[Tapak Tilas] Masjid Quba, Masjid yang Berdiri Atas Dasar Takwa

Oleh: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Betapa istimewanya Masjid Quba, sehingga baginda Rasulullah saw. selalu menyempatkan diri berkunjung ke masjid ini.

Dalam riwayat Imam Muslim, Abdullah bin Umar berkata, “Dahulu Nabi saw.  mendatangi Masjid Quba setiap Sabtu dengan berjalan kaki atau berkendaraan, kemudian melaksanakan salat dua rakaat.”

Bahkan dikisahkan, sebelum terjadinya perang Uhud, beliau menerima kabar tentang pergerakan 3.000 pasukan kaum Quraisy dari Makkah menuju Madinah saat beliau sedang berada di Masjid Quba. Saat itu, beliau menerima surat rahasia dari sepupunya, Abbas bin Abdul Muthallib, yang menjadi informan beliau di kota Makkah.

Masjid yang Dibangun Pertama

Posisi Masjid Quba sendiri ada di luar Kota Madinah. Tepatnya sekitar 2 mil atau 5 km di sebelah tenggara kota Madinah.

Masjid ini merupakan masjid pertama yang didirikan oleh Rasulullah Saw. Tepatnya, di bulan Rabiulawal tahun pertama Hijriah atau 622 M.

Sebagaimana dikisahkan dalam kitab-kitab Sirah, sebelum Rasulullah saw. dan Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. sampai ke Madinah (Yatsrib) dalam perjalanan hijrahnya dari Makkah, beliau sempat singgah di daerah bernama Quba. Daerah ini dikenal penuh dengan pohon kurma.

Di tempat ini beliau dan sahabatnya tinggal selama beberapa hari. Sebagian ahli sirah menyebut, lebih kurang selama empat hari. Kemudian beliau membangun sebuah masjid di lahan kebun kurma seluas 1.200 meter persegi.

Rasulullah saw. sendiri turut terlibat langsung dalam pembangunan masjid ini. Beliau membawa bahan-bahan bangunan sendiri hingga badan beliau dipenuhi debu dan pasir. Lalu ketika selesai, beliau pun memimpin salat.

Tentu saja, Masjid Quba yang dibangun oleh Rasulullah saat itu, berbeda dengan masjid Quba yang ada saat ini. Masjid yang berdiri sekarang ukurannya jauh lebih besar, yakni seluas 5.860 meter dengan daya tampung hingga 20 ribu orang.

Masjid ini memang telah beberapa kali mengalami renovasi. Di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, menara masjid pertama kali dibangun. Adapun renovasi terakhir dilakukan secara besar-besaran oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi pada 1986.

Masjid Quba vs Masjid Dhirar

Keistimewaan Masjid Quba juga nampak dari pujian yang Allah SWT berikan atas masjid ini dan atas mereka yang salat di dalamnya karena ditegakkan atas dasar takwa. Allah SWT berfirman,

Baca juga:  Meneladani Rasulullah dalam Perjuangan dan Dakwah

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

“Janganlah kamu salat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS At-Taubah: 108)

Namun, ayat ini sebetulnya juga turun berkenaan dengan masjid lain yang dibangun sekelompok kaum munafik di dekat Masjid Quba. Masjid ini dikenal dengan nama Masjid Ad-Dhirar atau masjid yang membahayakan.

Disebut dengan Ad-Dhirar karena masjid ini memang sengaja dibangun bukan karena landasan takwa sebagaimana masjid Quba. Tapi justru untuk memecah belah dan melemahkan kaum muslimin.

Dikisahkan, orang-orang munafik di kota Madinah membangun masjid ini atas anjuran Abu ‘Amir al-Rahib. Dia adalah seorang rahib nasrani dari kalangan Bani Khajraz, yang dikenal sangat fanatik dengan agamanya.

Sejak Rasulullah datang ke Madinah, permusuhannya pada Rasulullah dan Islam dikenal sangat keras. Sampai-sampai dia pernah datang ke kota Makkah untuk memprovokasi kaum Musyrik Quraisy agar memerangi Rasulullah di madinah.

Saat perang Uhud pecah, dia pun turut berperang bersama musyrikin Makkah. Lalu saat Rasulullah mendakwahinya, dia menolaknya dengan sangat keras dan memilih lari ke wilayah kekuasaan Heraklius dan tinggal di sana.

Dari sanalah dia mengirim surat kepada kaum munafik dan menyarankan kepada mereka untuk membangun sebuah masjid di dekat masjid Quba sebagai tempat berkumpul dan membuat makar atas negara Islam.

Lalu dia pun menjanjikan akan mendatangkan bantuan dari Herakluis sebagaimana yang juga dijanjikan kepadanya. Kaum munafik pun menjalankan apa yang disarankannya. Hingga masjid itu pun selesai dibangun saat Rasulullah saw. hendak menuju Tabuk untuk berperang melawan Romawi di tahun ke 9 Hijriah.

Dikisahkan dalam buku Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam (terj. Jilid II halaman 491), saat beliau saw. tiba di daerah Dzu Awan dan sedang bersiap melanjutkan perjalanan ke Tabuk, para pemilik masjid Dhirar mendatangi beliau dan meminta agar beliaun mau berkunjung ke masjid itu.

Mereka pun mengatakan, bahwa masjid itu adalah masjid bagi orang yang sakit, orang miskin, dan masjid bagi malam yang hujan dan gelap gulita.

Baca juga:  [Tapak Tilas] Peradaban Baru itu Bermula dari Puncak Gunung Cahaya

Saat itu baginda Rasul menjawab bahwa beliau sedang sibuk dan sedang bersiap untuk berangkat. Lalu beliau pun menjanjikan akan datang dan salat bersama mereka sepulang dari Tabuk.

Namun dalam perjalanan pulang dari perang Tabuk, beliau mendapat wahyu, yang mengabarkan tentang hakikat masjid itu. Yakni dengan turunnya Qur’an surat at-Taubah ayat 107-110:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah, “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS.At-Taubah: 107)

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

“Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS At-Taubah: 108)

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS At-Taubah: 109)

لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْا رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ إِلَّا أَنْ تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS At-Taubah: 110)

Baca juga:  Makkah, Satu di Antara Dua Kota Suci

Atas dasar wahyu Allah inilah, maka Rasulullah mengetahui bahwa kaum munafik sejatinya telah memanfaatkan kepergian beliau dari Madinah untuk menyebarkan racun-racun kemunafikan dan mengonsentrasikan kekuatan mereka untuk memperdaya kaum muslim di masjid itu.

Maka beliau segera memerintahkan para sahabatnya untuk membakar dan meruntuhkan masjid Dhirar yang sedang diisi  para penghuninya. Mereka lari kocar-kacir dengan penuh rasa takut akan ketegasan Rasulullah saw.

Menarik Ibrah

Berkunjung ke Masjid Quba semestinya memberi pelajaran berharga tentang hakikat takwa dan bagaimana perwujudannya. Sebagaimana Rasulullah saw. membangun masjid itu di tengah perjalanan hijrah yang tak mudah sebagai wujud takwa.

Selain itu, perlu dipahami bahwa masjid adalah refleksi hidup seorang mukmin sekaligus menjadi prototipe masyarakat Islam.

Di dalamnya tercermin wujud hablun minallah, yakni bagaimana seorang mukmin membangun hubungannya dengan Allah, sekaligus hablun minannas, berupa seluruh aktivitas   yang menyangkut kehidupan bermasyarakat dengan masjid sebagai sentralnya.

Karenanya, dalam Islam masjid memiliki kedudukan politis dan strategis. Sebagaimana baginda Rasul telah menjadikan Masjid menjadi tempat konsolidasi sekaligus tempat utama untuk membina kaum mukminin.

Hingga lahirlah sosok-sosok yang hebat dan siap berkontribusi bagi kemuliaan islam dan negaranya, hingga peradaban Islam mampu tegak cemerlang selama berabad-abad.

Hanya saja, kisah ini pun memberi pelajaran kepada kita, bahwa di tengah kehidupan umat Islam akan senantiasa ada ancaman dari kelompok munafikin. Mereka akan senantiasa mencari-cari kesempatan untuk menyesatkan dan melemahkan umat Islam dari dalam, dengan menggunakan berbagai cara dan sarana, termasuk melalui masjid.

Namun di masa itu, keberadaan institusi negara di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. mampu meminimalisir semua ancaman. Yakni dengan menegakkan hukum yang tegas dan jelas pada para pembuat makar, hingga pada diri mereka muncul rasa takut yang mendalam serta perasaan lemah di hadapan kekuatan Islam.

Inilah yang hari ini hilang dari kehidupan umat Islam. Ketiadaan institusi politik Islam (Khilafah) membuat kaum kaum munafik dan kafir terus membuat makar dan melancarkan permusuhan kepada umat Islam. Hingga umat ini senantiasa menjadi bulan-bulanan dan tak lagi memiliki kekuatan.

Semoga keadaan ini akan segera berubah. Sejalan dengan munculnya geliat semangat untuk mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah umat melalui perjuangan penegakan Khilafah Islamiah. [MNews/Juan]

3 thoughts on “[Tapak Tilas] Masjid Quba, Masjid yang Berdiri Atas Dasar Takwa

Tinggalkan Balasan