“Alotnya” Harga Daging Sapi

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI — Setelah produsen tahu dan tempe mogok produksi beberapa waktu lalu, kini giliran pedagang daging sapi. Pada 20-22 Januari 2021, pedagang daging sapi di Jabodetabek serentak mogok berjualan. Hal ini disebabkan tingginya harga daging sapi.

Keterangan dari Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), faktor penyebab harga tinggi daging sapi adalah karena pihak importir sapi mendapatkan harga yang sudah sangat tinggi dari negara produsen seperti Australia.

Berdasarkan data di situs pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (IHPSN) pada Rabu (20/1), harga daging sapi kualitas 2 di seluruh Indonesia berada di kisaran Rp112.950 per kilogram. Kemudian di DKI Jakarta per Rabu (20/1) daging sapi kualitas 1 di kisaran Rp135.850 per kilogram, dan daging sapi kualitas 2 seharga Rp122.500 per kilogram (Kontan.co.id, 20/1/2021).

Lonjakan harga daging sudah terjadi sejak empat bulan terakhir dan diprediksi akan terus terjadi hingga April 2021. Kondisi ini tentu memukul perekonomian masyarakat, baik kalangan rumah tangga maupun dunia usaha. Mengingat daging sapi adalah sumber protein yang sangat dibutuhkan tubuh.

Mimpi Swasembada

Melonjaknya harga daging sapi berulang-ulang terjadi. Persoalan utamanya adalah ketergantungan negeri ini terhadap daging sapi impor. Penetapan swasembada daging sapi pada 2026 sepertinya hanya akan menjadi mimpi tanpa realisasi.

Pada 2020 lalu, kebutuhan nasional Indonesia sekitar 700.000 ton daging sapi. Namun, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sampai 400.000 ton, sehingga Indonesia masih impor 300.000 ton daging sapi.

Jika penguasa serius dengan target swasembada, seharusnya ketika terjadi kekurangan pasokan daging, yang digenjot adalah peningkatan produksi sapi lokal. Namun nyatanya, jurus impor lebih disukai.

Baca juga:  Rezim Neolib Gagal Wujudkan Kedaulatan Pangan, Kebijakan Impor Korbankan Petani Lokal

Bahkan, merespons lonjakan harga daging yang terjadi saat ini, pemerintah akan impor sapi bakalan sebanyak 502.000 ekor setara daging 112.503 ton, impor daging sapi sebesar 85.500 ton, serta impor daging sapi Brasil dan daging kerbau India dalam keadaan tertentu sebesar 100.000 ton (CNBC Indonesia, 21/1/2021).

Jadi, impor lagi, impor lagi. Kapan swasembadanya?

Pemerintah merasa cukup dengan memastikan stok daging sapi nasional mencukupi, tanpa menelisik gejolak yang ada di pasar. Penyebab aksi mogok yang dilakukan para pedagang bukan karena tidak ada pasokan daging, tapi harga daging dari negara pemasok (Australia) terlalu tinggi.

Pedagang akhirnya bagai makan buah simalakama. Jika harga jual dinaikkan, pembeli berkurang. Sedangkan jika harga tetap, penjual buntung.

Hal seperti ini membutuhkan kepekaan penguasa, cukupnya pasokan bukanlah jaminan stabilitas harga daging. Ketergantungan pada impor daging telah membuat kita tak berdaya melawan dominasi negara pemasok.

Demikianlah percaturan internasional. Negara yang kuat akan mendikte negara yang lemah. Kita akan terus didikte negara lain selama tidak mewujudkan swasembada daging sapi.

Swasembada daging sapi akan terus menjadi mimpi, jika penguasanya masih hobi impor. Padahal, Indonesia mampu mewujudkan swasembada daging sapi, asalkan penguasanya mau bekerja keras untuk menyejahterakan rakyat.

Jika bisnis impor sapi masih dikuasai para mafia yang dibekingi oknum tertentu, opsi impor pasti menjadi primadona.

Indonesia terbukti pernah mewujudkan swasembada daging pada 1990 dengan produksi ternak domestik mencapai 99,32%. Namun, terjadi penurunan terus-menerus produksi dan pasokan sapi lokal hingga 70% pada 2011. Sejak itu, pemerintah menetapkan target swasembada daging pada 2005, kemudian 2010, dan selanjutnya pada 2014, namun tak pernah terealisasi.

Baca juga:  [News] Impor Garam Sistematis, Menghalangi Swasembada

Berdasarkan data United Nations Comtrade, total volume impor daging sapi Indonesia mencatat tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir (katadata.co.id, 30/1/2020).

Hal ini menunjukkan lemahnya komitmen pemerintah dalam mewujudkan stabilitas harga daging sapi melalui upaya swasembada. Akibatnya, harga daging di Indonesia merupakan paling tinggi di ASEAN, mencapai dua kali lipat harga di Malaysia dan Singapura.

Sistem Penjamin Swasembada Penuh

Sikap penguasa yang hobi impor merupakan kezaliman. Rakyat berhak mendapat pasokan pangan yang bergizi dengan harga terjangkau dan stabil. Kecukupan pasokan pangan akan menjamin kualitas kesehatan masyarakat yang berujung pada peningkatan produktivitas rakyat.

Persoalan pangan merupakan perkara yang sangat penting. Ketahanan pangan merupakan syarat agar sebuah negara menjadi besar dan berpengaruh.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141)

Menurut Prof. Fahmi Amhar (Tabloid Mediaumat Edisi 223), ada lima prinsip pokok tentang ketahanan pangan yang dijalankan di masa Kekhilafahan Islam dan tetap relevan hingga kini.

Baca juga:  Mampukah Petani Milenial Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional?

Pertama, optimalisasi produksi, yaitu dengan mendorong peningkatan produksi sapi lokal.

Kedua, adaptasi gaya hidup, agar masyarakat tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi daging.

Ketiga, manajemen logistik, yaitu dengan memperbanyak cadangan saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan mulai berkurang.

Keempat, prediksi iklim, yaitu analisis kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Kelima, mitigasi bencana kerawanan pangan, yaitu antisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan.

Khilafah di masanya telah  mengembangkan iklim yang kondusif bagi penelitian dan pengembangan di bidang pertanian dan peternakan. Para ilmuwan diberi berbagai dukungan yang diperlukan, termasuk dana penelitian. Sebagai hasilnya, muncul aneka penemuan di bidang pangan.

Baitulmal digunakan untuk kesejahteraan rakyat, termasuk memastikan unta zakat gemuk karena mendapat rumput yang terbaik dari lahan milik negara. Khalifah Umar bin Khaththab bahkan menghukum putranya, Abdullah bin Umar ra., karena menyalahgunakan padang rumput yang seharusnya untuk unta zakat.

Dengan ketahanan pangan, Khilafah pun menjelma menjadi negara besar yang memimpin dunia. Khilafah bahkan bisa membantu negara lain yang sedang kesulitan, seperti dilakukan Khalifah Sultan Abdulmejid yang mengirimkan tiga kapal berisi makanan untuk rakyat Irlandia yang sedang krisis.

Pada abad ke-18 Khilafah Turki Utsmani pernah mengirimkan bantuan pangan kepada Amerika pascaperang melawan Inggris.

Demikianlah, di bawah Khilafah, swasembada daging bukanlah mimpi. Harga daging pun tak “a lot” lagi. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Gz]

One thought on ““Alotnya” Harga Daging Sapi

Tinggalkan Balasan