[Sirah Nabawiyah] Fathu Makkah

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah) terjadi pada tahun delapan Hijriah.

Dengan peristiwa ini, Allah menyelamatkan kota Makkah dari belenggu kemusyrikan dan kezaliman, menjadi kota yang menerapkan Islam. Dengan peristiwa ini, Allah mengubah kota Makkah yang dulunya menjadi lambang kesombongan dan keangkuhan menjadi kota lambang keimanan dan kepasrahan kepada Allah ta’ala.

Sebab Terjadinya Fathu Makkah

Sepulang kaum muslimin dari Perang Mu’tah, kaum kafir Quraisy menduga kaum muslimin telah hancur. Maka mereka menghasut Bani Bakar agar menyerang Bani Khuza’ah dan memperkuat mereka dengan persenjataan. Bani Bakar menyerang Bani Khuza’ah dan berhasil membunuh sebagian mereka.

‘Amru bin Salim al Khuza’iy melarikan diri ke Madinah dan bercerita kepada Rasulullah Saw. tentang peristiwa yang menimpa mereka. Dia meminta bantuan kepada Beliau Saw. Rasulullah Saw. berkata kepadanya, “Aku pasti menolongmu, hai ‘Amru bin Salim.

Rasulullah Saw. melihat bahwa pelanggaran perjanjian Hudaibiyah yang dilakukan kafir Quraisy tidak bisa diimbangi kecuali dengan Fathu Makkah. Kaum Quraisy sebenarnya sangat takut melanggar perjanjian.

Kafir Quraisy Mengutus Abu Sufyan ke Madinah

Karena merasa telah melanggar perjanjian, orang kafir Quraisy pun mengutus Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbarui isi perjanjian. Sesampainya di Madinah, dia memberikan penjelasan panjang lebar kepada Nabi Saw.

Rasulullah Saw. tidak menanggapinya dan tidak memedulikannya. Akhirnya Abu Sufyan menemui Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma agar mereka memberikan bantuan untuk membujuk Nabi Saw. Namun usahanya ini gagal. Terakhir kalinya, dia menemui Ali bin Abi Thalib ra. agar memberikan pertolongan kepadanya. Untuk kesekian kalinya, Ali pun menolak permintaan Abu Sufyan. Dunia terasa sempit bagi Abu Sufyan.

Rasulullah Saw. Menyiapkan Pasukan

Dengan adanya pengkhianatan ini, Nabi Saw. memerintahkan para sahabat untuk menyiapkan senjata dan perlengkapan perang. Beliau Saw. mengajak semua sahabat untuk menyerang Makkah. Beliau bersabda, “Ya Allah, buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak mendengar kabar hingga aku tiba di sana secara tiba-tiba.”

Untuk menjaga misi kerahasiaan ini, Rasulullah Saw. mengutus satuan pasukan sebanyak 80 orang menuju perkampungan antara Dzu Khasyab dan Dzul Marwah pada awal bulan Ramadan. Hal ini beliau lakukan agar ada anggapan bahwa beliau hendak menuju ke tempat tersebut.

Sementara itu, ada seorang sahabat Muhajirin, Hatib bin Abi Balta’ah menulis surat untuk dikirimkan ke orang Quraisy. Isi suratnya mengabarkan akan keberangkatan Nabi Saw. menuju Makkah untuk melakukan serangan mendadak. Surat ini beliau titipkan kepada seorang wanita dengan upah tertentu dan langsung disimpan di gelungannya.

Namun, Allah Zat Yang Maha Melihat mewahyukan kepada Nabi-Nya tentang apa yang dilakukan Hatib. Beliau pun mengutus Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam untuk mengejar wanita yang membawa surat tersebut.

Sekembalinya di Madinah, Ali langsung menyerahkan surat tersebut kepada Nabi Saw.

Terkait hal ini Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah….” (QS Al Mumtahanah: 1)

Pasukan Islam Bergerak Menuju Makkah

Rasulullah Saw. keluar Madinah bersama sepuluh ribu sahabat yang siap perang. Abdullah bin Umi Maktum diberi tugas untuk menggantikan posisi Beliau di Madinah. Setelah Beliau sampai di suatu tempat yang bernama Marra Dhahraan, dekat dengan Makkah, Beliau memerintahkan pasukan untuk membuat obor sejumlah pasukan. Beliau juga mengangkat Umar ra. sebagai penjaga.

Malam itu, Abbas berangkat menuju Makkah dengan menaiki bighal (peranakan kuda dan keledai) milik Nabi Saw. Abbas bertemu dengan Abu Sufyan dan memintanya untuk ikut dengannya menghadap Rasulullah Saw.

Ketika melewati obornya Umar bin Khattab, dia pun melihat Abu Sufyan. Dia berkata,“Wahai Abu Sufyan, musuh Allah, segala puji bagi Allah yang telah menundukkan dirimu tanpa suatu perjanjian pun”. Karena khawatir, Abbas mempercepat langkah bighalnya agar dapat mendahului Umar. Mereka pun langsung masuk ke tempat Rasulullah Saw. Setelah itu, barulah Umar masuk sambil berkata, “Wahai Rasulullah, ini Abu Sufyan. Biarkan aku memenggal lehernya.” Abbas pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku telah melindunginya.”

Rasulullah Saw bersabda, “Kembalilah ke kemahmu wahai Abbas! Besok pagi, datanglah ke sini!

Esok harinya, Abbas bersama Abu Sufyan menemui Nabi Saw. Beliau bersabda, ”Celaka wahai Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah?” Akhirnya Abu Sufyan pun masuk Islam dan memberikan kesaksian yang benar.

Abu Sufyan Menyaksikan Kekuatan Rasulullah Saw. dan Kaum Muslimin

Rasulullah Saw. meninggalkan Marra Dzahran menuju Makkah. Sebelum berangkat, Beliau memerintahkan Abbas untuk mengajak Abu Sufyan menuju jalan tembus melewati gunung, berdiam di sana hingga semua pasukan Allah lewat di sana. Dengan begitu, Abu Sufyan bisa melihat semua pasukan kaum muslimin.

Maka Abbas dan Abu Sufyan melewati beberapa kabilah yang ikut gabung bersama pasukan kaum muslimin. Masing-masing kabilah membawa bendera. Setiap kali melewati satu kabilah, Abu Sufyan selalu bertanya kepada Abbas, “Kabilah apa ini?” dan setiap kali dijawab oleh Abbas, Abu Sufyan senantiasa berkomentar, “Aku tidak ada urusan dengan bani Fulan.”

Setelah agak jauh dari pasukan, Abu Sufyan melihat segerombolan pasukan besar. Dia lantas bertanya, “Subhanallah, wahai Abbas, siapakah mereka ini?”

Abbas menjawab, “Itu adalah Rasulullah bersama Muhajirin dan Anshar.”

Abu Sufyan bergumam, “Tidak seorang pun yang sanggup dan kuat menghadapi mereka.

Pembebasan Makkah

Rasulullah Saw. melanjutkan perjalanan hingga memasuki Dzi Thuwa. Di sini pula, beliau membagi pasukan. Khalid bin Walid ditempatkan di sayap kanan untuk memasuki Makkah dari dataran rendah dan menunggu kedatangan Nabi Saw di Shafa. Sementara Zubair bin Awwam memimpin pasukan sayap kiri, membawa bendera Nabi dan memasuki Makkah melalui dataran tingginya. Beliau perintahkan agar menancapkan bendera di daerah Hajun dan tidak meninggalkan tempat tersebut hingga beliau datang.

Kemudian, Nabi Saw memasuki kota Makkah sambil membaca firman Allah, “Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS Al Fath: 1)

Beliau Saw. terus berjalan hingga sampai di Masjidilharam.

Sementara orang-orang Quraisy berkerumun di dalam masjid, menunggu keputusan beliau Saw. Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah. Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangkan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”

Mereka pun menjawab, “Yang baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.” Beliau Saw melanjutkan bersabda, “Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!”

Demikianlah kemenangan yang sangat nyata bagi kaum muslimin. Kaum Quraisy berbondong-bondong masuk Islam dan tunduk di bawah kepemimpinan Rasulullah Saw. [MNews/Rgl]


Disarikan dari: Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyur Rahman AlMubarakfury, Pustaka AlKautsar; Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al AzharPress

One thought on “[Sirah Nabawiyah] Fathu Makkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *