Pengiriman Utusan dan Manuver Militer Keluar Negara Madinah

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Setelah menandatangani perjanjian Hudaibiyah dan menyelesaikan masalah Khaibar, kekuasaan Rasulullah Saw. berhasil meliputi seluruh Hijaz. Hal itu karena kaum Quraisy tidak lagi memiliki kekuatan yang dapat menghalangi penyebarluasan Islam.

Allah SWT berfirman, “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at Taubah: 33)

Pengiriman Utusan ke Negara Tetangga

Rasulullah Saw. melakukan pengiriman utusan setelah kondisi politik dalam negeri aman dan stabil. Beliau Saw. mulai mengirim utusan kepada para raja. Utusan tersebut membawa surat untuk disampaikan kepada mereka.

Isi surat Rasulullah Saw. adalah menyeru mereka agar beriman kepada Islam, agama yang diturunkan dari langit. Serta menyeru mereka agar mengakui dan mendukung Negara Madinah yang menerapkan Islam.

Rasulullah Saw. mengutus Dihyah bin Khalifah al Kalbi kepada Kaisar Romawi. Juga mengutus Abdullah bin Hudzafah as Sahmi kepada Kisra raja Persia. Amr bin Umayyah adh Dhamri diutus kepada an Najasyi Raja Habasyi.

Nabi Saw. Mengutus Hathib bin Abu Bathlaah kepada al Muqauqis Raja Iskandariyah, mengutus Amr bin al Ash as Sahmi kepada Jaifar dan Abdin, keduanya adalah anak al Julunda al Azdi Raja Amman.

Rasulullah Saw. mengutus Salith bin Amr salah seorang dari Bani Amir bin Luai kepada Tsumamah bin Utsal dan Haudzah, keduanya Raja Yamamah dari Bani Hanifah, mengutus al ‘Ala bin al Hadhrami kepada Mundzir bin Sawa al Abdi Raja Bahrain dan mengutus Syuja’ bin Wahb al Azdi kepada Harits bin Abu Syamr al Ghassani Raja di daerah perbatasan Syam.

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Memperkuat Pengaruh Negara Islam Madinah

Respons para Raja

Para utusan itu berangkat bersama-sama ke tempat tujuannya masing-masing sebagaimana yang telah Rasulullah Saw. tetapkan kepada mereka. Sebagian besar raja yang mendapat kiriman surat Rasulullah itu membalasnya dengan santun dan sebagian membalasnya dengan buruk.

Raja Yaman dan Raja Amman membalas surat Nabi Saw. dengan buruk. Raja Bahrain membalasnya dengan baik dan dia bersedia memeluk Islam. Raja Yamamah membalasnya dengan menampakkan kesiapannya menerima Islam jika diberi kedudukan sebagai penguasa. Nabi Saw. melaknatnya karena ketamakannya itu.

Kisra, Kaisar Persia tak lama setelah menerima surat Rasulullah Saw. marah dan merobek-robek surat tersebut. Setelah itu Kisra segera mengirim surat kepada Badzan, amilnya di wilayah Yaman, agar dia membawa kepala utusan Rasulullah yang sekarang ada di Hijaz kepadanya.

Ketika kabar tentang ucapan Kisra dan perlakukan kasarnya terhadap surat itu sampai kepada Nabi Saw., Beliau Saw mengutuk, “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya.” Sementara Badzan, amilnya di Yaman menyatakan keislamannya.

Raja Muqauqis penguasa Qibthi membalas surat Nabi Saw. dengan balasan yang indah dan mengirimkan hadiah kepada Nabi Saw. Raja Najasyi membalas dengan balasan yang indah pula dan menyatakan bahwa dia telah memeluk Islam.

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Interaksi Militer Negara Islam Madinah

Adapun kaisar Hiraklius tidak memedulikan ajakan ini. Dia tidak berpikir untuk mengirim pasukan guna menyerang Muhammad, juga tidak mengatakan apa-apa.

Manuver Militer Keluar Madinah

Pada bulan Syakban tahun ketujuh Hijriah, Rasulullah Saw. mengirim Umar bin Khaththab bersama sekelompok para mujahid ke Turbah. Setelah sampai di Turbah, orang-orang di sana pun melarikan diri. Umar kembali tanpa melakukan peperangan.

Di bulan yang sama, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan untuk dikirim ke Bani Kalb di Najd. Abu Bakar berangkat memimpin pasukan ini hingga tiba di Bani Kalb dan memerangi mereka secara tiba-tiba. Banyak dari mereka yang terbunuh dan sebagian yang lain ditawan, lalu Abu Bakar kembali ke Madinah.

Pada bulan Syakban juga Beliau Saw. menyiapkan pasukan yang dipimpin oleh Bisyir bin Sa’ad. Beliau memerintahkan Bisyir agar membawa pasukannya pergi ke Bani Murrah di Fadak. Kemudian terjadilah peperangan dengan mereka.

Bisyir bin Sa’ad berhasil mengalahkan mereka dan mengambil binatang-binatang ternak mereka, namun Bisyir terluka dalam peperangan itu. Bisyir meminta perlindungan kepada orang-orang Yahudi di Fadak agar ia dapat beristirahat. Bisyir tinggal bersama mereka beberapa hari, lalu ia kembali ke Madinah al Munawwarah.

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Persiapan Kekuatan Militer Negara Islam Madinah

Kemudian pada bulan Ramadan, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan yang dipimpin Ghalib bin Abdullah al Laitsi untuk dikirim ke penduduk Maifa’ah di Najd. Ghalib bin Abdullah al Laitsi menyerang mereka, membunuh sebagian dari mereka dan membawa binatang-binatang ternak mereka ke Madinah.

Pada bulan Syawal, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan yang dipimpin Bisyir bin Sa’ad al Anshari dengan kekuatan tiga ratus orang. Beliau memerintahkannya agar pergi ke Yaman dan Jubar bagian dari wilayah Ghathfan. Tindakan ini dilakukan karena diketahui bahwa banyak orang berkumpul untuk melawan Negara Madinah.

Bisyir pergi mendatangi mereka . Melihat kedatangan Bisyir dan pasukannya, mereka melarikan diri. Bisyir membawa binatang-binatang ternak mereka lalu kembali ke Madinah al Munawwarah.

Pengiriman utusan dengan membawa surat ke para raja negara tetangga dan manuver militer ini membawa pengaruh nyata semakin bertambahnya orang-orang yang menyatakan keislamannya. Pengaruh Negara Madinah dengan kekuatan dan keberaniannya juga semakin menguat di mata bangsa-bangsa Arab dan di luar Arab.

Dan tidaklah Kami mengutus engkau, melainkan untuk sebagai rahmat bagi semesta alam.(QS al Anbiya: 107). [MNews/Rgl]


Disarikan dari:

Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyur Rahman AlMubarakfury, Pustaka AlKautsar

Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al AzharPress

Tinggalkan Balasan