Kisah Abu Qilabah (Bagian 1)

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF – Salah  seorang yang dekat dengan Nabi Muhammad saw. adalah Abu Qilabah. Selain empat sahabat Nabi, yakni Abu Bakar As Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Thalhah bin Ubaidillah, sosok Abu Qilabah merupakan seorang lelaki yang terakhir kali wafat.

Bernama lengkap Abdullah bin Zaid al-Jarmi, sepanjang hidupnya dikenal sebagai ahli ibadah. Kisah kematiannya dituturkan oleh Abdullah bin Muhammad, seperti dirangkum sebagai berikut.

Ketika terjadi suatu peperangan di daerah Syam, Abdullah yang merupakan prajurit Muslim terlepas dari rombongan dan terdampar di sebuah tanah lapang dekat pesisir. Kian hari, bekal makanannya semakin menipis, di saat dirinya tidak tahu harus ke mana. Hingga akhirnya, dia melihat satu tenda yang berdiri di atas tanah lapang.

Tanpa pikir panjang, Abdullah menghampiri tenda yang tampak kumuh itu. Dia mendapati seorang pria tua yang tidak memiliki kedua tangan dan kaki. Abdullah juga menyadari bahwa pendengaran orang tersebut tidak normal, mata rabun, dan hanya lidah yang masih bisa berbicara.

Sembunyi-sembunyi, Abdullah menyimak setiap kata yang keluar dari mulut orang tua tersebut.

“Wahai Allah, berilah petunjuk agar aku dapat terus memuji-Mu, sehingga aku dapat bersyukur atas nikmat yang Engkau berikan. Sungguh, Engkau telah melebihkan diriku atas kebanyakan manusia,” begitu ucap orang itu.

Tak dapat menahan rasa heran, Abdullah yang sebelumnya sudah mengucapkan salam berkata, ““Wahai, Tuan. Aku mendengarmu tadi berkata demikian. Dan kau baru saja menyatakan, Allah telah melebihkanmu atas banyak orang. Nikmat Allah mana yang telah engkau syukuri?”

Bapak tua itu menjawab, “Apa kau tidak melihat apa yang telah Allah lakukan padaku? Demi Allah, seandainya ada halilintar datang menghanguskan tubuhku, atau gunung-gunung menindihku, laut menenggelamkanku, dan bumi menelan tubuhku. Aku tetap bersyukur.” Lalu, orang tua itu menunjuk bibirnya.

“Aku memang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongmu. Aku bahkan tidak bisa bergerak walau bahaya bisa saja datang. Tapi, aku punya seorang anak laki-laki. Dialah yang menolongku, membantuku untuk berwudu, menyuapiku ketika lapar, dan memberiku minum saat haus,” lanjutnya.

Aneh. Abdullah bahkan tidak melihat satu orang pun dalam tenda ini. Orang tua ini seperti tahu apa yang dipikirkan Abdullah. Lantas, pemilik tenda ini menjelaskan lebih lanjut.

“Tapi, sudah tiga hari aku tidak mendengarnya. Aku kehilangan dirinya. Wahai musafir, bisa kah kau menemukannya?” ucap pemilik tenda.

Di tengah daerah pesisir pantai yang tidak ada satu orang pun. Dengan baik hati, Abdullah pun menolong orang tua tersebut. Ia mencari anak hilang itu, hingga sekian lama mencari, dia melihat pemandangan yang memilukan. Anak laki-laki yang dicari sudah tidak bernyawa, meninggal akibat diterkam hewan buas.

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Bagaimana caraku memberitahukan ini kepada orang tua itu?”

Dengan wajah terkejut ketika menemukan anak laki-laki tersebut sudah tidak bernapas, Abdullah memberanikan diri untuk menyampaikan hal ini. Bagaimanapun, orang tua itu harus tahu apa yang sudah terjadi pada anak laki-laki yang dicarinya tersebut.

Bagaimanapun juga, hanya Allah SWT-lah yang dapat menentukan nasib seseorang.

Abdullah pun memasuki tenda, ” Assalamualaikum,” ujarnya.

““Wa’alaikum salam. Engkaukah itu yang tadi menemuiku?” jawab orang tua ini.

“Ya,” kata Abdullah.

“Bagaimana pencariannya? Apakah engkau berhasil menemukan anakku?” Tanya si bapak tua.

Namun, Abdullah seperti tidak sanggup menyatakan apa yang terjadi pada anak si bapak tua ini.

“Apakah Tuan pernah mendengar kisah Nabi Ayyub as?” Abdullah mencoba untuk mulai membuka penjelasan.

“Ya, dia merupakan salah satu rasul yang mulia.”

“Apakah kau tahu bagaimana Allah SWT menguji Nabi Ayyub as. dengan harta, keluarga bahkan anak-anaknya?

“Ya, tentu saja aku tahu,” jawab orang tua ini yang heran dengan maksud obrolan ini.

“Lantas, apa kau juga tahu bagaimana Nabi Ayyub as. menyikapi cobaan-cobaan yang diberikan Allah SWT?” tanya Abdullah.

“Ia selalu bersabar, bersyukur, dan memuji Allah,” jawab orang tua tersebut.

“Bahkan, Nabi Ayyub as. pun dijauhi sahabat-sahabatnya?”

“Benar, ia pun tetap bersyukur kepada Allah SWT. Apa maksudmu menceritakan soal Nabi Ayyub AS secara tiba-tiba?” Akhirnya orang tua itu bertanya akan maksud dari perbincangan dengan tamunya.

“Aku telah menemukan anakmu. Namun sayang, saat kutemukan, dirinya sudah tidak bernapas. Jasadnya ada di antara gundukan pasir dan diterkam kawanan binatang buas. Semoga Allah SWT melipatgandakan pahala engkau yang bersabar atas musibah ini,” jelas Abdullah.

“Segala puji bagi Allah. Dia telah menciptakan bagiku keturunan yang tidak bermaksiat kepada-Nya,” jawab orang tua itu.

Selang beberapa waktu, orang tua sekaligus pemilik tenda tersebut meninggal dunia.

““Inna lillah wa inna ilaihi roji’un,” ujar Abdullah. [MNews/Juan]

Bersambung ke Bagian 2.


Sumber: kumparan

One thought on “Kisah Abu Qilabah (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan