[Sirah Nabawiyah] Menyerang Yahudi Khaibar

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Dendam Yahudi memang telah menumpuk. Mulai dari terusirnya Bani Qainuqa, Bani Nadhir, terbunuhnya dua tokoh mereka, hingga pembasmian terhadap Bani Quraizhah dan sejumlah tokoh mereka yang dibunuh kaum muslimin.

Tatkala Rasulullah Saw. berhasil menyelesaikan langkah perdamaian dalam perjanjian Hudaibiyah, Yahudi Khaibar telah terisolasi dari kaum Quraisy. Strategi Negara Madinah selanjutnya adalah menyerang Yahudi Khaibar.

Berangkat Menuju Khaibar

Pada bulan Muharam tahun ketujuh Hijriah, Rasulullah Saw. bersama 1.400 sahabat yang ikut di Hudaibiyah berangkat menuju Khaibar.

Sepulang mereka dari Hudaibiyah, Allah SWT menurunkan ayat sebagai janji kemenangan dari-Nya dan perintah untuk memerangi Yahudi di Khaibar dalam firman-Nya,

Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)-mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.” (QS Al-Fath: 20)

Ulama ahli tafsir mengatakan bahwa Allah menjanjikan harta rampasan (ghanimah) yang banyak kepada kaum muslimin. Sebagai pendahuluannya adalah harta rampasan yang mereka dapat pada Perang Khaibar itu.

Adapun orang-orang Badui atau munafik, tatkala mengetahui para Sahabat akan menang dan mendapat rampasan perang, maka mereka ikut dalam peperangan tersebut supaya mendapat bagian dari ghanimah.

Allah SWT berfirman,

Orang-orang Badui yang tinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan, ‘Biarkan kami, niscaya kami mengikuti kamu.’ Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, ‘Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami; demikian Allah telah menetapkan sebelumnya.’ Mereka mengatakan, ‘Sebenarnya kamu dengki kepada kami.’ Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali.(QS Al-Fath: 15)

Demikian itu karena Allah telah mengkhususkan rampasan Perang Khaibar sebagai balasan jihad, kesabaran, dan keikhlasan para Sahabat yang ikut di Hudaibiyah saja.

Para Sahabat berangkat dengan penuh keyakinan dan besar hati terhadap janji Allah, sekalipun mereka mengetahui bahwa Khaibar merupakan perkampungan Yahudi yang paling kokoh dan kuat dengan benteng berlapis, dan persenjataan serta kesiapan perang yang mapan.

Sebelum subuh, mereka tiba di halaman Khaibar, sedang Yahudi tidak mengetahuinya. Tiba-tiba, ketika berangkat ke tempat kerja, mereka (orang-orang Yahudi) dikejutkan dengan keberadaan tentara.

Maka mereka berkata, “Ini Muhammad bersama pasukan perang.” Mereka kembali masuk ke dalam benteng dalam keadaan takut.

Rasulullah Saw. bersabda, “Allahu Akbar, binasalah Khaibar. Sesungguhnya jika kami datang di tempat musuh maka hancurlah kaum tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kaum muslimin menyerang dan mengepung benteng-benteng Yahudi, tetapi sebagian Sahabat pembawa bendera perang tidak berhasil menguasai dan mengalahkan mereka.

Hingga Rasulullah Saw. bersabda, “Besok akan kuserahkan bendera perang kepada seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintai dan dia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memenangkan kaum muslimin lewat tangannya.”

Nabi Saw. bertanya, “Di manakah Ali?” Mereka menjawab, “Dia sedang sakit mata, sekarang berada di perkemahannya.” Rasulullah Saw. mengatakan, “Panggillah dia.”

Maka, mereka memanggilnya. Ali radhiallahu ‘anhu datang dalam keadaan sakit mata (trahom), lalu Rasulullah Saw. meludahi matanya dan sembuh seketika, seakan-akan tidak pernah merasakan sakit.

Beliau menyerahkan bendera perang dan berwasiat kepadanya, “Ajaklah mereka kepada Islam sebelum engkau memerangi mereka. Sebab, demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah seorang di antara mereka lewat tanganmu, maka sungguh itu lebih baik bagimu daripada unta merah (harta bangsa Arab yang paling mewah ketika itu).” (HR Muslim)

Tawanan Perang

Dalam peperangan, ini puluhan orang dari kaum Yahudi terbunuh. Sedangkan wanita dan anak-anak ditawan. Termasuk dalam tawanan adalah Shofiyah binti Huyai yang jatuh di tangan Dihyah al-Kalbi, lalu dibeli Rasulullah Saw. darinya.

