menyerang kota tempat wanita itu tinggal. Khalifah al-Mu’tashim sendirilah yang membebaskan wanita itu setelah tentara Romawi dikalahkannya. [MNews/Rgl] Disarikan dari berbagai sumber.

4 thoughts on “[News] Muslimah Uighur Alami Pemerkosaan Sistematis!

Tinggalkan Balasan