Memutus Rantai Plagiarisme, Sistem Pendidikan Tinggi Butuh Revisi Total!

Oleh: Juanmartin, S,Si., M.Kes.

MuslimahNews.com, OPINI — Plagiarisme seolah menjadi momok dunia kampus saat ini. Untuk melindungi orisinalitas karya ilmiah dan mencegah plagiarisme, nyaris seluruh Perguruan Tinggi menerapkan aturan uji plagiarisme/similarity melalui sejumlah program ataupun aplikasi, seperti uji turnitin, misalnya.

Sayangnya, meski aturan pemindaian similaritas telah diterapkan, tetap saja civitas academica memiliki cara bagaimana lolos dari mesin pengecek plagiarisme.

Niat baik pemberlakuan Uji similarity pada akhirnya harus berhadapan dengan jiwa-jiwa sekuler yang rela menghalalkan cara untuk meloloskan karya ilmiah.

Bagi para dosen, sistem administrasi akademik yang menilai kinerja para dosen dari angka kredit yang dikumpulkan dari hasil “berburu” jurnal internasional bereputasi dan prasyarat lainnya, mau tak mau mengondisikan akademisi untuk berjibaku mengikuti aturan main yang ditetapkan.

Para dosen harus banting tulang mengejar poin untuk mengurus kenaikan pangkat. Alhasil sindikat sitasi dan jebakan plagiarisme menjadi teror yang mempertaruhkan nama baik akademisi. Tentu saja realitas ini sangat menyedihkan.

Terlebih saat seluruh aktivitas manusia terintegrasi dengan teknologi seperti saat ini, kongkalikong dengan program pemindai kemiripan karya ilmiah seolah jadi rutinitas tersendiri. Bukannya memastikan karya pribadi tetap orisinal, tak sedikit insan kampus yang terjebak dalam upaya mencari trik dan tips lolos dari uji similarity.

Lihat saja di mesin pencari, lalu ketikan keywords bagaimana lolos dari uji turnitin dan sejenisnya, akan kita dapati sejumlah trik berikut tutorial bebas uji kemiripan dalam waktu sekejap.

Apa arti dari semua ini? Ini adalah sinyal betapa tradisi akademik kita sedang mengalami stagnasi ketertarikan pada ilmu. Ini adalah bukti bahwa betapa motif ekonomi mendominasi dunia pendidikan.

Uji similarity hanyalah alat, yang meredam jiwa plagiat tapi tidak menghilangkannya. Jelas ini merupakan alarm keras betapa plagiarisme telah mencengkeram dunia Pendidikan Tinggi.

Ratusan program pemindai plagiarisme akan dilawan dengan ratusan trik dan tips lolos uji plagiarisme. Begitu seterusnya. Jika demikian adanya, apa yang salah dari tradisi keilmuan kita? Mengapa plagiarisme kian tumbuh subur?

Plagiarisme Mengglobal

Tak hanya terjadi di negeri-negeri dengan tradisi akademik yang belum kukuh. Skandal plagiarisme juga melanda Jerman dan Inggris, dua negeri yang memiliki rekam jejak akademik yang kukuh dan panjang. Karl Theodor zu Guttenberg, anak ajaib dalam dunia politik Jerman, pada 1 Maret 2011, terpaksa mundur sebagai menteri pertahanan sesudah kontroversi.

Skandal plagiarisme itu membuat dia mendapat julukan Baron Cut-and-Paste (potong dan tempel), Zu Copyberg dan Zu Googleberg dari media Jerman. Di Inggris, skandal plagiarisme telah menyebabkan The London School of Economics dipelesetkan menjadi The Libyan School of Economics. (nasional.kompas.com)

Di Indonesia, mengutip dari apa yang diangkat Majalah Tempo yang mengusung headline “Wajah Kusam Kampus” menyebutkan, meski tersangkut dugaan plagiat karya ilmiah untuk syarat memperoleh titel guru besar, Muryanto Amin dijadwalkan tetap dilantik sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara pada Kamis, 28/1/2021.

Sikap bersikeras pemerintah untuk melantik Bapak Muryanto Amin sebagai rektor USU berlawanan dengan keputusan Dewan guru besar universitas itu yang sudah menjatuhkan sanksi atas pelanggaran etik yang dilakukan oleh Bapak Muryanto. Dewan guru besar sudah menyatakan bahwa tindakan sang rektor menjiplak karyanya sendiri dalam tiga jurnal ilmiah berbeda merupakan sebuah pelanggaran akademik.

Sebelum rektor USU, sejumlah kasus serupa mencuat. Tentu ini bukan kasus tunggal, banyak kasus jiplak karya ilmiah lainnya yang praktiknya cenderung didiamkan. Plagiarisme karya ilmiah di kampus seolah perkara lumrah. Dua dekade lalu, majalah Tempo juga mengulas praktik itu lewat artikel berjudul “Penjiplakan Karya Berkobar-kobar” pada edisi 17 Desember 1988.