Beliau mengajaknya masuk Islam lalu menikahinya dengan mahar memerdekakannya. Adapun yang mati syahid dari kaum muslimin sebanyak belasan orang.

Tawanan Yahudi Memberi Daging Beracun

Kaum Yahudi tidak pernah dan tidak akan berhenti dari makar buruk terhadap Nabi Saw. dan Islam. Hal ini merupakan tabiat mereka, sebagaimana digambarkan Allah SWT dalam Al-Qur’an,

Mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak.” (QS Ali Imron: 112)

Tatkala Yahudi kalah dari Perang Khaibar dan beberapa kali upaya untuk membunuh Rasulullah Saw. gagal, mereka bermaksud untuk membunuh beliau dengan siasat baru.

Seorang wanita Yahudi berperan besar dalam makar buruk ini, yaitu memberi hadiah berupa menyuguhkan hidangan daging kepada Rasulullah Saw. dengan menyisipkan racun yang banyak padanya.

Tatkala Rasulullah Saw. memakan, daging tersebut mengabari beliau bahwa ia beracun. Maka beliau memuntahkannya. Adapun Bisri bin Baru radhiallahu ‘anhu, yang ikut makan bersama Rasulullah Saw, meninggal dunia karena racun tersebut.

Perdamaian

Setelah Yahudi Khaibar kalah, Nabi Saw. bermaksud untuk mengusir mereka dari Khaibar. Akan tetapi mereka memohon kepada beliau agar membiarkan mereka mengurusi pertanian dengan perjanjian bagi hasil.

Rasulullah menerima permohonan itu dengan syarat, kapan saja beliau menghendaki, beliau berhak untuk mengusir mereka. Hingga akhirnya mereka diusir Umar bin Khaththab di zaman kekhalifahannya setelah beberapa kali mereka berbuat kejahatan terhadap kaum muslimin.

Pembagian Harta Rampasan Perang

Rasulullah Saw. membagi harta rampasan perang kepada Sahabat yang ikut perang yang berjumlah 1.400 orang. Namun, seusai perang ini, para rombongan Muhajirin berjumlah 53 orang dari Habasyah yang dipimpin Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu datang dan bertemu Rasulullah Saw di Khaibar.

Beliau Saw. sangat gembira dengan kedatangan mereka. Beliau merangkul Ja’far radhiallahu ‘anhu serta menciumnya seraya bersabda, “Aku tidak mengetahui apakah aku bergembira karena menang dari Khaibar ataukah karena kedatangan rombongan Ja’far.” (Sahih Abu Dawud: 5220)

Kemudian Rasulullah Saw. memberi mereka bagian dari rampasan perang. Rasulullah Saw juga memberi bagian kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan beberapa orang dari suku Daus yang baru datang dalam keadaan Islam.

Yahudi Fadak, Wadil Quro, dan Taima Tunduk kepada Negara Madinah

Tatkala Rasulullah Saw. menguasai dan mengalahkan Khaibar, Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang Yahudi di Fadak–sebelah utara Khaibar-.

Mereka segera mengirim utusan kepada Rasulullah Saw. untuk perjanjian damai dengan menyerahkan separuh bumi Fadak kepadanya. Rasulullah Saw. menerima tawaran tersebut dan beliau khususkan untuk dirinya, sebab ia termasuk rampasan perang (fai’) yang diperoleh tanpa pertempuran.

Rasulullah Saw. juga memerangi Yahudi di Wadil Quro hingga mereka menyerah dan kalah. Mengetahui hal ini, Yahudi Taima’ juga segera berdamai dengan Rasulullah Saw. dengan membayar jizyah.

Dengan penyelesaian politis terhadap kekuasaan Khaibar dan tunduknya mereka kepada Negara Islam Madinah, Rasulullah Saw. berhasil mengamankan bagian utara Jazirah Arab hingga ke wilayah Syam.

Sebelumnya, Beliau Saw. juga telah berhasil mengamankan wilayah selatannya dengan perjanjian Hudaibiyah. Dengan demikian jalan dakwah telah terbuka, baik di kawasan jazirah Arab maupun di luar jazirah. [MNews/Rgl]

Disarikan dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan