Adakah Penularan Penyakit Itu? (Telaah Hadis)

Oleh: Ustaz Yuana Ryan Tresna

MuslimahNews.com, TSAQAFAH — Hadis 1: فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ

“Larilah dari penyakit kusta sebagaimana kamu lari dari singa.” (HR Bukhari).

Hadis 2: لاَ يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

“Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit.” (HR Bukhari dan Muslim)

Lantas apa maksud tidak ada penularan?

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

“Tidak ada penyakit menular, tidak ada dampak dari thiyarah (anggapan sial), tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada kesialan para bulan Safar.” (HR Bukhari dan Muslim)

Terdapat pula hadis yang menggabungkan dua hadis yang seakan bertentangan,

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ

“Tidak ada penyakit menular, tidak ada dampak dari thiyarah, tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada kesialan para bulan Safar. Dan larilah dari penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari singa.” (HR Bukhari).

Pendapat Terpilih 1:

Penyakit tidak dapat menular dengan sendirinya. Namun Allah ta’ala jadikan penularan penyakit itu ada sebab-sebabnya, di antaranya adalah bercampurnya dan bergaulnya orang yang sakit dengan orang yang sehat, sehingga orang yang sehat tertular. Dan ada sebab-sebab lain yang menyebabkan penularan penyakit (kontak fisik, udara, pandangan, dll).

Sehingga boleh mengatakan, “Si Fulan tertular penyakit dari si Alan. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Shalah.” (lihat Ulumul Hadis, hlm. 257).

Pendapat Terpilih 2:

“Laa” pada hadis di atas merupakan “nafiy” (penegasian) yang bermakna “nahiy” (larangan) menyebarkan penyakit antarsesama manusia. Lafaz “laa” dengan makna nahiy semacam ini dapat kita jumpai dalam hadis lain yakni,

لا ضرر ولا ضرار

Pada hadis tersebut “laa” bermakna nahiy (larangan).

Artinya?

1. Pada level keimanan, seorang wajib mengimani bahwa sakit datangnya dari Allah. Adapun penularan adalah kondisi (hal) yang kadang terjadi dan kadang tidak. Ini tentang bahasan سبب (sebab) dan حالة (kondisi);

2. Lantas apa yang harus kita lakukan? Pada tataran syariat, kita wajib melakukan ikhtiar maksimal untuk menghindari dari wabah penyakit dan tidak menimpakan dharar kepada orang lain.

Menjaga imunitas, social distancing, 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan), bahkan sampai karantina wilayah (lockdown), adalah bentuk ikhtiar tersebut. Di antara ikhtiar tersebut sudah dipraktikkan oleh para sahabat dan tabiin;

3. Hal yang tak kalah penting adalah melakukan kontrol kepada penguasa, dan memberikan koreksi dalam buruknya penanganan (kebijakan) terhadap penyebaran wabah penyakit yang membahayakan rakyatnya. Semoga Allah menjaga kita semua.

Saat terjadi wabah, kita harus sama-sama peduli.

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ قَالَ: «لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ»حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي المُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا.

Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan membahayakan diri dan membahayakan orang lain.”

(HR Ibnu Majah, no. 2340; al-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya secara musnad, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain)

Oleh karena itu,

1. Penyakit saat sudah menjadi wabah akan mengakibatkan bahaya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain jika tidak mengikuti protokol kesehatan; Selain disiplin menjalankan protokol kesehatan, vaksin adalah salah satu cara (ikhtiar) untuk menurunkan atau menghentikan wabah penyakit;

3. Vaksin sebagai bagian dari pengobatan bukanlah sebuah kewajiban, namun di saat wabah, ada aspek lain yang harus diperhatikan, di mana kita haram menimbulkan dampak bahaya kepada orang lain;

4. Ingat, seseorang yang merasa sehat belum tentu tidak ada virus yang dapat menularkan penyakit. Orang “sehat” yang membawa virus bisa lebih berbahaya dari pada orang sakit yang terdampak langsung, karena ia dengan bebas—karena merasa sehat—bisa menyebarkan kepada yang lain.

Adapun terkait dengan layak tidaknya vaksin yang ada saat ini, maka bertanyalah kepada ahlinya yang amanah, seperti dokter ahli vaksin, ahli virus, atau biologi molekuler, otoritas obat dan makanan dan majelis ulama.

Hal itu agar kita mendapatkan informasi akurat tentang kerja ilmiah vaksin, kemanjuran, keamanan, dan kehalalannya. Wallaahu a’lam. [MNews/Juan]

One thought on “Adakah Penularan Penyakit Itu? (Telaah Hadis)

  • 22 Januari 2021 pada 09:03
    Permalink

    Subhanallah,tentu vaksin yang hendak divaksin kepada masyarakat harus lah diuji kehalalannya terlebih dahulu serta dampak sesudahnya.

Tinggalkan Balasan