Israel si Anak Emas Amerika, Mustahil Tercipta Kedamaian di Palestina

Oleh: Rindyanti Septiana, S.H.I.

MuslimahNews.com, OPINI — Tak sedikit dari negeri-negeri muslim yang menaruh harapannya pada Presiden Amerika Serikat yang baru saja dilantik atas hubungan Israel-Palestina. Salah satunya Indonesia, yang memiliki sejumlah harapan untuk pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Biden, termasuk soal Palestina.

Menlu RI Retno Marsudi menyatakan Indonesia mengharapkan kontribusi positif Amerika terhadap penyelesaian isu Palestina-Israel yang berkeadilan sesuai dengan berbagai resolusi PBB maupun parameter internasional yang disepakati. (republika.co.id, 21/1/2021)

Selain Menlu RI, Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit juga berharap pemerintahan Joe Biden akan mengubah kebijakan Timur Tengahnya. Ia mengharapkan AS terlibat dalam proses politik yang bermanfaat untuk memberikan harapan baru bagi rakyat Palestina. Membantu pencapaian untuk kebebasan dan kemerdekaan Palestina. (republika.co.id, 25/1/2021)

Tak Perlu Berharap Banyak

Seharusnya, umat Islam di seluruh dunia tak perlu banyak berharap pada pemerintahan baru AS di bawah Biden. Sebab, Amerika adalah sebuah negara yang memiliki sistem kuat dan dilandasi ideologi yang kuat pula. Oleh karena itu, bila berbicara masalah kebijakan AS, secara mendasar tidak akan banyak perubahan.

Artinya, kebijakan yang diambil AS tetap dalam rangka menjaga eksistensi penjajah Yahudi. Bisa kita pastikan apa yang selama ini digagas AS terhadap solusi perdamaian di Timur Tengah dengan dua negara tetap diadopsi Joe Biden. Bagi Amerika eksistensi penjajah Yahudi itu harga mati.

Dapat terlihat jelas dalam perayaan kemerdekaan Israel ke-67 pada April 2015, Joe Biden menyatakan semua orang tahu kalau ia cinta Israel. Ia juga menegaskan bila tidak ada Israel, merekalah yang menciptakannya.

Ia juga mengatakan akan selalu berbicara tentang Israel dengan perspektif melakukan kebaikan karena kewajiban moral yang penting bagi AS, selain itu merupakan kebutuhan strategis bagi AS.

Khiththah Politik Luar Negeri AS di Bawah Kepemimpinan Biden

Daniel Estrin, koresponden NPR di Yerusalem menyatakan, warga Palestina sangat ingin membuka lembaran baru karena Trump telah berulang kali menghina kepemimpinan Palestina. Biden pun berjanji mengembalikan bantuan kemanusiaan untuk Palestina.

Selain itu, Biden juga menentang aktivitas pemukiman Israel di Tepi Barat yang mereka duduki. Akan tetapi, janji tinggal janji, sebagian warga Palestina kecewa karena tim Biden mengatakan mereka tidak akan memindahkan kedutaan keluar dari Yerusalem. (tirto.id, 21/1/2021)

Biden akan tetap setia menjalankan politik luar negeri AS berbasis ideologi kapitalisme sekuler yang mengidap islamofobia. Menurut tradisi politik di Amerika, setelah memenangkan pemilu, presiden terpilih akan melupakan sebagian janjinya dengan berbagai dalih. Oleh karena itu, janji-janji Biden tidak akan jauh berbeda dengan pendahulunya, tak akan terealisasi.

Biden akan tetap menjaga dominasi atas berbagai wilayah di dunia ini untuk kepentingan politik dan ekonomi AS. Israel akan tetap menjadi prioritas AS, menjadi anak emas yang dilindungi dan dipenuhi segala kebutuhannya.

Menurut Pengamat Politik Internasional Farid Wadjdi terdapat tiga agenda utama kepentingan AS di Timur Tengah.

Pertama, menjaga sumber-sumber energi agar tetap dikendalikan Amerika terutama minyak dan gas. Kedua, mencegah munculnya kekuatan politik Islam di Timur Tengah. Apalagi kekuatan politik yang bisa menyatukan Timur Tengah secara politik yang akan mengancam kepentingan AS. Ketiga, jaminan terhadap eksistensi negara penjajah Yahudi. Semua agenda AS tersebut sampai kapan pun tidak berubah. (mediaumat.news, 18/11/2020)

Israel Anak Emas, Keamanan Nasionalnya Dijaga AS

Amerika telah menggunakan 39 kali veto untuk melindungi Israel dari resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk atau mengecam tindakan atau sikapnya yang tak mengindahkan hak asasi orang Palestina. Begitu pun juga pemindahan kedutaan merupakan pengakuan simbolis Amerika bahwa Yerusalem ibu kota Israel.

