Sebagian Gambaran Nikmat Surga (Tafsir QS al-Insan[76]: 13-18) Bagian 2/2

Sambungan dari Bagian 1/2

Oleh: Ustaz Rokhmat S. Labib, M.E.I.

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN — Selain bejana, diedarkan pula kepada mereka akwâb  (piala-piala, gelas-gelas besar). Kata tersebut merupakan bentuk jamak dari kata kûb. Menurut asy-Syaukani, kata al-kûb adalah al-kûz al-‘azhîm (gelas besar) yang tidak memiliki pegangan dan lobangnya (yang  menjadi keluar air).[24]

Kedua wadah yang berisi minuman tersebut dibawa oleh para pelayan surga mengitari mereka. Imam al-Qurthubi berkata, “Para pelayan surga itu mengitari orang-orang yang berbuat kebajikan ketika mereka ingin minum dengan membawa bejan-bejana dari perak.”[25]    Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa yang berkeliling mengitari mereka adalah para pelayan surga dengan membawa bejana-bejana yang berisikan makanan terbuat dari perak, juga gelas-gelas minuman.[26]

Adapun kata qawârîr[an] merupakan bentuk jamak dari kata qârûrah yang berarti bejana tipis dari kaca yang di dalamnya terdapat minuman.[27] Sebagaimana layaknya kaca, gelas itu pun tembus pandang sehingga isinya terlihat dari luar. Kemudian disebutkan: qawârîr[an] min fidhdhah ([yaitu] kaca-kaca [yang terbuat] dari perak).

Dengan demikian gelas-gelas besar yang berisi minuman itu menggabungkan dua sifat sekaligus, yakni kaca dan perak. Menjelaskan tentang ini, para mufasir mengatakan bahwa gelas tersebut sebening kaca dan seputih perak. Artinya, beningnya sebening kaca, namun gelas atau piala itu dari perak. Di antara yang menjelaskan demikian adalah Ibnu Abbas, Mujahid, al-Hasan al-Basri, al-Qurthubi, Ibnu Katsir, al-Alusi, as-Sa’di, dan lain-lain.[28]

Menurut Ibnu Katsir, tidak disebut qawârîr kecuali terbuat dari kaca. Gelas-gelas itu terbuat dari perak, sekalipun demikian tampak transparan. Bagian dalamnya dapat terlihat dari bagian luarnya dan hal seperti ini tiada persamaannya di dunia.[29]

Kemudian disebutkan: qaddarûhâ taqdîr[an] (yang telah diukur oleh mereka dengan sebaik-baiknya). Menurut az-Zamakhsyari, mereka mengukur gelas-gelas besar itu untuk diri mereka sendiri agar ukuran dan bentuk sesuai dengan keinginan mereka. Lalu gelas-gelas itu datang sesuai dengan pengukuran mereka .[30]

Ada juga yang mengatakan bahwa dhamîr (kata ganti mereka) itu kembali kepada para pelayan yang memberikan minuman itu. Menurut asy-Syaukani, yang mengukurnya adalah para pelayan pemberi minuman yang mengitari mereka dengan ukuran yang sesuai dengan kebutuhan orang-orang yang meminumnya dari kalangan penghuni surga, tidak lebih dan tidak kurang.[31]

Ibnu Abbas berkata, “Mereka mengukurnya sepenuh telapak tangan, tidak lebih dan tidak kurang, hingga tidak menyulitkan mereka karena berat atau terlalu kecil.”[32]

Dengan demikian gelas-gelas tersebut sesuai dengan ukuran pemiliknya. Tidak lebih dan tidak kurang. Bahkan memang disediakan untuk dia dan diukur sesuai dengan selera pemiliknya. Menurut Ibnu Katsir, ini merupakan pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Abu Shalih, Qatadah, Ibnu Abza, Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair, Qatadah, Asy-Sya’bi dan Ibnu Zaid; juga dikatakan oleh Ibnu Jarir dan lainnya.[33]

Menurut Ibnu Katsir, ini menunjukkan perhatian yang sangat dan penghormatan yang tiada taranya bagi pemiliknya.[34]

Kemudian disebutkan: wa yusqawna fîhâ ka’s[an] kâna mizâjuhâ zanjabîl[an] (di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe). Ayat ini memberitakan bahwa orang-orang yang berbuat kebajikan yang menjadi penghuni surga itu diberi minuman berupa ka’s[an]. Kata ka’s[an] adalah khamr yang ada di dalam gelas. Demikian penjelasan para mufasir seperti al-Qurthubi,  asy-Syaukani, Ibnu Katsir, dan lain-lain.[35]

Dalam ayat ini diberitakan minuman mereka dicampur dengan zanjabîl (jahe). Menurut Imam al-Qurthubi dan asy-Syaukani, orang Arab sangat suka dengan minuman yang dicampur dengan jahe karena aroma wanginya. Jahe itu sendiri dapat menyegarkan lidah dan membangkitkan selera makan. Mereka pun tergiur dengan kenikmatan akhirat yang mereka yakini sangat nikmat dan lezat.[36]

Menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Kadang minuman mereka diberi campuran kafur yang rasanya sejuk dan kadang diberi campuran dengan jahe yang rasanya hangat. Dengan itu rasanya beragam. Orang-orang yang bertakwa dari kalangan ahli surga diberi minuman yang adakalanya dicampur dengan kafur dan adakalanya pula dicampur dengan jahe. Adapun bagi kaum muqarrabûn dari kalangan penduduk surga, maka minuman mereka murni tanpa campuran, seperti yang telah dikatakan oleh Qatadah dan lain-lain.”[37]

Ibnu Abbas berkata, “Semua yang disebutkan Allah SWT dalam Al-Qur’an berada di surga dan diberi nama tidak sama dengan yang ada di dunia. Jahe di surga tidak serupa dengan jahe di dunia.”[38]

Ada juga yang mengatakan bahwa al-zanjabîl merupakan sebuah nama mata air di surga. Ini diriwayatkan dari Qatadah.[39]

Kemudian dilanjutkan: ayn[an] fîhâ tusammâ salsabîl[an] (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil). Menurut Ibnu Katsir, al-zanjabîl  adalah sebuah mata air di dalam surga yang dinamai Salsabila.[40] Menurut Ikrimah, Salsabila adalah nama sebuah mata air di dalam surga. Menurut Mujahid, mata air itu dinamakan Salsabila karena arus airnya yang lancar dan deras. Menurut Qatadah, Salsabila adalah mata air yang airnya enak diminum.[41]

Demikianlah berbagai kenikmatan akan diberikan kepada penghuni surga. Sebagaimana diberitakan dalam ayat sebelumnya, mereka yang dimasukkan ke dalamnya dan menikmati berbagai kenikmatan itu adalah al-abrár, orang-orang yang berbuat kebajikan. Alhasil, siapa pun yang mendapatkan semua kenikmatan yang diberitakan ayat ini, hendaknya menjadi orang-orang yang berbuat kebajikan. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [MNews/Rgl]

Catatan kaki:

1        Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), 137; al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5 (Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 1994), 421; al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutuba al-‘0Ilmiyyah, 1995), 379.

2        Az-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29 (Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1998), 295.

3        Al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4, 379.

4        As-Sa’di, Taysìr al-Karìm al-Rahmân (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 901.

5        Ar-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30 (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 750

6        Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 137.

7        Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 102

8        Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 137.

9        Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 421

10      Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 102. Lihat juga al-Jazairi, Aysar at-Tafâsîr, vol. 5 (Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, 2003), 285.

11      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8 (tt: Dar Thayyibah, 1999), 290.

12      Al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4, 379.

13      Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 176. Penjelasan yang sama juga dikemukakan oleh al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 422 dengan tambahan: “Dikatakan al-Syaukani, “Sekalipun tidak ada matahari di sana.”

14      Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 422

15      Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 138.

16      Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 102; Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 290.

17      Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 139.

18      Al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4, 379.

19      Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 1.

20     Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 139.

21      Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 139.

22      Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 139.

23      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 291.

24      Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 422; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 140.

25      Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 140.

26      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 291.

27      Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 176.

28      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 291; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 14; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 176; al-Sa’di, Taysìr al-Karìm al-Rahmân, 901.

29      Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 103; Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 291.

30 Az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabiy, 1987), 671.

31 Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 422

32 al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 141.

33      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 291.

34      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 291.

35      Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 141; al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 423; Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 291.

36      Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 141-142; al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 423.

37      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 291-292.

38      Al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4, 380.

39      Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 178

40      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 29.

41       Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 292.

2 thoughts on “Sebagian Gambaran Nikmat Surga (Tafsir QS al-Insan[76]: 13-18) Bagian 2/2

Tinggalkan Balasan