[News] Waspada Strategi Musuh dalam Selimut pada Kepemimpinan Baru AS

MuslimahNews.com, NASIONAL — Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara khusus menyampaikan ucapan selamat kepada Joe Biden dan Kamala Harris atas pelantikan mereka sebagai Presiden ke-46 dan Wakil Presiden ke-49 Amerika Serikat.

Jokowi berharap, kemitraan strategis kedua negara dapat terus ditingkatkan. Kemitraan tersebut diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi kerja sama Indonesia dan Amerika Serikat saja, tapi juga bermanfaat untuk dunia yang lebih baik. (cnbcindonesia.com, 22/1/2021).

Harapan yang sama disampaikan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi. Ia menilai, setidaknya terdapat tiga hal yang diharapkan dari AS untuk menciptakan dunia yang lebih baik, yakni komitmen AS dalam upaya mitigasi pandemi melalui kerja sama multilateral, komitmen AS terhadap pemeliharaan perdamaian dan stabilitas di dunia dan kawasan, serta pembangunan tatanan ekonomi dunia yang kokoh dan berkelanjutan.

“Dunia saat ini membutuhkan spirit kolaborasi dan kepemimpinan global yang lebih kuat untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Dunia juga memerlukan multilateralisme yang kuat dan adil. Terkait dengan hal ini, komitmen dan kontribusi AS sangat diperlukan,” tandasnya. (mediaindonesia, 21/1/2021)

Namun, harapan ini disanggah pengamat politik muslimah, Ustazah Pratma Julia Sunjandari. Menurutnya, berlebihan jika mengharapkan AS di bawah Joe Biden bakal mampu menciptakan dunia yang lebih baik.

Apalagi berharap AS memiliki komitmen dalam mitigasi pandemi, memelihara perdamaian dan stabilitas dunia, ataupun tatanan ekonomi dunia yang kokoh dan berkelanjutan.

“Masalah dunia tidak hanya pada siapa yang menjadi presiden.  Tetapi pada tatanan yang diciptakan AS sebagai negara nomor satu,” tuturnya.

Strategi Musuh dalam Selimut

Ustazah Pratma menyampaikan, banyak pihak beranggapan style kepemimpinan Demokrat yang cenderung pluralis dan multilateral bakal memperbaiki dunia.

“Padahal, justru pendekatan yang demikian itu berbahaya, karena tidak mampu merasakan adanya strategi musuh dalam selimut,” ungkapnya.

Ia mencontohkan tentang komitmen multilateral. Itu adalah strategi lama yang telah dikembangkan negara kafir Barat demi menangguk keuntungan besar atas wilayah lain. Menurutnya, AS menipu dunia dengan mengajak mereka berkoalisi—dengan negara besar ataupun negara pengekor semacam Indonesia—melalui format kesepakatan multilateral. Tak ada bedanya apakah kesepakatan keamanan seperti NATO ataupun kesepakatan ekonomi seperti APEC, TPP, G-20, dan sebagainya.

“Kalaupun negara-negara ’kecil’ merasa diuntungkan, itu tak sebanding dengan keuntungan besar yang diperoleh AS. Berupa keuntungan materi ataupun nonmateri, seperti menguatnya demokrasi, liberalisasi, ataupun pembelaan politik dan hankam sesuai kepentingan AS,” kritiknya.

Ia menekankan, apalagi sepeninggal Trump, posisi AS babak belur. Pandemi Covid-19 tidak mampu mereka atasi bahkan memperburuk situasi AS.

Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell menyatakan ekonomi negara itu belum stabil, total utang negara melebihi kekuatan dan pendapatan ekonomi negara sebesar 102 persen, terbesar sejak 1946.

“Bagaimana AS mau ’membantu’ negara lain jika Biden masih harus minta persetujuan Kongres untuk mendapat suntikan dana $1,9 triliun untuk pemulihan ekonomi?” tanyanya retorik.

“Lalu berharap penyelesaian masalah Palestina? Calon Menlu AS yang dipilih Biden, Antony Blinken, menyatakan sejauh ini tidak berniat mencabut kebijakan Trump, termasuk masalah Palestina,” tukasnya lagi.

Ia pun menilai, untuk ASEAN dan Indonesia, posisinya hanya akan menjadi bumper AS menghadapi Cina.

“Bukan kepentingan memperkuat sentralistis blok Asia Tenggara. Itu demi mempertahankan stabilitas dan perdamaian di kawasan, terutama terkait isu Laut Cina Selatan,” tegasnya.

Permusuhan Abadi terhadap Islam

Ustazah Pratma menggarisbawahi, tidak bisa berharap pada siapa pun atau negara mana pun, terlebih kepada AS yang nyata-nyata sebagai penjajah modern atas dunia. “Bahkan terhadap  Islam, permusuhannya abadi,” cetusnya.

Biden, ujarnya, memang memberi proporsi untuk pejabat muslim dalam pemerintahannya, kemudian membatalkan perintah eksekutif Trump yang melarang muslim memasuki AS.

Hanya saja, itu semua bukan untuk kepentingan muslim, namun justru merupakan upaya tersembunyi untuk kian menjauhkan kaum muslimin sehingga tidak berhukum pada syariat Islam kafah.

“AS tahu betul, jika Islam kembali berkuasa, hancurlah AS beserta segala bentuk penjajahannya atas dunia,” tandasnya. [MNews/Ruh]

One thought on “[News] Waspada Strategi Musuh dalam Selimut pada Kepemimpinan Baru AS

  • 24 Januari 2021 pada 18:57
    Permalink

    Siapapun pemimpinny selama aturan yg d terpakan sstem demokrasi tdk akan mmbwa kebaikn bagi dunia trlebih ummat islm.yg bs mmbwa kpd kebaikan baik di dunia maupun akhirat yaitu sstem islm yaitu Khilafah.takbir (allohu akbar)

Tinggalkan Balasan