Bagaimana Islam Mengatur Interaksi dalam Keluarga?

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, KELUARGA — Beberapa hari terakhir ini, muncul berita yang cukup viral, seorang ayah mencabuli anak kandungnya. Yang bikin makin viral adalah karena sang ayah merupakan mantan anggota DPRD Nusa Tenggara Barat.

Korban mengadukan ayahnya ini ke polisi, tapi sang ayah menyangkal dirinya telah berbuat asusila terhadap anak kandungnya yang masih duduk di bangku SMA. Ia mengaku hanya melepas rindu dengan korban yang merupakan anak dari istri keduanya itu. (Antaranews.com, 22.01.2021 dan Merdeka.com, 23.01.2021).

Empat bulan lalu, Liputan6.com melansir, pelajar SMA di Palembang, harus hidup di tengah ketakutan dan pelecehan seksual bertubi-tubi, selama 10 tahun menjadi korban asusila ayahnya.

Kejadian Berulang

Sesungguhnya, kasus seperti ini terus berulang. Pada Juli 2019 lalu, kita dikejutkan peristiwa pernikahan kakak adik asal Bulukumba yang menikah di Kalimantan Timur. Kasus yang sama terjadi di Lampung, terjadi lagi pernikahan sedarah sampai sang adik mengandung delapan bulan!

Belum lagi peristiwa-peristiwa miris lainnya terkait masalah sosial yang hampir setiap hari terjadi, seperti maraknya perzinaan yang diekspos melalui video, pelecehan seksual, dan sebagainya.

Ada apa dengan bangsa ini? Bagaimana nasib generasi bangsa ini ke depan, jika semakin hari kemaksiatan semakin merajalela?

Mencari Akar Masalah

Diterapkannya sistem sekular kapitalis—yang menjadikan manfaat sebagai asas dan menjadikan kebebasan berperilaku di atas segalanya—merupakan biang keladi munculnya berbagai macam pemikiran dan tingkah laku menyimpang.

Mereka bebas berbuat sekehendak hati mereka selama tidak mengganggu orang lain. Nilai kebebasan yang dianut sistem ini menjadi racun mematikan bagi akal dan naluri manusia.

Hingga seorang ayah kandung tega menggauli darah dagingnya sendiri, kakak melakukan hubungan suami istri dengan adik kandungnya, orang dewasa tega berbuat tidak senonoh kepada anak kecil.

Bersamaan dengan itu, lemahnya pemahaman umat terhadap ajaran Islam kafah menjadi faktor utama. Islam telanjur dipahami sebatas ritual saja, hingga tak mampu berpengaruh dalam perilaku keseharian, baik dalam konteks individu, keluarga, maupun dalam interaksi masyarakat dan kenegaraan.

Dengan minimnya pemahaman Islam, tak sedikit individu muslim yang mengalami disorientasi hidup, mudah menyerah pada keadaan, bahkan terjerumus dalam kemaksiatan.

Ketika Islam tidak dijadikan standar perilaku, hawa nafsu menjadi penentu. Akibatnya, orang berlomba memenuhi kebutuhan naluri dan jasmani sesuka hatinya, menghilangkan ketakwaan individu.

Islam Mengatur interaksi dalam Keluarga

Berbeda dengan sistem sekuler kapitalis, Islam sebagai diin yang sempurna, memiliki aturan yang sangat terperinci dan sempurna, mencakup seluruh aspek kehidupan.

Sebagai sistem aturan yang lahir dari Yang Maha Mengetahui makhluk ciptaan-Nya, sehingga seluruh persoalan apa pun dapat diselesaikan dengan memuaskan tanpa ada yang dirugikan karena aturan-aturan tersebut sesuai dengan fitrah, memuaskan akal manusia yang pada akhirnya akan menenteramkan jiwa.

Dengan menerapkan aturan-aturan Allah, manusia akan mendapatkan kebahagiaan, terhindar dari malapetaka.

