[News] Tudingan Intoleransi di Sekolah, Momentum Upaya Liberalisasi Agama

MuslimahNews.com, NASIONAL — Aturan penggunaan kerudung di SMKN 2 Padang menuai pro-kontra. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, pihaknya sangat prihatin dan menyayangkan adanya intoleransi di beberapa sekolah negeri. Bahkan menurutnya jelas melanggar HAM. (kompas.com, 24/1/2021).

Namun di sisi lain, salah seorang siswi nonmuslim di SMKN 2 Padang, EAZ (17) merasa tidak keberatan menggunakan kerudung ke sekolah. Pihak sekolah pun tidak ada memaksa dirinya harus menggunakan kerudung ke sekolah.

Menurut EAZ, memakai pakaian rok panjang, baju kurung, dan memakai kerudung [biasa disebut jilbab, ed.] sama sekali tidak memengaruhi imannya sebagai seorang pemeluk Protestan. (kompas.com, 25/1/2021).

Intoleransi: Keinginan Bebas dari Syariat Islam

Mencermati hal ini pemerhati pendidikan dan masalah generasi, Ustazah Yusriana, menilai viralnya pemberitaan protes orang tua murid di SMKN 2 Padang yang merasa anaknya dipaksa untuk memakai kerudung telah menegaskan adanya pihak tertentu yang sengaja menggiring opini ini pada satu hal, yaitu intoleransi.

Padahal pada realitasnya, di SMKN 2 Padang sendiri banyak siswi nonmuslim yang tidak pernah mempermasalahkan aturan berseragam di sekolah tersebut.

“Mereka merasa tidak pernah ada intimidasi. Bahkan ada yang mengaku tidak keberatan dengan aturan memakai jilbab di sekolah seperti diberitakan,” tuturnya.

Ia melihat peristiwa ini seolah menjadi momen tepat bagi para pembela HAM yang selalu lantang meneriakkan kebebasan. Bentuknya adalah kebebasan dari aturan syariat Islam.

“Sikap mereka berbeda ketika ada siswi muslimah di daerah minoritas muslim yang dipaksa melepaskan jilbab, atau karyawati muslimah yang dipaksa mengenakan baju Santa Claus di hari Natal,” kritiknya.

Konsekuensi Tidak Bersandar pada Islam

Meski begitu, lanjutnya, terlepas dari kontroversi yang ada, semangat menyelamatkan generasi yang diterapkan SMKN 2 Padang perlu diapresiasi. Di tengah badai arus liberalisasi remaja, baik dalam cara berpakaian dan cara hidup, remaja membutuhkan suasana yang kondusif agar bisa terhindar dari kerusakan moral dan kehancuran generasi.

“Ketentuan menutup aurat di kehidupan umum, termasuk di sekolah, menjadi  sarana efektif untuk mengarahkan remaja muslimah agar terikat dengan hukum syara di mana pun ia berada, juga untuk mewujudkan generasi yang baik bagi  masyarakat secara umum,” tegasnya.

Namun ia menyayangkan, upaya penyelamatan generasi ini  terbentur dengan cara pandang liberal yang mengatasnamakan toleransi dan HAM.

“Inilah konsekuensi hidup dalam masyarakat yang tidak bersandar pada Ideologi Islam,” tandasnya. [MNews/Ruh]

2 thoughts on “[News] Tudingan Intoleransi di Sekolah, Momentum Upaya Liberalisasi Agama

  • 28 Januari 2021 pada 09:00
    Permalink

    Bgmnm dg Aceh sudah lama disana syariat diterapkan utk mnutup aurat, tak boleh pacaran/kholwat dll. Disana aturan tsb tetap bjalan bahkan wajib. Seharusny spt itu. Tak ada kata intoleransi. Jangan tebang pilih ketika satu masyarakat disuatu daerah ingin menerapkan aturan berjilbab atau berhijab krn itu adlh aturan syariat islam yg hrus dijalankan oleh kaum muslimah seluruh dunia.

  • 27 Januari 2021 pada 08:30
    Permalink

    Musuh islam tak kan pernah diam sampai kapan pun, selama masih memakai sistim kufur kapitalis yang menyesatkan.
    Hanya sistim islam yang bisa melindungi rakyat dari musuh2 islam yang menyesatkan

Tinggalkan Balasan