Hukum Endorse

Oleh: K.H. M. Shiddiq Al Jawi, S.Si, M.Si.

MuslimahNews.com, FIKIH – [Fakta Endorse] Endorse dalam pengertian bahasa berasal dari Bahasa Inggris “endorsement”, yang berarti tindakan memberikan dukungan kepada seseorang atau suatu brand (merek).

Dalam pengertian istilah, endorse adalah promosi yang dilakukan produsen barang atau jasa kepada konsumen dengan menggunakan tokoh atau seleb (selebriti) terkenal yang memiliki banyak follower di medsos atau sedang hits (viral) karena suatu alasan.

Bentuk endorse ada dua, yaitu: Pertama, Paid Promote. Kedua, Paid Endorse.

Paid Promote atau biasa disingkat PP adalah promosi yang dilakukan oleh endorser (seleb/influencer) mengenai suatu produk/tempat/jasa dengan cara mem-posting materi di akun media sosialnya. Materinya sendiri sudah disiapkan oleh pihak endorsement (produsen), mulai dari foto hingga caption-nya, jadi si seleb hanya perlu mem-posting.

Sedangkan Paid Endorse atau disingkat PE adalah bentuk iklan yang foto produk dan caption-nya dipikirkan/dibuat sendiri oleh pihak endorser. Pihak endorsement akan mengirimkan barang, barang tersebut dipakai oleh si seleb, kemudian difoto dan di-like media sosial.

Karena effort-nya lebih banyak, maka harga untuk PE juga lebih mahal. Apalagi jika selebnya sangat terkenal atau sedang sering diberitakan. Durasi dari kedua postingan ini bisa bermacam-macam tergantung dari perjanjian kedua pihak, tapi umumnya mulai dari 2 jam sampai 24 jam.

Hukum Endorse

Hukum endorse pada dasarnya adalah boleh (mubah), karena untuk fakta endorse yang diterangkan di atas, dapat diterapkan hukum bolehnya ijarah, khususnya ijaratul ajiir, dalam syariat Islam, selama memenuhi segala rukun dan syaratnya.

Ijarah ajiir adalah akad untuk mendapat manfaat (jasa) antara peminta jasa (musta`jir) dengan pemberi jasa (ajiir) dengan memberikan imbalan. Dalam hal ini, pihak endorsement, yakni produsen, merupakan pihak musta`jir. Sedangkan pihak endorser, yaitu public figure adalah ajiir atau pemberi jasa.

Objek akad dalam ijaratul ajiir ini sebagai berikut:

Untuk Paid Promote, objek akadnya adalah manfaat atau jasa dari endorser untuk mem-posting iklan yang sudah dibuat oleh pihak musta`jir dalam akun-akun medsos yang dimiliki oleh pihak endorser.

Untuk Paid Endorse, objek akadnya adalah manfaat atau jasa dari endorser untuk membuat materi iklannya itu sendiri, lalu mem-posting-nya di akun-akun medsos yang dia miliki.

Hukum endorse pada dasarnya adalah boleh (mubah) dalam syariat, selama memenuhi segala rukun dan syarat dalam ijaratul ajiir. Di antara syarat-syarat yang terpenting adalah sebagai berikut:

Pertama barang atau jasa yang diendorse haruslah barang atau jasa yang dihalalkan syariat. Sebab syara’ telah mengharamkan memproduksi barang yang haram, seperti khamr, kuliner babi, bangkai, dan sebagainya. Syara’ juga telah mengharamkan berbagai jasa yang haram, seperti jasa perbankan, asuransi, pegadaian, leasing, dan sebagainya.

Maka dari itu, tindakan seorang endorser yang turut mem-posting iklan untuk barang dan jasa haram tersebut, termasuk perbuatan tolong menolong berbuat dosa (ta’awun ‘ala al itsmi), yang telah diharamkan Allah SWT,

ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

“Janganlah kamu tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran.” (QS Al Ma`idah: 2)

Kedua, cara endorser dalam meng-endorse suatu produk, baik berupa perkataan atau perbuatan, tidak boleh melanggar syariat Islam, walau produknya halal. Misalnya, menggunakan kata-kata yang berlebihan (bluffing), atau memberikan testimoni yang bersifat bohong untuk suatu produk, dan sebagainya. Atau misalnya endorser mempromosikan suatu produk dengan tidak menutup auratnya (misal endorser wanita tidak memakai kerudung), dan sebagainya.

Ketiga, jika endorse berbentuk Paid Promote, harus diketahui dengan jelas (ma’luum) durasi mem-posting iklan oleh endorser di akun-akun medsosnya, misalnya iklan akan di-posting oleh endorser dalam durasi selama 24 jam di akunnya. Demikian juga jika endorse berbentuk Paid Endorse, harus diketahui dengan jelas (ma’luum) pula apa-apa saja bentuk jasa yang dilakukan seorang endorser. Misalnya: membuat caption, membuat video, dan sebagainya.

Keempat, imbalan yang diberikan kepada endorser jika berupa suatu barang, harus berupa barang yang dihalalkan secara syariat. Tidak boleh barangnya berupa suatu barang yang diharamkan, misalnya khamr, atau kosmetik dengan bahan yang haram, atau busana yang menampakkan aurat atau membentuk tubuh (bagi wanita), dan sebagainya.

Kelima, imbalan yang diberikan kepada endorser jika berupa uang, harus jelas berapa jumlahnya (ma’lum), yaitu suatu jumlah yang diketahui nominalnya dengan jelas, misalnya Rp10 juta Rupiah. Tidak boleh memberikan imbalan berupa uang yang jumlahnya tidak jelas, atau tidak disebutkan jumlahnya pada saat akad, karena dikhawatirkan dapat menimbulkan persengketaan. Jika tidak disebutkan saat akad, atau timbul persengketaan, jumlah imbalan mengikuti imbalan pada umumnya (ajrul mitsli).

Keenam, jika yang menjadi endorser-nya adalah seorang perempuan, haram hukumnya melakukan endorse yang memanfaatkan kecantikan atau keindahan tubuh, misalnya memeragakan busana wanita, walaupun busana muslimah, atau memeragakan kosmetik dengan merias wajahnya sendiri, walaupun dari bahan yang halal. Cara endorse yang memanfaatkan kecantikan atau keindahan tubuh endorser perempuan seperti itu hukumnya haram menurut syara’.

Dalil keharamannya adalah hadis Nabi Saw. dari Rafi’ bin Rifa’ah ra, yang melarang pekerjaan wanita yang sifatnya memanfaatkan tubuh dan kecantikan wanita:

جاءَ رافعُ بنُ رفاعةَ إلى مجلِسِ الأنصارِ فقالَ : لقد نَهانا نبيُّ اللهِ صلَّى اللهِ علَيهِ  وسلَمَ اليومَ, فَذَكَرَ أشياءَ ونَهَى عن كسبِ الأمةِ إلاَّ ما عمِلَت بيدِها , وقالَ  : هَكَذا بأصابعِهِ نَحوَ الخُبزِ والغزلِ والنَّفَشِ

Rafi’ bin Rifa’ah ra datang ke majelis kaum Anshar, dia berkata, ’Sungguh Nabi Saw. telah melarang pekerjaan seorang budak wanita kecuali pekerjaan yang dikerjakan oleh tangannya, misalnya membuat roti, menenun, dan mencari rumput. (HR Abu Dawud, no. 3426; Ahmad, Al Musnad, no. 19.020. Hadis ini dinilai hadis hasan oleh Al Albani, Shahih Abu Dawud, no. 3426)

Jadi, yang dibolehkan dari wanita adalah pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya kerja fisik (seperti tukang tenun, tukang roti, dsb), yang tidak mengeksploitasi kecantikan atau tubuh wanita.

Termasuk juga yang dibolehkan adalah pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya kerja intelektual (seperti mengajar, menjadi peneliti, dosen, guru) dan sebagainya, karena pekerjaan seperti ini hanya memanfaatkan aspek intelektualitas seorang wanita, bukan memanfaatkan aspek sensualitas atau daya tarik seksual atau kecantikan seorang wanita. Wallahu a’lam. [MNews/Rgl]

3 thoughts on “Hukum Endorse

Tinggalkan Balasan