Tes GeNose, Mengapa Rakyat Harus Bayar?

Oleh: Endiyah Puji Tristanti

MuslimahNews.com, OPINI — GeNose hasil temuan UGM sudah mendapatkan emergency use of authorization dan izin edar dari Kemenkes RI, jadi siap diproduksi “massal”. Dipatok harga murah hanya Rp15.000-25.000 sekali tes dan hanya butuh waktu 2 menit untuk memperoleh hasil.

Masyarakat berharap bisa mendapatkan fasilitas tes Covid-19 ini dengan mudah alias gratis. Mungkinkah bisa diharapkan?

Sebagai ikhtiar menjalankan 3T (Tracking and Tracing, Testing, dan Treatment) tentu karya anak bangsa perlu diapresiasi. Namun, mengingat 3T seharusnya menjadi tanggung jawab negara dalam pengendalian pandemi, seharusnya tes GeNose bisa digratiskan—melalui peran negara—tanpa memungut biaya dari masyarakat.

Pandemi yang sudah berlangsung setahun ini sudah sangat memukul kehidupan perekonomian rakyat. Maka, sungguh tidak manusiawi bila biaya tes GeNose dibebankan kepada mereka. Sangat zalim bila pemerintah berupaya mengambil keuntungan menjadikan prinsip jual-beli ala korporasi dalam pengurusan urusan rakyat.

Efektivitas GeNose Menurut Para Ahli

Sejauh mana efektivitas alat GeNose dibandingkan tes antigen untuk deteksi keberadaan si virus Covid-19 dan pengendalian penyebarannya?

Menurut ahli biologi molekuler Eijkman, Profesor Amin Soebandrio alat GeNose tidak bisa menggantikan alat tes berbasis polymerase chain reaction (PCR).

Sedangkan Ahmad Rusdan Utomo, Ph.D., ahli biologi molekuler lulusan Harvard Medical School, Amerika Serikat menyoroti soal timeline GeNose, kapan periode yang tepat penggunaannya, apakah digunakan di awal seseorang terinfeksi ataukah dua minggu setelah terinfeksi. Sebab, GeNose tidak mendeteksi keberadaan virus, namun sebatas mendeteksi volatile organic compound (VOC) atau metabolit gas seseorang yang terinfeksi virus corona.

Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), Hermawan Saputra turut berkomentar. Penggunaan GeNose sebagai screening awal Covid-19 bagi pelaku perjalanan dinilai tidak tepat. GeNose tidak bisa digunakan untuk active case finding atau penemuan kasus baru.

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane juga mengatakan GeNose tidak tepat jika digunakan sebagai screening penumpang. Pandangannya merespons pernyataan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi yang memastikan GeNose akan dipasang di seluruh stasiun kereta api, bandara, pelabuhan dan terminal.

Demikian pula epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengatakan penggunaan alat itu harus dalam proporsi yang tepat. Meski teknologi serupa banyak dikembangkan beberapa negara, akan tetapi hingga saat ini belum ada satu pun negara yang menggunakannya, khususnya untuk pengendalian pandemi Covid-19.

Ia pun mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru dalam mengeluarkan kebijakan terkait pandemi agar tidak kontraproduktif.

Komersialisasi Kesehatan

Menteri Budi mengungkapkan alasan mengapa moda transportasi kereta api menjadi yang pertama untuk diterapkan pengecekan Covid-19 menggunakan GeNose. Hal itu karena harga tiket pada rute tertentu lebih murah daripada pengecekan tes Covid-19 melalui rapid antigen atau PCR. Misalnya rute Jakarta-Bandung Rp100.000.

Bila dituntut tes antigen harga Rp100 ribu, jatuhnya akan jauh lebih mahal. Terlebih tarif bus ada yang hanya Rp40.000 hingga Rp50.000. Dengan GeNose yang harganya hanya Rp20.000 (sekali cek) dengan skala besar bisa lebih murah menjadi Rp15.000.

Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan UGM dan perusahaan konsorsium siap memproduksi hingga 5.000 GeNose pada Februari 2021. Selanjutnya akan memproduksi GeNose hingga 40.000 unit.

Konsorsium industri tersebut yaitu (1) PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri (2) PT Hikari Solusindo Sukses, (3) PT Stechoq Robotika Indonesia, (4) PT Nanosense Instrument Indonesia dan (5) PT Swayasa Prakarsa.

Prof. Dr. Paripurna, S.H., M.Hum., L.L.M., Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM mengenai biaya produksi, Paripurna membeberkan GeNose sebelum masuk ke distributor pemasaran, harganya masih berkisar Rp49 juta.

Info lain menyebutkan harga jual 1 unitnya senilai Rp62 juta. Pupuk Kaltim sudah mendukung produk anak bangsa dengan membeli 10 unit GeNose dengan total senilai Rp620 juta yang diterima secara simbolis oleh Direktur Operasi dan Produksi Pupuk Kaltim, Hanggara Patrianta.

Aroma bisnis kembali tercium. Universitas, industri, dan pemerintah sama-sama mendapat profit besar. Alat yang diklaim murah, tapi sayangnya masih dikomersialkan pemerintah.

Jika murah, seharusnya mampu dibiayai negara secara total, masyarakat berhak mendapatkan layanan gratis. Bukankah harga per unit alat ini hanya Rp62 juta? Nominal yang jauh lebih murah dari harga per unit mobil listrik pejabat yang dipesan Kemenhub.

Maka, sebenarnya ini soal cara pandang pemerintah menilai hubungan rakyat dengan penguasa. Pemerintah sebagai pelayan atau pemerintah sebagai korporasi yang berhitung untung-rugi.

Tes Covid-19, Menanti Tanggung Jawab Negara

Dalam pandangan Islam, kesehatan merupakan kebutuhan publik, pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara dan pemerintah. Landasannya adalah perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diriwayatkan Imam Muslim, beliau saw.—selaku kepala negara saat itu—pernah mengutus dokter untuk mengobati Ubay bin Kaab ra. Lalu saat Rasul saw. mendapat hadiah seorang dokter dari Muqauqis, Beliau menjadikan dokter tersebut sebagai dokter umum untuk seluruh kaum muslimin. Hal ini kemudian diikuti para Khalifah kaum muslimin.

Imam al-Hakim di dalam al-Mustadrak juga meriwayatkan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. pernah mengutus dokter untuk mengobati Aslam. Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah membangun rumah sakit bagi pengobatan para penderita leprosia dan lepra serta kebutaan.

Bani Thulan di Mesir membangun tempat dan lemari minuman yang di dalamnya disediakan obat-obatan dan berbagai minuman. Di tempat itu ditunjuk dokter untuk melayani pengobatan.

Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya, Bimaristan yang dibangun Nuruddin di Damaskus tahun 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarawan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”

Berbagai fakta historis kebijakan di bidang kesehatan yang pernah dijalankan oleh pemerintahan Islam sejak masa Rasul Saw. menunjukkan taraf yang sungguh maju. Pelayanan kesehatan gratis diberikan oleh negara (Khilafah) yang dibiayai dari kas Baitulmal. Adanya pelayanan kesehatan secara gratis, berkualitas dan diberikan kepada semua individu rakyat tanpa diskriminasi jelas merupakan prestasi yang mengagumkan.

Sekarang, Indonesia menanti tanggung jawab negara untuk tes Covid-19. Ramai bicara soal dana wakaf dan ekonomi syariat, seharusnya masalah pengadaan dan distribusi alat kesehatan juga merujuk kepada syariat Islam. Agar pemerintah tak dituduh menjadikan Islam sebagai agama prasmanan. Suka ambil, tidak suka sisihkan.

Pemerintah wajib terikat dengan nas-nas syariat dalam menjalankan pemerintahan, sebab pemerintah Indonesia mereka Muslim dan memimpin kaum Muslimin secara mayoritas. Adapun masyarakat nonmuslim juga akan ikut mendapatkan limpahan keberkahan dari penerapan syariat Islam.

Al-Imâm râ’in wa huwa mas`ûl[un] ‘an ra’iyyatihi (Imam/ khalifah/kepala negara adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas pengurusan rakyatnya).(HR al-Bukhari). [MNews]

3 thoughts on “Tes GeNose, Mengapa Rakyat Harus Bayar?

Tinggalkan Balasan