Adab Seorang Anak kepada Orang Tuanya

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, KELUARGA Akhir-akhir ini, kasus anak menuntut orang tua secara hukum sepertinya sedang marak di Indonesia.

Seorang ayah digugat anak dan menantunya senilai Rp3 miliar. Gugatan ini bermula dari tanah seluas 3.000 meter milik orang tua dari Koswara. Sebagian di antaranya disewa Deden (anak Koswara) untuk menjadi toko. Tahun ini, Koswara tidak menyewakan lagi karena tanah itu akan dijual. Namun, anaknya keberatan dan menuntut ganti rugi materiel dan imateriel jika tanah itu dijual.

Kasus lainnya, anak menuntut ibu dan ayahnya yang sudah berpisah, dengan tujuan mendamaikan keduanya karena kisruh keduanya terkait harta gana-gini, karena berbagai usaha yang sudah dilakukan tidak menemui hasil. Masih banyak lagi kasus-kasus seperti ini yang mengemuka.

Walaupun beberapa kasus akhirnya berujung pada adanya perdamaian di antara mereka dan sang anak meminta maaf kepada orang tuanya, tetap saja kondisi ini membuat kita kaget sekaligus miris, kok ada anak yang menuntut ibu dan bapak kandungnya bahkan memidanakannya?

Akibat Sistem Sekuler

Sesungguhnya, dalam sistem kehidupan yang menaungi kita saat ini, yaitu sistem sekuler kapitalis, berpeluang besar terjadinya hal-hal serupa ini. Asas manfaat dan kebebasan yang diusung sistem ini melahirkan generasi yang justru semakin jauh dari pemahaman Islam.

Sangat berbeda dengan sistem Islam, sistem yang datang dari Allah SWT yang telah sangat terperinci mengatur kehidupan manusia, termasuk dalam kehidupan keluarga. Mulai dari peran masing-masing personal dalam keluarga, hingga adab yang harus dilakukan anggota keluarga, diatur sedemikian rupa sehingga terwujud keluarga yang harmonis.

Pembagian Peran dalam Keluarga

Pembagian peran dan fungsi yang ada di dalam keluarga, berikut berbagai implikasinya, dapat dipahami sebagai bentuk kesetaraan, keadilan, dan kesempurnaan yang diberikan Islam dalam rangka merealisasikan tujuan-tujuan duniawi dan ukhrawi yang mulia. Di sana, tak ada satu peran dan fungsi pun yang dianggap lebih tinggi daripada peran dan fungsi yang lainnya.

Secara individu, setiap muslim dalam perannya masing-masing (sebagai individu, anak, suami atau istri, ibu atau ayah, sebagai anggota masyarakat) diharuskan memiliki pemahaman yang benar berkaitan dengan seluruh hukum Islam, termasuk hukum-hukum keluarga dan wajib terikat dengannya sebagai konsekuensi iman.

Islam telah memberikan aturan khusus kepada suami dan istri untuk mengemban tanggung jawab kepemimpinan dalam rumah tangga. Suami sebagai kepala dan pemimpin keluarga, sedangkan istri sebagai pemimpin rumah suaminya sekaligus menjadi pemimpin bagi anak-anaknya.

Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan Ibn ’Umar,

Setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir (kepala pemerintahan) adalah pemimpin rakyatnya, yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya; seorang laki-laki adalah pemimpin rumah tangga, yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya; seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak-anaknya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari Muslim).

Baca juga:  Dalam Islam, Lansia Akan Dibuat Bahagia

Islam menetapkan peran dan fungsi suami adalah menjadi pemimpin rumah tangga yang memiliki kewajiban untuk menafkahi dan melindungi seluruh anggota keluarganya. Ia adalah nakhoda yang akan mengendalikan ke mana biduk akan diarahkan.

Kepemimpinan tersebut telah Allah amanahkan ke pundak suami, sebagaimana firman Allah dalam QS An-Nisaa: 34, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita.”

Sedangkan istri sebagai pemimpin rumah tangga suami dan anak-anaknya, mengandung pengertian bahwa ia adalah sebagai ibu dan manajer rumah (ummun wa rabbah al-bayt).

Kepemimpinan yang utama bagi seorang istri adalah merawat, mengasuh, mendidik, dan memelihara anak-anaknya agar kelak menjadi orang yang mulia di hadapan Allah.

Di samping itu, ia pun berperan membina, mengatur, dan menyelesaikan urusan rumah tangga agar memberikan ketenteraman dan kenyamanan bagi anggota-anggota keluarga yang lain. Kepemimpinan perempuan ini berperan melahirkan pemimpin-pemimpin lainnya di tengah-tengah umat.

Lalu, di mana peran anak dalam keluarga?

Anak, bagaimanapun ia adalah bagian yang tidak bisa diabaikan dalam keluarga, ia pun memiliki peran yang dan tanggung jawab dalam keluarga, terlebih anak-anak yang telah balig. Ia wajib berbakti pada kedua orang tuanya—ayah dan ibunya—dan bergaul secara baik dengan mereka.

Di samping itu, anak pun bertanggung jawab terhadap keluarganya, membawa keluarganya tetap berjalan dalam rel Islam. Anak-anak yang sudah balig—tentu dengan pengasuhan dan pendidikan Islam yang benar—mampu berpikir dengan baik, maka mereka sudah bisa kita ajak diskusi dan bisa dimintai pendapatnya.

Demikian halnya ketika ayah dan ibunya melakukan kesalahan atau khilaf, seorang anak pun memiliki kewajiban untuk memberikan pandangannya dan beramar makruf nahi mungkar pada kedua orang tuanya.

Hanya saja, tentu harus dengan perkataan yang makruf. Di sinilah pentingnya adab yang harus dipahami seorang anak terhadap orang tuanya, sehingga ia tidak menjadi anak yang “durhaka” kepada kedua orang tuanya.

Bagaimana Adab Seorang Anak terhadap Orang Tuanya?

Adab merupakan hal penting dalam Islam, karena adab merupakan bagian dari hukum syara’. Adab merupakan bagian dari akhlak Islam yang diperintahkan Allah dan Rasulullah saw. agar setiap muslim menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah, bermuamalat dengan orang lain maupun dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun. Sebaliknya, syariat telah melarang kaum muslim dari akhlak tercela.

Abdullah bin Umar ra. berkata bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda,

Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (Mutaffaq ‘alaih).

Lebih dari itu, Islam memerintahkan orang tua untuk menanamkan adab kepada anak sejak dini. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,

Apabila anak telah mencapai usia 6 tahun, maka hendaklah ia diajarkan adab dan sopan santun.(HR Ibnu Hibban). “Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaikilah adab mereka.” (HR Ibnu Majah)

Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw. telah menjelaskan dengan sangat terperinci bagaimana seharusnya seorang anak bersikap baik terhadap orang tuanya, di antaranya:

Baca juga:  Memperbaiki Hubungan dengan Orang Tua

(1) Menaati dan Menghormati Kedua Orang Tua 

Rasulullah saw. bersabda,

Tidak ada ketaatan dalam melakukan maksiat. Sesungguhnya ketaatan hanya dalam melakukan kebajikan.(HR Bukhari dan Muslim).

Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw. bersabda,

Mendengar dan taat pada seorang muslim pada apa yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada mendengar dan taat.(HR Bukhari).

Rasulullah saw. bersabda,

أَطِعْ أَبَاكَ مَا دَامَ حَيًّا وَلاَ تَعْصِهِ

Taatilah ayahmu selama dia hidup dan selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat.(HR Ahmad)

(2) Merendahkan Pandangan dan Perkataan di Hadapan Orang Tua

Seorang anak haruslah menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya. Salah satunya dengan menjaga pandangan dan perkataannya di hadapan orang tua. Merendahkan suara, jangan pernah berbicara dengan nada yang tinggi apalagi membentak pada orang tua dan tidak memandang tajam merupakan akhlak mulia. Termasuk di dalamnya adalah tidak memotong pembicaraannya.

Allah Ta’ala berfirman dalam QS Al Isra’: 23,

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’.”

Ibnu Katsir mengatakan, “Janganlah engkau memperdengarkan pada keduanya kata-kata yang buruk. Bahkan jangan pula mendengarkan kepada mereka kata ‘uf’ (menggerutu) padahal kata tersebut adalah sepaling rendah dari kata-kata yang jelek.”

Dari ayat ini juga bisa diambil kesimpulan, berkata “ah” saja tidak boleh, apalagi membentaknya atau memukulnya.

Selanjutnya Allah berfirman,

“Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.” (QS Al-Isra: 24)

(3) Bersegera Memenuhi Panggilan Mereka

Anak harus segera menjawab panggilan orang tua begitu mendengar suara orang tua memanggilnya. Dalam hal anak sedang melaksanakan salat (salat sunah), ia boleh membatalkan salatnya untuk segera memenuhi panggilannya.

Ada hadis panjang yang dikeluarkan Imam Muslim dalam Sahih-nya mengenai kisah Juraij. Yang intinya, ia dipanggil ibunya ketika sedang salat, tapi ia lebih mementingkan salatnya dan tidak memenuhi panggilan ibunya. Akhirnya ibunya mendoakan keburukan padanya dan terkabul.

Imam An Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan, “Para ulama mengatakan, ‘Ini dalil bahwa yang benar adalah memenuhi panggilan ibu, karena Juraij sedang melakukan salat sunah. Terus melanjutkan salat hukumnya sunah, tidak wajib. Sedangkan menjawab panggilan ibu dan berbuat baik padanya itu wajib, dan mendurhakainya itu haram.’”

(4) Tidak Mencela Orang Tua dan Tidak Menyebabkan Mereka Mendapatkan Celaan

Dari Abdullah bin ‘Umar ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di antara dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya.” Lalu ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang bisa mencela kedua orang tuanya.” Beliau bersabda, “Seseorang mencela ayah orang lain, lalu orang lain tersebut mencela ayahnya. Dan seseorang mencela ibu orang lain, lalu orang lain tersebut mencela ibunya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Baca juga:  [Nafsiyah] Resep agar Tetap Bahagia

(5) Menafkahi Orang Tua

Jika orang tua meminta sesuatu kepada kita dan tidak bertentangan dengan Islam, maka berikanlah. Apalagi bagi anak laki-laki—terlebih lagi ia mampu—, maka ketika orang tua kita sudah renta tentu anak-anaknya yang menanggung nafkah bagi mereka.

Jangan pernah takut kehabisan harta karena itu merupakan salah satu adab dan jalan berbakti kepada orang tua. Dari Jabir bin Abdillah, seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai harta dan anak, sedangkan bapakku ingin menghabiskan hartaku.” Maka beliau bersabda, “Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu.” (HR Ibnu Majah)

(6) Selalu Mendoakan dan Meminta Maaf

Sebagai seorang anak hendaknya kita selalu mendoakan orang tua sebagaimana yang telah diajarkan Allah melalui Al-Qur’an,

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.(QS At Taubah: 114)

(7) Menjaga Silaturahmi

Meskipun kita telah dewasa dan memiliki keluarga, namun sebagai seorang anak, kita wajib untuk menyambung silaturahmi dengan orang tua.

Dari Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Ibuku pernah datang kepadaku dalam keadaan musyrik di masa Quraisy ketika Beliau mengadakan perjanjian (damai) dengan mereka, lalu aku meminta fatwa kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku karena berharap (bertemu) denganku. Bolehkah aku sambung (hubungan) dengan ibuku?’ Beliau menjawab, ‘Ya. Sambunglah (hubungan) dengan ibumu.'” (HR Muslim)

Demikianlah, Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya seorang anak bersikap terhadap kedua orang tuanya. Ibu adalah orang yang melahirkan kita, mengasuh, dan mendidik kita, sedangkan ayah adalah orang yang mendidik dan menafkahi kita dengan segenap pengorbanan yang mereka berikan.

Sudah seharusnya kita menghormati, taat, dan memperlakukan mereka dengan baik. Imam Al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444),

“Adab anak kepada orang tua, yakni mendengarkan kata-kata orang tua, berdiri ketika mereka berdiri, mematuhi sesuai perintah-perintah mereka, memenuhi panggilan mereka, merendah kepada mereka dengan penuh sayang dan tidak menyusahkan mereka dengan pemaksaan, tidak mudah merasa capek dalam berbuat baik kepada mereka, dan tidak sungkan melaksanakan perintah-perintah mereka, tidak memandang mereka dengan rasa curiga, dan tidak membangkang perintah mereka.”

WalLahu a’lam bishshawab. [MNews/Juan]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

3 komentar pada “Adab Seorang Anak kepada Orang Tuanya

  • 4 Februari 2021 pada 18:03
    Permalink

    Sistem hebat menghasilkan orang hebat

    Balas
  • 4 Februari 2021 pada 18:02
    Permalink

    Sistem Islam sempurna dan paripurna

    Balas
  • 3 Februari 2021 pada 19:08
    Permalink

    Allahummaghfirly wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani shogiiro

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.