Jabal Uhud, Bukit yang Kelak Ada di Surga

Oleh Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Begitu istimewa kedudukan Jabal Uhud, hingga Rasulullah saw. pernah bersabda, “Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di surga.” Demikian hadis diriwayatkan Al-Bukhari.

Jabal Uhud adalah sebuah bukit yang terletak sekira 5 km ke arah Utara kota Madinah. Panjangnya sekitar 7 km, lebar 3 km dan tinggi sekitar 1.077 m. Disebut Jabal Uhud, karena bukit ini posisinya menyendiri dari bukit-bukit yang ada di sekelilingnya. Uhud artinya menyendiri.

Di tempat ini, bersemayam jasad lebih dari 70 syuhada. Termasuk jasad paman Nabi, Hamzah Bin Abdul Muthallib yang dikenal sebagai Singa Allah lantaran pembelaannya yang begitu besar terhadap Islam.

Dalam perang di Uhud ini, beliau wafat menemui Rabb-nya dengan jasad yang begitu mengenaskan. Hingga Nabi pun menangis sedih dan menyebutnya sebagai Sayyid asy-Syuhada (penghulu para syuhada).

Beliau saw. bersabda,

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang melawan penguasa kejam. Ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh.” (HR Ath-Thabrani dan Al Hakim dari Jabir ra.)

Sepanjang hayatnya setelah perang itu, Rasulullah saw. bahkan tak pernah mau melihat wajah pembunuh Hamzah, yakni Hindun sebagai otak pembunuhan dan budaknya Wahsyi sebagai eksekutornya, meski akhirnya mereka masuk Islam. Hingga dikisahkan keduanya menghabiskan sisa hidup mereka dengan penuh penyesalan.

Selain Hamzah, ada juga nama-nama besar yang wafat dan dikuburkan di tempat ini. Di antaranya, Mush’ab Bin Umair ra, sang duta pertama Islam di kota Madinah, dan Abdullah Bin Jahsyi, sang pimpinan pasukan intelijen pertama Nabi.

Juga ada Handzalah Bin Abi Amir yang jasadnya dimandikan oleh para malaikat.  Berikut puluhan para penghafal al-Qur’an yang tersebab kematian mereka digagaslah gerakan penulisan Al-Qur’an di bawah kawalan Nabi.

Buntut Dendam Kaum Quraisy yang Kalah di Perang Badar

Di hari ke-15 bulan Syawal tahun ketiga Hijriah, di kaki atau lembah Jabal Uhud itu, memang telah terjadi pertempuran dahsyat antara kaum Muslimin melawan kaum musyrik Quraisy. Perang ini berlangsung selama tujuh  hari dan berakhir dengan kekalahan pasukan Nabi.

Berawal dari dendam kesumat kaum Quraisy atas kekalahan telak mereka di perang Badar tahun sebelumnya. Perang itu benar-benar telah menyisakan rasa sakit dan malu yang luar biasa di hati para pemuka Quraisy. Karena selain harta, mereka pun kehilangan sejumlah keluarga  dan kehormatan mereka.

Apalagi setelah itu, terjadi pula berbagai peristiwa yang menusuk hati. Perang Sawiq dan penyergapan kafilah dagang mereka yang menuju Syam melalui jalan Irak oleh kesatuan Zaid Bin Haritsah benar-benar menambah dendam kesumat dalam dada mereka.

 

Itulah yang mendorong mereka melakukan serangan balasan dengan memobilisasi pasukan besar-besaran. Sekitar 3.000 pasukan, mereka siapkan untuk menyerang pusat negara Islam. Lalu di waktu yang ditentukan mereka bergerak dengan diam-diam menuju arah kota Madinah.

Rasulullah sendiri baru mendapatkan kabar tentang itu ketika pasukan Quraisy sudah di perbatasan Madinah. Beliau mendapat info ini dari surat rahasia yang dikirimkan Abbas, paman beliau yang kala itu masih tinggal di kota Makkah.

