[Nafsiyah] Kapan Tibanya Saat Beristirahat?

Oleh: M. Taufik Nusa T.

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Ketika sebuah tugas yang dirasa besar dan berat sudah selesai dilakukan, ketika ketaatan demi ketaatan telah ditunaikan, ketika merasa diri telah banyak berkontribusi dalam perjuangan, tidak jarang timbul dalam pikiran seseorang, “Sekaranglah saatnya beristirahat sejenak.”

Sebaliknya, ada kalanya seseorang, ketika semua usahanya mentok, tidak membuahkan hasil, lalu menjumpai jalan yang dilalui semakin terjal dan berduri, teman perjalanan juga sudah enggan turut mendaki, lalu terlintas dalam hati, “Aku lelah dengan upaya ini, sebaiknya istirahat saja.”

Padahal, Al Hasan bin Shalih rahimahullah pernah menyatakan,

إن الشيطان ليفتح للعبد تسعة وتسعين بابا من أبواب الخير، يريد به بابا من الشر

“Sesungguhnya setan bisa (memancing dengan) membukakan 99 pintu kebajikan, agar masuk ke satu pintu keburukan yang setan inginkan.”[1]

Bisa jadi setan memang “tidak begitu” menghalang-halangi berbagai macam upaya ketaatan hingga akhirnya menghasilkan kesuksesan, namun ada ujung yang dinantinya, yang diharapkannya [si setan, ed.], semisal munculnya rasa ujub (berbangga diri) dengan melalaikan pemberi nikmat, atau yang diinginkannya adalah munculnya sikap sudah cukup sehingga selanjutnya istirahat.

Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah ditanya,

متى يجدُ العبدُ طعْمَ الراحه ؟

“Kapan seorang hamba dapat mengecap (waktu) istirahat?” Maka beliau menjawab,

عند أول قدم يضعها في الجنة

“Saat pertama kali kaki dia menginjak surga.”[2]

Imam As Syâfi’i rahimahullah juga pernah menyatakan,

طلب الراحة في الدنيا لا يصح لأهل الــمُرُوءات، فإن أحدهم لم يزل تعبان في كل زمان

“Mencari istirahat di dunia tidaklah layak bagi seorang ksatria, karena seorang ksatria senantiasa bekerja keras sepanjang zaman.”[3]

Ditanyakan kepada seorang ahli zuhud:

كيف السبيلُ ليكونَ المرءُ من صَفْوَة الله؟

“Bagaimana jalannya agar seseorang menjadi salah satu pilihan Allah?” Dia menjawab,

إذا خلع الراحةَ وأعطى المجهودَ في الطاعة

“Jika dia menanggalkan istirahat dan senantiasa bersungguh-sungguh dalam menjalani ketaatan.”[4]

Amîrul Mukminin fil Hadîts, Syu’bah bin Hajjaj Al Bashri pernah menyatakan,

لا تقعدوا فُراغًا فإن الموت يطلبكم

“Janganlah kalian duduk-duduk senggang (tanpa kegiatan), karena sesungguhnya kematian senantiasa mencari kalian.”[5]

Kadang kita lupa, sehingga bersantai ria. Lebih parah lagi kalau “beristirahat dulu” sampai batas waktu tidak ditentukan dari aktivitas menyeru kepada kebaikan, padahal waktu yang berlalu tidak mungkin bisa kembali.

Imam Abu Bakar bin ‘Ayyasy berkata,

Andai seseorang kehilangan sekeping emas, ia akan menyesal dan memikirkannya sepanjang hari. Ia mengeluh: Inna lillah, emas saya hilang. Namun belum pernah seseorang mengeluhkan, ‘Satu hari telah berlalu, apa yang telah aku lakukan dengannya?’”

Abu Bakar Al-Khatib Al-Baghdadi sering kali terlihat sedang membaca sambil berjalan, sebab ia tidak ingin membuang waktunya percuma.

Imam Abdul Wahab As Sya’rani bercerita tentang gurunya, Syeikh Zakaria Al-Anshari (w. 926 H, penulis kitab Fiqh Syafi’i; Fathul Wahâb Syarh Mihhâjut Thullâb),

“Selama dua puluh tahun aku melayaninya, belum pernah aku melihat beliau dalam kelalaian atau melakukan sesuatu yang tak berguna, baik siang ataupun malam hari. Jika seorang tamu berbicara terlalu panjang kepadanya, beliau segera berkata dengan tegas, ‘Kau telah membuang-buang waktuku.’”

Menyikapi Uzur

Kenapa sulit untuk menjadi seperti mereka? Hal paling umum yang terjadi adalah karena kita, termasuk penulis, lebih sering mencari uzur dan menjadikannya alasan agar terkesan logis, bahwa tidak mungkin bisa seperti mereka atau minimal meniru mereka.