Sedangkan “pembenaran” atas pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, tak ayal lagi merupakan keberpihakan AS pada Israel. (dunia.tempo.co, 4/12/2019)

Menurut Peace Now, kelompok antipemukiman Israel , dewasa ini terdapat 385 pemukiman Yahudi yang didirikan dengan izin pemerintah Israel dan 97 bangunan atau pemukiman “liar”.

Di Yerusalem Timur saja, terdapat 12 pemukiman baru dengan sekitar 200 ribu orang pemukim yang hidup dengan senjata api dan pengawalan tentara Israel. AS juga memberikan bantuan senilai $1-4 miliar per tahun pada Israel untuk membeli persenjataan produk-produk AS.

Bantuan itu merupakan cerminan situasi strategis AS di Timur Tengah mencegah perkembangan bagi musuh-musuh AS seperti Taliban, Al-Qaedah, Islamic State, Hizbullah yang bercita-cita menghancurkan AS.

Seperti yang disampaikan Chuk Wald, tentara angkatan udara AS, “Yang ingin merusak dan menghancurkan bantuan AS ke Israel, mereka mengesampingkan menggunakan logika jahat. Kita harus memberikan Israel bantuan uang tanpa syarat. Itu menyelamatkan darah kita yang berharga, yaitu Amerika Serikat.”

Mustahil Secara Empiris dan Haram secara Normatif Berharap pada AS

Menangnya Biden tidak perlu disambut gembira hingga menaruh harapan besar untuk penyelesaian pendudukan Israel di Palestina. Sebab kemenangan itu tak memberi perdamaian dan tak mengubah apa pun.

AS tetaplah agressor state, pemerintah AS yang didukung medianya telah mengambil setiap kesempatan untuk melawan konsep ajaran Islam “Khilafah” dan merusaknya dalam pikiran umat Islam dan nonmuslim.

Apalagi pemerintahan AS juga di bawah kendali American Israel Public Affairs Comitte (AIPAC) yaitu organisasi super-powerful terkuat di AS.

AIPAC terhubung dengan pemerintahan Israel untuk selalu membela dan melindungi Israel. Seperti melobi AS agar memberikan bantuan uang kepada Israel sebesar $1-4 miliar per tahun; melobi AS agar mau menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel; memberi cap label teroris bagi Hamas, Hizbullah dan Iran; serta mencegah program senjata bom nuklir Iran. Maka, mustahil secara empiris menggantungkan harapan pada AS.

Secara normatif, haram bagi kaum muslim menyerahkan urusannya pada kaum kafir yang jelas-jelas memusuhi Islam dan umatnya.

Bagi negara kafir yang sedang memerangi kaum muslimin, sikap penguasa-penguasa negeri muslim seharusnya tidak mengadakan perjanjian apa pun dengannya, misalnya perjanjian politik, ekonomi, dan sebagainya. Apalagi sampai menaruh harapan juga kepercayaan untuk membantu penyelesaian negeri Islam seperti Palestina.

Bagai pungguk merindukan bulan, mengkhayalkan sesuatu yang tak mungkin terjadi. Padahal, penyelesaian pendudukan Israel di Palestina hanya dapat dilakukan jika kekuatan umat Islam menyatu dalam kepemimpinan sistem Islam yaitu Khilafah. Israel tidak pernah mengenal kata damai, maka perang terhadap Israel hanya bisa dilakukan Khilafah.

Khilafah Satu-Satunya Harapan bagi Palestina

Sikap yang ditujukan kepada Israel—karena telah merampas tanah Palestina—ialah perangi dan usir. Firman Allah SWT, “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum Mukmin.” (QS At-Taubah [9] :14)

Allah SWT juga berfirman, “Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (QS Al-Baqarah [2] :191). Berdasarkan ayat di atas, maka Israel harus diperangi dan diusir dari Palestina.

Namun, apakah hal itu bisa dilakukan para rezim di Dunia Islam? Tentu saja bisa jika mereka mau. Akan tetapi, rasa-rasanya sangat kecil kemungkinannya bahkan mustahil itu terjadi. Pasalnya, tidak satu pun rezim di negeri-negeri Islam saat ini yang menjadikan akidah dan syariah Islam sebagai asa dan standar dalam bernegara. Padahal jihad sebagai salah satu syariah Islam, merupakan satu-satunya untuk mengusir siapa pun yang telah merampas tanah milik kaum muslim, termasuk Israel.

Oleh karena itu, penyelesaian tuntas masalah Palestina tidak lain dengan mewujudkan kekuasaan Islam yang berlandaskan akidah dan syariah Islam. Itulah Khilafah Islam yang mengikuti manhaj kenabian. Khilafahlah satu-satunya harapan bagi Palestina dan satu-satunya pelindung umat yang hakiki. Melancarkan jihad terhadap siapa saja yang memusuhi Islam dan kaum muslim.

One thought on “Israel si Anak Emas Amerika, Mustahil Tercipta Kedamaian di Palestina

Tinggalkan Balasan