Sedih, memang. Apalagi mengingat kebanyakan skandal itu dilakukan sekadar untuk memburu kenaikan pangkat. Alhasil, bukan hanya terjebak dalam plagiarisme, calo scopus, dan sindikat sitasi adalah term yang turut mengiringi perjalanan karier seorang dosen, yang tentu kian memperparah atmosfer perguruan tinggi.

Babat Plagiat dengan Revisi Sistem Pendidikan

Sikap jujur sudah pasti diajarkan di bangku kuliah. Melalui kurikulum pendidikan tinggi, sikap jujur ini dirumuskan dalam berbagai Mata Kuliah, dan diteka oleh para pendidik. Sikap yang diharapkan bisa dijiwai para civitas akademik dan terwujud dalam praktik tri dharma Perguruan Tinggi.

Mungkin saja penekanan berbagai teori mengenai sikap jujur berulang kali didiktekan dan akademisi telah begitu hafal pembahasan sikap jujur hingga luar kepala. Namun, mengapa dalam implementasi penyusunan karya ilmiah sikap jujur ini terkesan sulit? Ada paradigma mendasar yang harus dirombak total dalam hal ini.

Dalam Islam, sikap jujur bukanlah perkara yang dihasilkan semata dari menghafal teori. Lebih dari itu, sikap jujur dipahami sebagai hukum syara, perintah Allah SWT. Alhasil, sikap ini akan mudah dipraktikkan saat seorang manusia sebagai makhluk memahami hubungannya dengan sang Khalik (idrak silah billah).

Hubungan ini akan memunculkan kesadaran bahwa seluruh perbuatannya senantiasa dimonitor. Ia juga memahami bahwa konsekuensi dari pelanggaran atas hal ini yakni berbuat dusta, akan mendapatkan konsekuensi berupa dosa.

Sikap jujur tentu sulit melekat pada jiwa sekuler yang menganggap syariat Allah hanya ada dalam perkara ibadah saja. Di luar itu, Allah dialienasi, dianggap tak berhak mengatur bahkan dalam perkara akademik seperti penyusunan karya ilmiah. Sistem sekuler yang diterapkan saat ini telah mempengaruhi jiwa para akademisi hingga menghalalkan segala cara untuk mengejar jenjang karier.

Dampaknya tentu sangat fatal, fenomena plagiarisme hanyalah salah satu kasus di antara banyaknya kasus yang menimpa dunia pendidikan sekuler kapitalistis seperti saat ini. Tentu tradisi keilmuan ala sekuler kapitalisme wajib direvisi total. Satu-satunya sistem yang mampu meminimalisasi plagiat adalah Islam semata.

Sistem pendidikan dalam Islam yang bertujuan untuk mencetak output yang berkepribadian Islam yang menyatukan pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat Islam, akan menjelma menjadi ahli ilmu yang tidak hanya fakih dalam ilmu umum, tapi juga ilmu agama (fakihu fiddiin).

Kefakihan ini akan melahirkan sosok-sosok pemimpin, yang akan mewakafkan ilmunya semata untuk meraih kemuliaan di sisi Allah, bukan mengejar jenjang karier yang berkutat pada perkara poin dan koin.

Sungguh satu pemandangan yang sangat menyedihkan, saat ahli ilmu diiming-imingi harta. Ketinggian status dinilai dari jurnal, sitasi, dan sejenisnya yang saking dikejar, tidak peduli lagi adanya sindikat scopus, sindikat sitasi atau apalah, yang penting jenjang karier menanjak.

Jadi, di mana mulianya para ahli ilmu? Saat ilmu dikangkangi harta padahal Allah telah memuliakan para ahli ilmu beberapa derajat dibandingkan orang awam. Allah SWT berfirman :

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”

Kejujuran adalah barang mahal dalam sistem sekuler. Sulit mewujudkan integritas dalam sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Rasulullah saw. bersabda, “Tak mungkin berkumpul dalam kalbu seseorang kekufuran dan kenikmatan, dusta dan kejujuran, amanah dan pengkhianatan.” (HR Ahmad).

Kejujuran adalah amanah sedangkan kedustaan adalah khianat. Sudah saatnya sistem pendidikan tinggi berbenah, melakukan revisi total sistem yang dianutnya, dari sistem sekuler ke sistem Islam yang pernah menjadi mercusuar peradaban dan terbukti secara empiris menghasilkan perguruan tinggi kelas dunia dengan karya orisinal yang berkontribusi menyejahterakan masyarakat di 2/3 belahan dunia dengan ilmu dan Islam. Wallaahu a’lam. [MNews/Gz]

One thought on “Memutus Rantai Plagiarisme, Sistem Pendidikan Tinggi Butuh Revisi Total!

Tinggalkan Balasan