Berikut ini beberapa teladan, bagaimana orang yang telah mendapatkan uzur syar’i, namun tetap bisa memperoleh kemuliaan yang lebih tinggi.

Abdullah bin Ummi Maktum (Abdullah bin Qais bin Zaidah bin Al-Asham) memiliki hasrat yang besar untuk ikut berperang di jalan Allah walaupun matanya buta.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Barra’, katanya, “Ketika turun ayat, لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ (‘Tidaklah sama orang-orang yang duduk di antara orang-orang mukmin).’ (QS An-Nisa 95)

Bersabdalah Nabi saw., ‘Panggillah si fulan!’ Maka, datanglah dia membawa tinta, papan, dan alkatif (penyangga), lalu sabda Nabi saw., ‘Tulislah! Tidaklah sama orang-orang yang duduk di antara orang-orang mukmin dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah,’ sedangkan di belakang Nabi ada Abdullah bin Ummi Maktum, maka dia berkata يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَا ضَرِيرٌ (wahai Rasulullah, Saya ini cacat.”[7].

Maka turunlah sebagai ganti ayat tadi,

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat.”

Walaupun ayat itu sudah diturunkan, beliau masih tetap memiliki hasrat yang tinggi untuk syahid di jalan Allah. Akhirnya Allah mengabulkan keinginan beliau untuk berjihad dan menjadi orang buta pertama mengikuti perang dalam sejarah Islam yaitu perang Al-Qadisiyah.

Anas bin Malik melihatnya membawa rayah (panji) berwarna hitam, ketika ditanyakan kepadanya, “Bukankah Allah telah memberi uzur kepadamu?”

Ia menjawab,

بَلَى! وَلَكِنِّي أُكَثِّرُ [سَوَادَ]  الْمُسْلِمِينَ بِنَفْسِي

“Ya betul, tetapi saya menginginkan dengan kehadiran saya di sini, di medan perang, paling tidak dapat menambah jumlah tentara Islam.” (Tafsir al Qurthuby, 4/266)

Dan akhirnya beliau syahid dalam satu riwayat, sedangkan dalam riwayat lain beliau wafat di Madinah.

‘Amr ibnul Jamuh, walaupun beliau orang yang sangat pincang, beliau tetap ingin terjun dalam perang Badar demi merindukan syahid. Ketika itu, anaknya melobi Rasulullah agar mencegah niat bapaknya untuk ikut jihad dan Rasulullah melarangnya.

Ketika datang seruan untuk perang Uhud, dia berkata kepada anak-anaknya, ”Kalian telah melarangku ikut dalam perang badar, maka janganlah melarangku untuk keluar dalam perang Uhud.”

Anak-anaknya menjawab, “Sesungguhnya Allah memberimu keringanan.”

Kemudian Amr bin Al Jamuh mendatangi Rasulullah dan berkata, ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak-anakku ingin menghalangiku keluar bersama engkau dalam urusan (perang) ini, demi Allah sesungguhnya aku berharap masuk surga dengan kepincanganku ini.” 

Rasulullah berkata, “Adapun engkau, Allah telah memaafkanmu (dari tidak berperang), maka tidak ada (kewajiban) jihad bagimu”. 

Dan Rasulullah berkata kepada anak-anak ‘Amr, “Tidak ada hak bagi kalian untuk mencegahnya dari (berjihad), barangkali Allah akan memberi rezeki syahid kepadanya.”

‘Amr kemudian pergi dengan pedangnya dan berdoa, “Ya Allah, karuniakan kepadaku syahadah (mati syahid), dan jangan kembalikan aku kepada keluargaku dengan kegagalan (meraih syahid).”

Akhirnya ia memang syahid dalam perang Uhud, dan Rasulullah bersabda, “Demi Zat yang diriku dalam genggamannya, sungguh aku melihatnya memasuki surga dengan kepincangannya.”[8]

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah ya Tuhanku, aku mengharap rahmat-Mu, karena itu janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, perbaikilah semua urusanku, tidak ada Tuhan selain Engkau.” (HR Abu Dawud)

Wallahu a’lam. [MNews/Ruh-Gz]

Sumber: https://mtaufiknt.wordpress.com


[1] al Muntaqa an Nafis min Talbis Iblis, hal 63

[2] القواعد الحسان في أسرار الطاعة والاستعداد لرمضان hal 26, Maktabah Syâmilah

[3] idem

[4] idem

[5] idem

[7] Dalam riwayat lain Abdullah Ibnu Ummi Maktum berkata: والله يا رسول الله لو أستطيع الجهاد لجاهدت ( demi Allah wahai Rasulullah, seandainya aku mampu berperang, niscaya aku akan berperang)

[8] Ibnul Atsiir (wafat 606 H), Usudul Ghoobah, 2/343, Maktabah Syaamilah

4 thoughts on “[Nafsiyah] Kapan Tibanya Saat Beristirahat?

Tinggalkan Balasan