Maka, Rasulullah saw. pun segera melakukan persiapan untuk menyambut ancaman besar itu. Beliau mendorong kaum muslimin untuk bersiap, hingga terhimpunlah 1.000 orang pasukan yang siap berjihad di jalan Allah.

Lembah Uhud Ditetapkan Sebagai Medan Jihad

Rasulullah saw lalu bermusyawarah soal teknis, apakah akan menyambut musuh di dalam kota atau di luar kota Madinah. Secara pribadi, beliau sendiri berkehendak menyambut musuh di dalam kota. Namun suara terbanyak menginginkan untuk menyambut musuh di luar kota Madinah. Maka jadilah suara terbanyak ini sebagai dasar keputusan.

Oleh karenanya, berangkatlah pasukan Rasulullah yang berjumlah 1.000 orang jitu. Namun di tengah jalan, 300 orang berbalik ke belakang. Mereka adalah kolaborasi antara kalangan Yahudi yang karena piagam Madinah diharuskan untuk bersama kaum Muslim menjaga kota, dan kalangan munafikin pimpinan Abdullah Bin Ubay bin Salul.

Maka bertambah sedikitlah jumlah pasukan Rasulullah. Padahal kekuatan musuh lebih dari 3 kali lipat dan Rasulullah hanya punya sedikit waktu untuk melakukan persiapan. Karena posisi musuh sudah begitu dekat dengan kota Madinah, disertai dengan persiapan yang jauh lebih matang dan persenjataan yang jauh lebih lengkap.

Di tengah situasi sulit akibat pengkhianatan besar ini, baginda Rasulullah saw. pun mengonsolidasi sisa pasukan. Lalu dengan 700 orang kaum mukmin yang siap maju itu, beliau pun segera menyusun sebuah strategi perang.

Beliau saw. menempatkan pasukan panah di atas bukit Rumat (bukit pemanah) yang posisinya ada di seberang bukit Uhud. Beliau meminta mereka tetap diam di tempat sampai mendapat perintah bergerak. Sementara sisanya beliau perintahkan untuk menyambut musuh di lapang terbuka.

Dikisahkan bahwa perang di lembah Uhud ini berlangsung begitu heroik dan dahsyat. Meski jumlah pasukan tak imbang, namun kemenangan itu nyaris didapatkan oleh umat Islam. Banyak pasukan musuh yang lari tunggang langgang, lantaran kehebatan pasukan Rasulullah yang tak takut dengan kematian.

Indisipliner, Menjadi Sebab Petaka Uhud

Sayang di tengah situasi jelang kemenangan itu, sebagian anggota pasukan panah yang ditempatkan di atas bukit melanggar perintah Rasulullah. Mereka tergiur dengan harta ghanimah peninggalan musuh yang ada di lembah.

Maka momen menyedihkan itu pun terjadilah. Sikap indisipliner pasukan pemanah benar-benar telah melemahkan pertahanan pasukan Muslim yang bertempur di area lembah.

Situasi itulah yang dilihat Khalid sebagai peluang baru. Maka dia dan pasukan kavalerinya kembali ke area peperangan dan dengan mudah melumpuhkan pasukan Muslim.

Begitu dahsyatnya peperangan, hingga pasukan muslim hilang kendali. Di buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husein Haikal bahkan dikisahkan, saking kacaunya peperangan, ada pasukan muslim yang tersalah membunuh sesama muslim.

Berguguranlah satu demi satu pasukan Muslim. Bahkan Rasulullah saw. pun nyaris tewas. Gigi seri beliau tanggal dan wajahnya yang mulia berdarah karena luka tusukan rantai penutup wajah.

Namun di tengah situasi pelik itu, muncul sosok-sosok sahabat yang siap menjadi tameng beliau.  Di antaranya Sayidina Ali Bin Abi Thalib, Hamzah bin Abdul Muthallib, Sa’ad Bin Abi Waqash dan Abu Dujanah. Saat inilah Hamzah menjemput syahadah.