Dalam Islam, yang halal jelas dan haram pun jelas, tidak lekang waktu dan tidak tergantung pada pendapat penduduk bumi. Islam telah memberikan aturan terperinci terkait sistem sosial di masyarakat, termasuk tentang interaksi dalam keluarga.

Bahkan, sistem Islam akan menjatuhkan sanksi berat bagi ayah yang mencabuli apalagi menggauli anaknya. Dengan diterapkan aturan ini akan terjadi kehidupan keluarga yang tenteram.

Beberapa aturan tersebut antara lain:

1) Batasan Aurat

Islam telah menetapkan aurat laki-laki berbeda dengan perempuan. Begitu pula aurat perempuan di hadapan mahram dengan bukan mahram, dibedakan.

Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, berdasarkan hadis Rasulullah saw., “Aurat laki-laki ialah antara pusar sampai dua lutut.” (HR ad-Daruquthni dan al-Baihaqi). Hadis senada juga terdapat dalam HR Abu Dawud, HR Ahmad, dan Bukhari. (Ahkamush SholatAli Raghib).

Sedangkan aurat perempuan di hadapan mahram dan bukan mahram, dijelaskan QS An Nuur ayat 31.

Di hadapan mahram, aurat perempuan adalah apa yang bukan merupakan “mahaluz-zinah atau tempat-tempat perhiasan perempuan, yaitu apa yang selain rambut, wajah, leher, tangan sampai lengan atas, dan ujung kaki sampai betis. Karenanya, selain ini semua harus ditutup dan tidak boleh ditampakkan.

Sehingga, seorang adik tidak boleh menyusui anaknya di hadapan saudara kandungnya secara terbuka. Sedangkan di hadapan nonmahram, aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua telapak tangan. Termasuk dalam hal ini, seorang ibu tidak boleh membiasakan mandi bersama anaknya.

Sejak kecil, anak dibiasakan menutup aurat dan menjaga auratnya agar tidak dilihat dan disentuh orang lain, sekalipun sesama jenis, kecuali yang terbiasa melayaninya seperti ibunya pada kondisi tertentu.

Suatu hal yang penting untuk menanamkan rasa malu pada anak bila auratnya terlihat atau bertingkah laku yang tidak seharusnya.

2) Keharusan Meminta Izin Ketika Memasuki Kamar Orang Lain

Islam telah memberikan perhatian yang sangat besar pada masalah “Adab Meminta Izin Masuk Rumah”.

Allah telah mengaturnya secara khusus sebagaimana firman-Nya dalam QS An-Nuur: 27-29, yang artinya,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta izin dan memberikan salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembali (saja)lah”; maka hendaknya kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini tidak hanya berlaku ketika kita memasuki rumah orang lain, tapi juga berlaku ketika memasuki kehidupan khusus orang lain, maka dituntut adanya izin penghuninya.

Hal ini pun dikuatkan hadis Rasulullah saw.:

‘Atha’, putra Yasar bercerita, seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Rasulullah, apakah aku (perlu) meminta izin kepada ibuku saat memasuki ruangannya. Beliau menjawab, “Mintalah izin kepadanya!” Lelaki itu menimpali lagi, ”Aku yang mengurus dia, apakah aku tetap harus selalu meminta izin sebelum masuk? Beliau menjawab, “Mintalah izin padanya! Apakah kamu suka melihatnya dalam keadaan telanjang?” Lelaki itu menjawab, “Tidak!” Beliau berkata, “(Jika begitu) mintalah izin kepadanya!”

Bahkan, Allah telah memerintahkan kepada orang tua untuk mendidik anak agar meminta izin ketika memasuki kamar orang tuanya di tiga waktu khusus.

Firman Allah SWT dalam QS An-Nuur ayat 58,

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali, yaitu: sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah salat Isya. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana” .

Ayat ini menjelaskan tentang tiga waktu dilarangnya anak-anak masuk ke kamar orang tuanya, kecuali ada izin keduanya.

Islam sangat menjaga kehormatan kamar dan penghuninya, sehingga anak-anak yang belum balig terjaga pandangannya dari hal-hal yang tidak boleh dilihatnya.

