Ma’al Hadīts Al Syarīf: Apa yang Tersisa bagi Seorang Muslim Saat Dia Lebih Menyukai Kematian?

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, dunia ini tidak akan lenyap hingga seseorang melewati kuburan, lalu ia berhenti padanya, dan berkata, ‘Andai kata aku berada di tempat penghuni kuburan ini,’ (dia mengatakannya) bukan karena agama tetapi karena dahsyatnya cobaan.” (HR Muslim).

Tidak ada keraguan bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan cobaan. Semua yang ada di dalamnya adalah fitnah (ujian dan cobaan), kekayaannya adalah fitnah, wanitanya adalah fitnah, dan setiap nafsu dan syahwat (kesenangan) yang ada di dalamnya juga adalah fitnah.

Hal ini berlaku sepanjang masa, mulai dari Adam ‘alaihis salām sampai hari kiamat. Allah subhānahu wa ta’āla telah menghancurkan orang-orang sebelumnya dan mencabut mereka dengan banjir, longsor, dan topan, sebagai sebuah hukuman bagi mereka.

Sementara, beberapa hukuman masih melanda umat yang mulia ini, seperti beragam bencana, gempa bumi, gunung berapi, dan lainnya, semua itu menimpa setiap orang yang saleh maupun yang tidak, karena mereka semua diam terhadap berbagai kerusakan dan amoral yang terjadi.

Pada zaman Umar bin Khaththab radhiyallāhu ‘anhu, telah terjadi gempa bumi, lalu dia berdiri dan berkata kepada orang-orang, “Wahai manusia, apa ini? Betapa cepatnya ini terjadi pada kalian! Jika ini kembali terjadi, saya akan berusaha menenangkan kalian selamanya.”

Ka’ab berkata, “Sesungguhnya gempa bumi ini terjadi ketika banyak kemaksiatan dilakukan.” Sehingga Umar pun gemetar karena takut kepada Allah jalla jalāluhu bahwa apa yang terjadi adalah peringatan baginya.

Ketika yang hidup mengharapkan mati, maka ini berarti telah terjadi penderitaan dan cobaan yang sangat besar, dan ketika kematian lebih diinginkan, maka ini berarti telah terjadi bencana besar.

Siapa saja yang melihat realitas kaum muslim saat ini, maka ia melihat dengan jelas bahwa umat Islam telah diuji dengan berbagai bencana besar, mulai dari gempa bumi hingga gunung berapi; juga diuji dengan para penguasa boneka yang mengkhianati rakyatnya, mencabik-cabik kehormatannya, mengisi penjara dengan anak-anaknya, memerangi Al-Qur’an dan Islam, menghapus jihad, dan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai kekasihnya.

Lalu, apa yang tersisa setelah sepotong roti menjadi masalah utamanya? Apa yang tersisa setelah terperangkap dalam solusi nasionalisme, patriotisme, dan perpecahan? Apa yang tersisa baginya, sementara Al-Qur’an telah hilang dari kehidupannya, Khilafah telah tiada, serta tidak ada khalifah yang akan dimintai pertolongannya?

Ya, para penguasa telah teler hingga menjilat sisa minuman keras di tempat pelacuran, menjadi gila dan melakukan penindasan terhadap rakyat. Sehingga orang yang ditimpa cobaan besar itu berdiri di atas kuburan dan berkata, “Andai kata aku berada di tempat penghuni kuburan ini.

Ya Allah, segerakanlah Khilafah Rasyidah [yang kedua] yang sesuai minhaj kenabian itu tegak di tengah-tengah kami, yang akan menyatukan kaum muslim, dan mengakhiri berbagai cobaan besar yang menimpanya. Ya Allah, terangilah bumi dengan cahaya wajah-Mu yang mulia. Allāhumma āmīn. [MNews/Gz]

One thought on “Ma’al Hadīts Al Syarīf: Apa yang Tersisa bagi Seorang Muslim Saat Dia Lebih Menyukai Kematian?

Tinggalkan Balasan