Bahkan selain mereka, ada pula sosok muslimah kalangan Anshar yang tampil sebagai tameng Nabi. Yakni Nusaibah Binti Ka’ab yang dikenal sebagai Ummu Umarah. Beliau dengan gagah berani turut melindungi Rasulullah dengan pedang dan panahnya, hingga ia pun terluka parah.

Pertempuran makin tak imbang tatkala beredar isu tentang tewasnya Rasulullah saw. Semangat sebagian pasukan muslim benar-benar menjadi turun. Sementara pasukan musuh bertambah semangat, hingga mampu mendesak pasukan muslim mundur hingga ke tepi bukit Uhud.

Quraisy Menganiaya Jenazah Kaum Muslim

Mendapati situasi itu, orang kafir Quraisy merasa sudah mendapat kemenangan besar. Peristiwa pahit perang Badar serasa sudah terbayar. Apalagi wanita-wanita mereka berkesempatan melepas dendam dengan merusak jenazah pasukan muslim yang tergeletak di medan perang.

Kekejaman wanita-wanita Quraisy itu terwakili sosok Hindun binti Utbah istri Abu Sufyan. Dia menjadikan telinga dan hidung jenazah kaum muslim sebagai kalung dan anting-anting, membelah dada Hamzah dan mengunyah hati beliau. Lalu setelah puas, mereka tinggalkan jenazah-jenazah itu begitu saja dan pulang menuju Makkah bersama pasukan.

Inilah yang membuat Rasulullah saw. dan para Sahabat yang tersisa begitu sedih luar biasa. Bahkan saat beliau melihat keadaan mayat pamannya Hamzah, beliau bersumpah akan membalas perlakuan mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan bangsa Arab.

Hingga terkait hak ini turunlah firman Allah QS An-Nahl ayat 126 dan 127 yang artinya,

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”

Lalu dikuburkanlah para syuhada perang di lembah itu. Beliau saw. kala itu bersabda,

‘Mereka yang dimakamkan di Uhud tak memperoleh tempat lain kecuali rohnya berada di dalam burung hijau, yang melintasi sungai surgawi. Burung itu memakan makanan dari taman surga dan tak pernah kehabisan makanan. Para syuhada itu berkata, ‘Siapa yang akan menceritakan kondisi kami kepada saudara kami bahwa kami sudah berada di surga’.”  Maka, Allah berkata, ”Aku yang akan memberi kabar kepada mereka.”

Kemudian, turunlah ayat yang berbunyi, ”Dan, janganlah mengira orang yang terbunuh di jalan Allah itu meninggal.(QS Ali Imran: 169).

Begitu Banyak Ibrah Berharga

Hari ini lembah Uhud menjadi salah satu tempat yang kerap diziarahi jamaah haji dan umrah. Tempatnya sudah tertata rapi. Sementara area makam, ditutup dengan pagar besi setinggi tujuh meter.

Bagi kaum mukminin, tentu saja apa yang terjadi di lembah Uhud ini akan memberi banyak pelajaran yang berarti. Tentang keteguhan iman, ujian loyalitas, dan kesiapan untuk berkorban tanpa hitungan.

Serta yang tak kalah penting, tentang ketaatan dan kedisiplinan dalam memegang teguh komando kepemimpinan dalam perjuangan mempertahankan izzul Islam wa muslimin.

Jelas bahwa keimanan bukan sekadar pengakuan, tapi harus dibuktikan dalam perbuatan. Bahkan keimanan itu akan terus diuji saat mereka ber-azzam terjun dalam perjuangan membela kemuliaan Islam. Terlebih saat hari ini, umat Rasulullah saw. sedang terpuruk dan terhina di bawah dominasi kekufuran.

Di manakah posisi kita? Apakah termasuk kepada kelompok yang konsisten dalam berjuang? Atau memilih lari ke belakang? Atau karena terlalai urusan dunia, lantas turut melemahkan kekuatan barisan perjuangan? Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita taufik dan hidayah-Nya. [MNews/Juan]

Dinarasikan ulang dari berbagai sumber bacaan.

Tinggalkan Balasan