Ibnu Asyur rahimahullah berkata dalam tafsirnya At-Tahrir wat Tanwir,

“Ini merupakan waktu-waktu anggota keluarga menanggalkan pakaian mereka (yaitu berpakaian seadanya), maka buruk sekali jika anak-anak melihat aurat mereka. Pemandangan tersebut akan terus terekam di benak sang anak. Sebab, hal itu bukan perkara biasa yang ia lihat.”

3) Adab Pergaulan Suami Istri

Islam pun mengatur terkait hubungan suami istri, baik pergaulan secara umum pergaulan intim di antara keduanya, termasuk bermesraan antara suami istri.

Benar, untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, dianjurkan suami istri bergaul dengan makruf, bercanda, dan menampakkan kecenderungan di antara keduanya.

Hanya saja, tidak berarti boleh diumbar di depan umum sehingga membangkitkan syahwat orang lain. Harus dilakukan di tempat tertutup, terjaga dari pandangan siapa pun, beserta dengan adab-adab lainnya yang harus ditaati.

Sesungguhnya QS An-Nuur ayat 58 tadi mengisyaratkan tempat khusus bagi suami istri untuk bermesraan adalah dalam kamar-kamar mereka atau tempat yang tidak dilihat atau didengar orang lain.

Hal ini ditegaskan dalam tiga waktu tadi, anak-anak mereka dilarang untuk memasuki kamar-kamar mereka. Semua ini menunjukkan bila anak-anak dan orang yang satu rumah saja dengan mereka dilarang untuk melihat kemesraan ini, maka apalagi orang lain.

Selain itu ada larangan merekam hubungan intim. Ini salah satu perbuatan buruk yang dilaknat Allah.

“Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di hari kiamat nanti adalah suami yang memberitahukan kepada istrinya dan istrinya memberitahukan kepada suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya itu.” (HR Muslim dan Abu Daud)

4) Memisahkan Tempat Tidur Anak

Islam dengan tegas mengatur pergaulan anggota keluarga, sekalipun di tempat khusus. Dalam hal ini, Islam memerintahkan kepada orang tua untuk memisahkan tempat tidur anaknya, mulai dibiasakan sejak usia 7 tahun hingga jika usia 10 tahun, sebagaimana hadis Rasulullah saw.,

Perintahkanlah anak-anak kalian salat ketika usia mereka tujuh tahun; pukullah mereka karena (meninggalkan)-nya saat berusia sepuluh tahun; dan pisahkan mereka di tempat tidur.” (HR Abu Dawud).

Tidurnya dua anak pada usia tertentu dalam satu tempat tidur (madhja’), merupakan aktivitas yang bisa menjadi pengantar zina dan sodomi. Dalil ini menunjukkan dengan tegas keharaman bersifat umum, bisa sesama laki-laki maupun sesama perempuan, atau lelaki-perempuan. Sebab, nasnya berbentuk umum.

Perintah “memisahkan tempat tidur” hukumnya wajib. Karena itu, orang tua wajib memisahkan tempat tidur mereka, yakni dengan menjadikan mereka tidur terpisah, masing-masing satu tempat tidur dan selimut secara terpisah.

Demikianlah, Allah al Khaliq al Mudabbir telah menurunkan aturan-Nya untuk umat manusia agar bisa hidup dengan tenang dan sejahtera, karena aturan Islam sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal manusia. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk kaitannya dengan interaksi dalam keluarga.

Dengan pelaksanaan aturan-aturan ini, setiap keluarga dan masyarakat Islam akan terhindar dari berbagai keburukan dan kenestapaan, dan akan mendapatkan keberkahan.

Karena itu, solusi satu-satunya tak lain adalah mengembalikan aturan kepada Sang Maha Pencipta, dengan menerapkan aturan Islam secara menyeluruh. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Juan-Gz]

2 thoughts on “Bagaimana Islam Mengatur Interaksi dalam Keluarga?

Tinggalkan Balasan