Musibah Mendera, Cukupkah Muhasabah Nasional Jadi Solusi?

Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews.com, FOKUS TSAQAFAH — Memasuki tahun 2021, Indonesia didera bencana bertubi-tubi. Wabah Covid-19 yang jumlah kasus positif selalu di atas 10 ribu orang tiap harinya; disusul jatuhnya pesawat dengan korban 62 orang, gempa Sulbar yang memakan korban tewas lebih dari 90 orang, banjir besar di Kalimantan Selatan dengan 21 korban tewas, longsor di Sumedang 40 korban tewas, banjir dan longsor di Manado 6 tewas, banjir bandang di Puncak, Bogor; banjir di Aceh, Jember, Malang, dan berbagai daerah lain.

Belum lagi gunung berapi yang meletus berturut-turut dari Merapi, Semeru, dan Sinabung. Bahkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 185 bencana yang terjadi sejak 1 hingga 21/1/2021.[i]

Menanggapi banyaknya bencana ini, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan menyerukan segenap anak bangsa melakukan muhasabah nasional. Amirsyah mengatakan, seruan muhasabah ini tidak hanya berlaku untuk umat Islam, tetapi juga umat beragama lainnya.

Hal ini penting sebagai ikhtiar, doa, dan tawakal agar bangsa Indonesia dijauhkan dari mara bahaya. “Muhasabah harus dilakukan secara jernih diiringi dengan permintaan ampunan kepada Allah SWT,” kata dia.[ii]

Bencana sebagai Ujian Orang Beriman

Setiap orang yang beriman pasti akan menghadapi ujian dari Allah. Bencana, merupakan salah satu bentuk ujian yang Allah berikan. Maka, ketika suatu daerah dengan penduduk muslim yang bertakwa Allah timpakan bencana, ini adalah ujian bagi mereka, agar mereka membuktikan keimanannya dan bersabar, bertawakal kepada Allah.

Allah SWT berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ [٢٩:٢]

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut [29: 2)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ [٢:١٥٥] الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ [٢:١٥٦]

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar… (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’ (QS Al Baqarah 155-156)

Dengan pemahaman ini, musibah tidak selalu dipandang buruk, sebagaimana ujian sekolah yang harus susah payah dilalui, namun susah payah itu tak berarti lagi saat kita sudah melewatinya dan dinyatakan lulus.

Begitu pula jika kita sudah melewati musibah dengan kesabaran, Allah akan berikan balasan terbaik.

Bencana sebagai Teguran dan Peringatan Atas Dosa-Dosa Manusia

Bencana, juga merupakan teguran dan peringatan Allah bagi kaum muslimin khususnya dan umat manusia umumnya. Firman Allah SWT:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).(QS Asy Syuraa: 30)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

“Dan firman-Nya (yang artinya) dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian maksudnya, wahai manusia!

Musibah apa pun yang menimpa kalian, semata-mata karena keburukan (dosa) yang kalian lakukan. ‘Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)’ maksudnya adalah memaafkan dosa-dosa kalian, maka Dia tidak membalasnya dengan siksaan, bahkan memaafkannya.

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun (Faathir: 45).” (Tafsir Ibnu Katsiir: 4/404).

Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan,

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan tobat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Bencana yang bertubi-tubi datang, boleh jadi adalah teguran dan peringatan Allah atas banyaknya dosa umat. Dosa apa yang tidak dilakukan umat manusia saat ini, termasuk di Indonesia? Mengurangi timbangan dan takaran sebagaimana kaum Madyan? Homo sebagaimana kaum Nabi Luth? Zina, mabuk, membunuh, mencuri, korupsi, dan kejahatan lain?

Semua komplit dilakukan di negeri ini. Membuat persaksian palsu pun sudah jamak dilakukan. Menolak hukum Allah, menganggapnya usang dan layak dimasukkan museum, bahkan menantang azab Allah.

Berbagai dosa dan bencana yang ditimbulkan juga dijelaskan hadis Nabi saw. berikut:

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمِ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara; jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatinya.

Perbuatan keji (seperti: bakhil, zina, minum khamr, judi, merampok, dan lainnya) tidaklah dilakukan pada suatu masyarakat dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah penyakit Tha’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang dahulu yang telah lewat.

Orang-orang tidak mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezaliman penguasa.

Orang-orang tidak menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan.

Orang-orang tidak membatalkan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka.

Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak berhukum dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan (untuk diterapkan), kecuali Allah menjadikan kerusakan di antara mereka.” (HR Ibnu Majah no. 4019, al Bazzar, al Baihaqi; dari Ibnu ‘Umar)

Yang ironis, di saat dosa makin menyebar, justru upaya amar makruf nahi mungkar dibungkam. Ormas-ormas yang selama ini menjalankan amar makruf nahi mungkar dibubarkan dan dilarang beraktivitas.

Aktivis-aktivisnya dikriminalisasi dan dipenjarakan dengan alasan yang dicari-cari. Padahal, berhentinya amar makruf nahi mungkar adalah salah satu pengundang bencana.

Allah SWT berfirman,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al Anfal: 25)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menyatakan Allah SWT memperingatkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar waspada terhadap fitnah.

Yang dimaksud dengan fitnah ialah cobaan dan bencana. Apabila ia datang menimpa, pengaruhnya meluas dan menimpa semua orang secara umum, tidak hanya orang-orang durhaka dan orang yang melakukan dosa saja, melainkan bencana dan siksaan itu mencakup semuanya.

Kemudian Ibnu Katsir menyitir hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad,

عَنْ حُذَيفة بْنِ الْيَمَانِ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقابا مِنْ عِنْدِهِ، ثُمَّ لتَدعُنّه فَلَا يَسْتَجِيبُ لَكُمْ”

Dari Huzaifah ibnul Yaman, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda,

“Demi Tuhan Yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan­-Nya, kalian benar-benar harus memerintahkan kepada kebajikan dan melarang perbuatan mungkar, atau Allah benar-benar dalam waktu yang dekat akan mengirimkan kepada kalian suatu siksaan dari sisi-Nya, kemudian kalian benar-benar berdoa kepada-Nya, tetapi Dia tidak memperkenankannya bagi kalian.”

Bencana sebagai Hukuman Allah

Bencana sebagai hukuman Allah turunkan kepada orang-orang yang berdosa dan durhaka, sebagaimana bencana yang terjadi pada kaum ‘Ad, Tsamud dan sebagainya.

Allah SWT berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ [٧:٩٦]

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’raf : 96)

Inilah yang semestinya kita hindari, mendustakan dan mengingkari ayat-ayat Allah, karena jika hal tersebut kita lakukan, boleh jadi Allah akan menghukum kita.

Dengan memperhatikan kondisi yang saat ini terjadi, di mana dosa-dosa dan maksiat telah menyebar di seluruh negeri, sementara amar makruf nahi mungkar dibungkam, wajar bila Allah menegur dan memperingatkan kita dengan bencana demi bencana yang mendera.

Maka, muhasabah nasional harus dilakukan seluruh umat, baik rakyat maupun penguasa, harus dilakukan dalam rangka mencari dan mengoreksi kesalahan-kesalahan kita.

Muhasabah ini semestinya membawa kita, baik rakyat maupun penguasa, bertobat kepada Allah dan melakukan upaya perbaikan. Bertobat dari semua dosa, bertobat dari semua kezaliman yang dilakukan, bertobat dari menerapkan hukum-hukum yang bertentangan dengan hukum Allah.

Selanjutnya, melakukan perbaikan dengan menerapkan hukum-hukum Allah seluruhnya, sehingga Allah akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi sebagaimana dinyatakan dalam QS Al A’raf ayat 96 di atas.

Yakinlah, hanya hukum Allahlah yang terbaik untuk manusia.

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

“Bukankah Allah adalah sebaik-baik pembuat hukum?” (QS At Tiin: 8). [MNews/Gz]


Catatan Kaki:

[i] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210121134008-20-596660/bnpb-185-bencana-terjadi-selama-1-21-januari-2021

[ii] https://www.republika.co.id/berita/qn5xnx483/musibah-beruntun-mui-serukan-muhasabah-nasional

2 thoughts on “Musibah Mendera, Cukupkah Muhasabah Nasional Jadi Solusi?

  • 29 Januari 2021 pada 04:54
    Permalink

    Yaa Allaah
    Hanya kepadamu kami memohon ampun dan memohon perlindungan dari segala marabahaya dan malapetaka
    Aamiin

  • 27 Januari 2021 pada 11:31
    Permalink

    Bencana yang dtng nya bertubu tubi d negeri ini hendaknya menjadi muhasabah kolektif bahwasnya kita semua sangt jauh dr aturan Allah

Tinggalkan Balasan