[Sirah Nabawiyah] Perjanjian Hudaibiyah

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara kaum muslimin dengan kafir Quraisy Makkah. Perjanjian ini terjadi pada tahun ke-6 Hijriah bulan Zulkaidah. Pihak Quraisy mengirim Suhail bin Amru  sebagai wakil mereka dalam perjanjian tersebut.

Isi Perjanjian Hudaibiyah

Pertama, gencatan senjata selama 10 tahun. Tiada permusuhan dan tindakan buruk terhadap masing-masing dari kedua belah pihak selama masa tersebut.

Kedua, siapa yang datang dari kaum musyrik kepada Nabi, tanpa izin keluarganya, harus dikembalikan ke Makkah, tetapi bila ada di antara kaum muslim yang berbalik dan mendatangi kaum musyrik, maka ia tidak akan dikembalikan.

Ketiga, diperkenankan siapa saja di antara suku-suku Arab untuk mengikat perjanjian damai dan menggabungkan diri kepada salah satu dari kedua pihak. Ketika itu, suku Khuza’ah menjalin kerja sama dan mengikat perjanjian pertahanan bersama dengan Nabi Muhammad Saw. dan Bani Bakar memihak kaum musyrik.

Keempat, tahun ini Nabi Muhammad Saw. dan rombongan belum diperkenankan memasuki Makkah. Namun, tahun depan diperbolehkan dengan syarat hanya bermukim tiga hari tanpa membawa senjata kecuali pedang yang tidak dihunus.

Kelima, perjanjian ini diikat atas dasar ketulusan dan kesediaan penuh untuk melaksanakannya, tanpa penipuan atau penyelewengan.

Sikap Umar Bin Khaththab Radhiyallahu anhu

Di antara sahabat yang tidak bisa menerima isi perjanjian ini adalah Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu. Umar menceritakan sendiri bagaimana sikapnya saat mengetahui isi perjanjian ini.

Beliau Radhiyallahu anhu datang menghadap Rasûlullâh Saw. dan berkata, “Bukankah Engkau benar seorang Nabi Allah?”

Rasulullah Saw.  menjawab, “Tentu.” Aku (Umar Radhiyallahu anhu) bertanya, ”Bukankah kita di atas kebenaran sementara musuh berada di atas kebatilan?” Beliau  Saw. menjawab, “Tentu.

Aku bertanya, “Kalau begitu, kenapa kita memberikan kerendahan pada agama kita?” Rasulullah Saw.  menjawab, “Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah, dan Aku tidak akan mendurhakai-Nya dan Dialah penolongku.

Aku bertanya, “Bukankah engkau telah mengatakan bahwa kita akan mendatangi Ka’bah kemudian kita melakukan ibadah tawaf di sana?” Rasulullah Saw. menjawab, “Benar, (akan tetapi) apakah aku mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatanginya pada tahun ini?

Aku menjawab, “Tidak!” Rasulullah Saw. bersabda, ” Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan melakukan tawaf.” Dan Umar mendatangi Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan mengutarakan perkataan yang sama seperti yang diutarakan kepada Rasulullah Saw.

Kemudian Abu Bakar Radhiyallahu anhu mengingatkan Umar, “Sesungguhnya ia adalah benar-benar utusan Allâh dan dia tidak sedang menyelisihi Rabb-nya dan Dialah penolongnya, patuhilah perintahnya! Demi Allâh Azza wa Jalla sesungguhnya ia di atas kebenaran.

Ketika Umar Radhiyallahu anhu menyadari kesalahannya ini, beliau merasakan penyesalan mendalam dalam hatinya.

Sehingga sejak saat itu, Umar Radhiyallahu anhu memperbanyak ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla berharap keburukannya itu bisa terhapus dan digantikan dengan kebaikan.

Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Aku terus berpuasa, bersedekah dan memerdekakan budak (sebagai tebusan) dari apa yang telah aku perbuat, karena aku merasa cemas terhadap ucapan yang pernah aku ucapkan kala itu, sehingga aku berhadap itu menjadi kebaikan

Kembali ke Madinah

Ketika Rasulullah Saw. memerintahkan para sahabat untuk menyembelih al-hadyu (hewan kurban) dan menggundul rambutnya, tidak ada satu pun dari mereka yang beranjak melaksanakan perintah tersebut.

Kemudian Rasulullah Saw. masuk bertemu Ummu Salamah Radhiyallahu anha dan beliau Saw. menceritakan apa yang terjadi pada kaum muslimin. Ummu Salamah menyarankan Rasulullah Saw.  agar memulai apa yang beliau inginkan. Rasulullah Saw. mendengar saran Ummu Salamah dan melakukannya, maka sontak para sahabat berdiri dan menyembelih serta mereka saling menggundul rambut satu sama lain.

Para sahabat yakin bahwa perjanjian damai yang telah dilakukan oleh Rasulullah Saw. adalah yang dicintai dan diridai oleh Allah SWT. Setelah mereka selesai bertahalul dan menyembelih kurbannya, mereka pun segera kembali ke Madinah.

Perjanjian Hudaibiyah adalah Sebuah Kemenangan

Di tengah perjalanan pulang ke Madinah, turunlah firman Allah,

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. (QS Al Fath : 1-2)

Kemudian Allah SWT juga berfirman,

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya yaitu bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insyaallah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (QS Al Fath: 27)

Adanya gencatan senjata dengan kafir Quraisy memberikan keleluasaan bagi Negara Islam Madinah untuk melakukan gerakan politik dan militer ke berbagai tempat di seluruh penjuru Jazirah Arab. Di samping itu gencatan senjata  juga akan lebih memudahkan Negara Islam Madinah untuk menghadapi Yahudi Khaibar nantinya.

Perjanjian Hudaibiyah ini juga membangkitkan opini umum bahwa kaum kafir Quraisy Makkah telah mencegah orang-orang untuk mengunjungi dan mengagungkan Baitullah. Wallahua’lam bishshawab. [MNews/Rgl]

Sumber:

  1. Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyur Rahman AlMubarakfury, Pustaka AlKautsar
  2. Sirah Nabawiyah, sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al AzharPress

2 thoughts on “[Sirah Nabawiyah] Perjanjian Hudaibiyah

  • 26 Januari 2021 pada 15:35
    Permalink

    Wahh… MaasyaAllah
    Terima Kasih saudariku telah bersedia meluangkan waktumu untuk berbagi ilmu…
    semoga kita semua diberikan keberkahan dan perlindungan-Nya.
    Aamiin

Tinggalkan Balasan