[Editorial] Generasi Y-Z dan Visi Indonesia Emas

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Tahun 2045 nanti tepat satu abad Indonesia dikatakan merdeka. Pada usia emas itu, Pemerintah Indonesia sudah menetapkan sebuah mimpi besar: Menjadi bangsa yang maju, berdaulat, adil, dan makmur.

Mimpi ini tertuang dalam Ringkasan Eksekutif Visi Indonesia Emas 2045 yang dirilis Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional dan Bappenas tahun 2019. Berisi mimpi Indonesia di tahun 2015-2045.

Di bagian sambutannya, Presiden Jokowi bahkan menyebut, “Indonesia di tahun 2045 bukan hanya harus menjadi negara maju, tapi juga harus menjadi satu dari lima kekuatan ekonomi dunia.”

Yakni dengan sumber daya manusia (SDM) unggul dan menguasai iptek, serta kesejahteraan rakyat yang jauh lebih baik dan merata melalui pembangunan ekonomi berkelanjutan. Juga ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan yang kuat dan berwibawa.

SIAPA pun tentu boleh punya mimpi alias visi, bahkan harus. Karena mimpi atau visi itulah yang sejatinya akan membuat seseorang atau sebuah bangsa memiliki arah, tak berhenti bergerak, dan terus melakukan langkah jitu demi mewujudkan mimpi atau visi agar menjadi kenyataan.

Hanya saja, membangun mimpi atau visi tentu harus berpijak pada apa yang terjadi saat ini, yakni menghitung potensi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, membaca tantangan dan hambatan yang sangat mungkin dihadapi, serta merumuskan langkah-langkah mencapai visi dengan bekal perhitungan dan bacaan tadi. Dengan demikian, mimpi tak hanya sekadar mimpi.

Oleh karenanya, membayangkan kondisi Indonesia di 2045 mengharuskan kita membaca potret generasi saat ini. Khususnya mereka yang disebut dengan Generasi Y (milenial), yakni generasi yang lahir tahun 1981-1996, serta Generasi Z yang lahir tahun 1997-2012.

Pasalnya, mereka inilah yang kelak akan mengisi kepemimpinan dan menjadi pilar penyangga masyarakat, hingga Indonesia Emas yang diimpikan bisa benar-benar terwujud. Mengingat pada masa itu, Generasi Y dan Z berada pada usia yang sangat produktif (di bawah 65 tahun), sehingga kontribusinya benar-benar diharapkan.

TERKAIT hal ini, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data, proporsi terbesar penduduk Indonesia pada 2020 memang didominasi dua generasi ini. Generasi Z (usia 8-23 tahun) sebesar 27,94 persen dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 270,20 juta jiwa. Disusul Generasi Y (usia 24-39 tahun) sebesar 25,87 persen.

Adapun sisanya, diisi oleh Generasi X, yakni mereka yang lahir tahun 1965-1980 atau kisaran usia 40-55 tahun sebesar 21,88 persen dan Generasi Baby Boomer yang lahir tahun 1946-1964 atau usia 54-74 tahun, sebesar 11,56 persen. (antaranews, 21/01/2021).

Baca juga:  Generasi Korban Kebijakan Industri

Masalahnya, Generasi Y dan Generasi Z yang menjadi tumpuan untuk mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045 nanti ini memiliki karakteristik yang sangat unik, yakni karakter yang bisa menjadi kelebihan sekaligus kelemahan dan tantangan dalam mewujudkan visi.

Dua generasi ini sama-sama lahir di era digitalisasi dan teknologi tinggi, di mana arus informasi sedemikian terbuka dan serba cepat, seolah semuanya ada dalam genggaman.

Maka gaya hidup yang serba instan, serba bebas atau permisif, konsumtif, tetapi kreatif dan inovatif pun menjadi ciri kedua generasi ini, meskipun tentu dengan kadar yang berbeda.

Masalahnya, situasi dunia di masa mendatang akan diwarnai dengan persaingan politik dan ekonomi internasional yang makin berat dan lebih ketat. Khususnya dalam upaya negara-negara besar membangun pengaruh politik serta berebut sumber daya dan pasar dunia yang kian terbatas.

Sementara di saat yang sama, ilmu pengetahuan dan teknologi pun akan maju lebih pesat lagi, bahkan dalam kecepatan yang tak terbayangkan.

Dalam kajiannya, McKenzie bahkan memprediksi, pada 2030 akan terdapat sekitar 800 juta pekerjaan manusia yang akan digantikan komputer, robot, dan teknologi canggih, sehingga 375 juta orang harus berganti profesi.

Sementara World Economic Forum (WEF) juga memprediksi 65% dari anak-anak yang kini duduk di bangku SD bakal bekerja pada bidang yang hari ini belum ada. (Investasi Daily Indonesia, 25/01/2021).

INDONESIA sendiri, hari ini masih menghadapi pekerjaan rumah (PR) besar terkait kualitas generasi. Beberapa pihak bahkan melihat bahwa kebijakan pemerintah menyangkut generasi masih belum nyambung dengan kebutuhan yang harus dipersiapkan untuk meraih visi besar tadi.

Penerapan aturan hidup yang serba sekuler, liberal, dan kapitalistik oleh negara, serta lepas tangannya negara dari pengaturan berbagai urusan umat, membuat era digitalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang terjadi hari ini hanya membentuk generasi yang serba tahu dan serba pintar, tapi rapuh akibat tak memiliki ketahanan ideologi.

Maka, maraknya krisis moral dan kriminalitas yang berbasis teknologi di kalangan generasi muda pun menjadi niscaya. Tanpa benteng negara, berbagai kerusakan begitu mudah tersebar luas di kalangan mereka, membentuk lifestyle yang jauh dari nilai-nilai adab, apalagi halal-haram. Bahkan tak hanya di kalangan remaja atau pemuda, di kalangan anak-anak kecil pun kerusakan sudah merajalela.

Baca juga:  Milenial kok Ditakut-takuti Radikal-Radikul, Emang Ngaruh?

Hal ini diperparah kebijakan pendidikan kapitalistik yang melulu bicara pembentukan soft skill dan hard skill, fasih berbicara soal link and match dengan industri atau pasar kerja. Namun yang disayangkan, minus dari penanaman nilai-nilai moral, apalagi identitas ideologi. Dalam hal ini penancapan karakter mereka sebagai seorang muslim.

Alhasil, keberhasilan pendidikan hari ini hanya dihitung dari seberapa banyak output yang terserap dalam dunia kerja. Sayangnya, pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan-pekerjaan yang diciptakan perusahaan-perusahaan asing yang pintu masuknya dibuka lebar-lebar oleh negara, atas nama utang dan investasi. Itu pun dalam level pekerjaan teknis, bukan strategis.

Tak heran jika banyak pengamat yang mengkritik, sistem pendidikan yang digagas hari ini—termasuk tagline “merdeka belajar”— serta adanya konsentrasi pada pendidikan vokasional, hanyalah bertujuan mencetak kacung asing, sekaligus menancapkan posisi bangsa dan negara Indonesia sebagai objek penjajahan bangsa-bangsa lain, khususnya melalui sektor ekonomi.

Problem ini ditambah dengan ketidakadilan akses generasi terhadap pendidikan berkualitas di berbagai penjuru tanah air. Maklum, kemiskinan juga masih jadi PR besar akibat penguasaan sumber daya milik umat oleh asing.

Di sisi lain, kapitalisasi pendidikan berjalan begitu masif sejalan dengan penerapan sistem kapitalisme dan liberalisme di berbagai bidang. Hingga pendidikan berkualitas pun selalu identik dengan biaya yang sangat mahal.

Maka pertanyaannya, jika situasi generasinya masih seperti ini, dan negara masih berparadigma seperti ini, bagaimana bisa di usia emas tahun 2045 nanti Indonesia bisa menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur?

VISI menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur di masa depan tentu hanya akan diraih manakala generasi yang ada hari ini adalah generasi yang unggul. Bukan hanya unggul dari aspek skill saja, tapi harus unggul dalam pola pikir dan pola sikap.

Pola pikir dan pola sikap yang unggul hanya akan lahir dari asas pemikiran (akidah) yang lurus, akidah yang memiliki cara pandang benar terhadap hakikat kehidupan dan tentang hakikat keberadaan manusia di dunia. Dengan akidah ini mereka akan tertuntun untuk memiliki kesadaran yang lurus serta langkah hidup yang benar.

Sejatinya, akidah Islam adalah akidah yang lurus. Darinya lahir aturan hidup yang benar dan sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, alam semesta, dan kehidupan.

Baca juga:  [News] Perempuan dan Gen-YZ Rentan Terpapar Radikalisme? Framing Berbahaya!

Karenanya, Islam adalah ideologi yang dipastikan mampu menjadi tuntunan sekaligus kaidah berpikir, yang bisa mengarahkan umat untuk maju dan membangun sebuah peradaban cemerlang di masa depan.

Ideologi Islam inilah yang semestinya dihadirkan sebagai asas pembangunan generasi, termasuk sebagai asas sistem pendidikan dan asas bagi sistem-sistem lainnya hari ini. Sehingga akan lahir SDM berkepribadian Islam yang paham tujuan penciptaan, yakni sebagai hamba Allah sekaligus sebagai khalifah pemakmur bumi, bukan perusak bumi.

Karenanya, output pendidikan Islam tak hanya melahirkan generasi beriman dan bertakwa, serta paham bagaimana menyikapi dan memberi solusi problem kehidupan mereka dengan skill yang memadai dan sesuai aturan syariat, tapi juga memiliki visi keumatan berbasis ideologi yang didukung sistem hidup yang mumpuni. Itulah syariat Islam kaffah yang diterapkan dalam bingkai sistem Khilafah Islamiah.

SAAT Ideologi Islam menjadi asas dalam berbagai aspek kehidupan umat, akan lahir profil-profil pribadi hebat. Umat Islam yang berada di bawah naungan Khilafah mampu tampil sebagai sebuah bangsa yang mampu memimpin peradaban.

Mereka punya kemandirian, berwibawa, dan berdaulat. Hal yang hari ini justru sulit untuk diwujudkan, sehingga bangsa ini begitu mudah masuk dalam jebakan musuh dan terjajah.

Wajar jika begitu banyak sejarawan mengakui kehebatan sistem pendidikan Islam berikut sistem politik Khilafah yang menjadi supporting system-nya. Sebagaimana, antara lain, tertuang dalam karya Will Durant, sejarawan Barat yang jujur dalam bukunya The Story of Civilization:

Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapa pun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas.

Fenomena seperti ini belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas, hingga berbagai ilmu, sastra, filsafat, dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.”

Alhasil, Indonesia Emas hanya akan terwujud manakala generasi hari ini berpegang teguh pada ideologi Islam. Bukan malah terus berpegang teguh pada sistem sekuler kapitalis liberal yang terbukti hanya melanggengkan penjajahan. [MNews/SNA]

3 thoughts on “[Editorial] Generasi Y-Z dan Visi Indonesia Emas

  • 4 Februari 2021 pada 17:44
    Permalink

    Potensi umat hanya bisa bermanfaat secara sempurna jika dengan sistem yang sempurna pula

  • 3 Februari 2021 pada 18:01
    Permalink

    Visi Indonesia Emas akan benar2 terjadi jika ada perubahan mendasar dibawah naungan Khilafah yang menerapkan syariat Islam Kaffah…Semoga generasi Y -Z siap mjd para pejuang & pengisi masa depan Khilafah…Aamiin

  • 3 Februari 2021 pada 16:24
    Permalink

    Indonesia emas akan terwujud dngan keimanan yg kokoh ,dan d sandang oleh pra generasi muda yg paham tujuan penciptaan nya d muka bumi ini Allahu akbar

Tinggalkan Balasan