Sebagian Gambaran Nikmat Surga (Tafsir QS al-Insan[76]: 13-18) Bagian 1/2

Oleh: Ustaz Rokhmat S. Labib, M.E.I.

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN — Allah SWT berfirman,

مُّتَّكِ‍ِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۖ لَا يَرَوۡنَ فِيهَا شَمۡسٗا وَلَا زَمۡهَرِيرٗا ١٣ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا ١٤ وَيُطَافُ عَلَيۡهِم بِ‍َٔانِيَةٖ مِّن فِضَّةٖ وَأَكۡوَابٖ كَانَتۡ قَوَارِيرَا۠ ١٥  قَوَارِيرَاْ مِن فِضَّةٖ قَدَّرُوهَا تَقۡدِيرٗا ١٦ وَيُسۡقَوۡنَ فِيهَا كَأۡسٗا كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا ١٧ عَيۡنٗا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلۡسَبِيلٗا ١٨

“Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan. Mereka tidak merasakan di dalamnya terik matahari dan tidak pula udara yang sangat dingin, Naungan (pepohonan surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan untuk dipetik dengan semudah-mudahnya. Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.  (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.” (QS al-Insan [76]: 13-18).

Dalam ayat-ayat sebelumnya telah diberitakan tentang balasan orang-orang yang melakukan kebajikan. Mereka dilindungi dari siksa dan dimasukkan ke dalam surga.

Kemudian ayat-ayat ini menggambarkan beberapa kenikmatan surga.

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman: Muttakiîna fîhá ‘alâ al-arâiki (Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan). Dhamîr al-ghâyb dalam ayat ini merujuk pada al-jannah atau surga.

Frasa fîhâ bermakna fî al-jannah (di surga).[1] Dengan demikian ayat ini memberitakan tentang keadaan para penghuni surga kelak.

Di surga mereka dalam keadaan muttakiîn (duduk-duduk santai). Menurut az-Zuhaili maknanya adalah duduk dengan tenang dan santai. Biasanya duduknya di atas satu sisi dan bersandar di atas bantal.[2]

Adapun al-arâiki merupakan bentuk jamak dari kata al-arîkah (kursi panjang atau ranjang).[3] Menurut as-Sa’di, al-aráik adalah as-surur (tempat tidur) yang dibungkus dengan tutupan atau sprei yang berhias.[4] Ini menggambarkan betapa nyaman dan nikmatnya hidup di dalam surga. Mereka bisa duduk-duduk dengan tenang dan santai seraya menikmati berbagai kesenangan lainnya.

Kemudian disebutkan: Lâ yarawna fîhâ syams[an] wa lâ zamharî[an] (Mereka tidak merasakan di dalamnya [terik] matahari dan tidak pula udara yang amat dingin).  Para penghuni surga itu tidak merasakan udara yang sangat panas atau sangat dingin. Menurut ar-Razi, udaranya sedang antara panas dan dingin.[5]

Menurut al-Qurthubi, kata syams[an] (matahari) di sini bermakna: syiddat harr ka harr asy-syams (udara sangat panas seperti panasnya matahari).[6] Ath-Thabari berkata, “Mereka tidak melihat matahari yang panasnya dapat menyakiti mereka.”[7]

Kata zamharî[an] berarti bard[an[ mufrith[an] (dingin yang ekstrem).[8] Menurut asy-Syaukani, maknanya adalah asyadd al-bard (dingin yang luar biasa).[9] Ath-Thabari memaknai asyadd al-bard (dingin yang luar biasa) yang diinginnya menyakiti mereka.[10]

Ibnu Katsir juga berkata, “Di tempat mereka tidak ada panas yang terik dan tidak pula dingin yang menusuk tulang, melainkan cuacanya sedang dan selamanya demikian. Mereka tidak mau berpindah tempat darinya untuk selama-lamanya. Demikian sebagaimana diberitakan dalam QS al-Kahfi [18]: 108).[11]

Kemudian Allah SWT berfirman: wa dâniyat[an] ‘alayhim zhilâluhâ (dan naungan [pepohonan surga itu] dekat di atas mereka). Kata azh-zhilâl berarti naungan. Dalam konteks ayat ini, naungan yang dimaksud adalah zhilâl asy-asyjâr (naungan pepohonan).[12] Adapun dâniyah berarti qarîbah (dekat). Al-Alusi berkata, “Naungan pepohonan surga itu sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebajikan itu; menaungi mereka sebagai tambahan kenikmatan atas mereka.”[13] Muqatil berkata, “Pohon-pohonnya sangat dekat dengan mereka.”[14]

Imam al-Qurthubi berkata, “Naungan pepohonan di surga sangat dekat dengan al-abrâr (orang-orang yang melakukan kebajikan). Naungan itu menjadi naungan  di atas mereka sebagai tambahan kenikmatan bagi mereka meskipun tidak ada matahari dan bulan.”[15]

Penjelasan senada juga dikemukakan oleh Ibnu Jarir al-Thabari, Ibnu Katsir, dan lain-lain.[16]

Lalu dilanjutkan: wa dzullilat quthûhâ tadzlîl[an] (dan buahnya dimudahkan untuk dipetik semudah-mudahnya). Kata al-quthûf bermakna ats-tsimâr (buah-buahan). Bentuk tunggalnya adalah qithf. Dinamakan demikian karena buah tersebut yuqthafu (dipetik). Sebagaimana juga benda tersebut disebut al-janâ karena yujnâ (dipetik, dipanen).[17]

Adapun kata dzullilat berarti sukhkhirat wa qurrubat (ditundukkan dan didekatkan).[18] Al-Alusi berkata, “Ditundukkan buah-buahnya untuk mendapatkannya dan dimudahkan untuk mengambilnya.” Kata tersebut berasal dari kata adz-dzull yang merupakan lawan dari kata al-shu’ûbah (kesulitan).[19]

Kata tadzlîl[an]  yang merupakan bentuk mashdar dari kata dzullilat bermakna taskhîr[an] (menundukkan). Kata tersebut berguna untuk mengukuhkan kemudahan yang disebutkan kata sebelumnya.[20]

Dengan demikian ayat ini memberitakan bahwa buah-buahan yang ada di surga itu dapat dipetik dengan sangat mudah. Menurut Qatadah, buah-buah tersebut dapat dipetik oleh orang yang berdiri, duduk, dan berbaring. Tidak tertahan tangan-tangan mereka karena jarak yang jauh dan juga duri.[21]

Mujahid juga berkata, “Apabila seseorang berdiri, pohon itu meninggi untuk dirinya. Apabila dia duduk, pohon itu miring kepada dirinya. Ketika dia berbaring, pohon itu mendekati dirinya. Lalu dia pun dapat memakannya.”[22]

Penjelasan senada juga dikemukakan Ibnu Katsir. Mufasir tersebut berkata, “Manakala seseorang dari mereka ingin memetik buahnya, maka buahnya itu mendekat kepada dia dari rantingnya yang tinggi seakan-akan buah itu tunduk patuh kepadanya. Ini seperti yang digambarkan dalam QS ar-Rahman [55]: 54 dan al-Haqqah [69]: 23).[23]

Kemudian Allah SWT berfirman: wa yuthâfu ‘alayhim bi âniyah min fidhhah wa akwâb kânat qawârîr[an] (dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca).

Digambarkan bahwa âniyah itu secara spesifik min fidhhah (dari perak). Meskipun demikian, bukan berarti bejana untuk mereka tidak ada yang terbuat dari emas. Adanya bejana dari emas dapat dipahami dari firman-Nya yang lain (Lihat: QS al-Zukhruf [43]: 71). [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/2

One thought on “Sebagian Gambaran Nikmat Surga (Tafsir QS al-Insan[76]: 13-18) Bagian 1/2

Tinggalkan Balasan